PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Khawatir


__ADS_3

Keesokan harinya, Vita ingin kembali datang menemui sang calon suami. Bermaksud mengajak pria tersebut memeriksakan kesuburan mereka masing-masing. Bukan bermaksud apa-apa. Hanya ingin mengantisipasi apa yang mungkin akan terjadi.


Vita hanya tidak ingin mengecewakan atau dikecewakan. Oleh sebab itu, ia ingin Luis juga legowo menerima usulnya ini. Mau dengan suka rela mengikuti sarannya untuk melakukan tes kesuburan. Siapa tahu dengan menempuh jalan ini, kedepannya masalah yang akan mereka hadapi bisa segera teratasi dengan bukti yang mereka miliki.


Wajar jika kekhawatiran itu hadir, sebab syarat yang diajukan pihak Luis seperti memaksanya berpisah secara paksa. Hanya saja mereka menggunakan metode yang bisa dibilang diperhalus. Namun niatnya tetap sama, yaitu memisahkannya dari pria yang telah ia pilih sebagai imamnya.


Sayangnya, langkah Vita terhenti saat mendapatkan pesan dari sang kakak ipar, bahwa keponakannya sudah lahir. Dengan cepat, Vita pun segera membalas pesan itu dengan panggilan telepon. Agar lebih leluasa berbicara.


"Hallo, Bang! Apa kabar?" sapa Vita dengan senyum bahagianya.


"Abang baik, keponakanmu juga sudah lahir. Tapi Kakakmu...." jawab Juan, terdengar berat.


"Kakak? Kakak kenapa, Bang?" tanya Vita gugup.

__ADS_1


"Kakakmu belum sadar, Vit. Abang nggak tahu mesti ngapain," ucap Juan dengan suara seraknya. Terdengar jelas kekhawatiran itu dari getaran suara yang Vita jelas.


"Kok bisa, Bang! Bukankah kakak baik-baik saja," ucap Vita tak percaya.


"Iya, kakakmu stres soal Berliana. Entahlah, Vit. Kenapa keluarga Zein bisa mengusik masalah ini? Udahlah, sebaiknya kita jangan perpanjang lagi masalah ini. Semoga saja, Zein dan keluarganya tidak lagi mempermasalahkan soal Berliana. Kasihan anak itu nggak tahu apa-apa nanti malah tertekan!" jawab Juan hati-hati. Sebenarnya dia juga lelah, tak ingin memperpanjang masalah ini lebih jauh tapi entah menyapa ia juga lelah jika diminta tinggal diam terus.


"Sabar, ya Bang. Semua pasti ada jalannya." Terdengar suara tarikan nafas Vita. Sepertinya ia juga tak habis pikir dengan apa yang telah keluarga Zein lakukan pada keluarganya.


"Abang selalu berusaha sabar Vit. Apa lagi ini menyangkut masa depan Berliana. Abang nggak mau nantinya anak itu trauma dengan perseteruan ini," jawab Juan tegas.


"Aamiin, Vit. Semoga Tuhan juga memberikan kebahagiaan yang layak untukmu dan juga Luis. Maaf, Abang nggak bisa lama-lama ngobrolnya. Abang mesti memantau kakakmu. Do'ain dia cepet sadar ya Vit." Juan pun terlihat menghela napas dalam-dalam. Sepertinya apa yang sedang ia jalani saat ini adalah masa terberat dalam hidupnya.


"Abang sabar ya, Insya Allah sore ini Vita terbang ke sana, Bang. Siapa tahu kalo kita ngumpul, bisa membuat kakak semangat," ucap Vita lagi.

__ADS_1


Juan mengiyakan keinginan baik sang adik. Karena itu juga salah satu ide yang bisa dipakai untuk membangkitkan semangat Stella agar segera bangun dari tidurnya. Agar orang-orang yang ada di sekitarnya tidak lagi khawatir.


Selepas berbicara dengan sang kakak ipar, Vita pun kembali melanjutkan langkahnya. Berniat menemuia sang kekasih ke tempat yang telah mereka sepakati.


***


Di sisi lain ada seorang wanita yang terlihat sangat khawatir karena suami tercintanya tak kunjung kembali.


Beberapa jam yang lalu, ia mengatakan bahwa dia sudah dalam perjalanan pulang. Tetapi ini sudah dua jam dia menunggu, tetap tak bisa di hubungi. Membuat sang wanita gelisah.


Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel milik sang suami, namun selalu operator yang menjawab panggilan teleponnya. Selalu di luar jangkauan.


"Kamu ke mana sih, Fi? Kenapa nggak kirim kabar? Kenapa nggak bisa dihubungi?" tanya Safira pada ponsel yang kini ia pegang.

__ADS_1


Tak sampai di situ, wanita ayu yang selalu menjaga penampilannya ini juga terlihat tak mau diam. Ia sering menilik jendela rumahnya, memastikan sang suami akan segera kembali. Namun sayang, sampai terdengar suara adzan subuh Lutfi belum jua kembali. Membuat Safira semakin risau dan cemas.


Bersambung...


__ADS_2