
Stella terduduk lemas ketika pria jahat itu telah pergi meninggalkan ruangan ini. Rasanya saat ini jiwa dan raga Stella serasa amat sangat lelah. Seperti baru kembali ke medan perang. Zein adalah p nyebabnya. Penyebab terkuras nya tenanga wanita ayu ini.
Stella tertegun shock. Diam. Kembali seperti ketika ia merasa tertekan. Juan yang paham akan hal itu tentu saja langsung bertindak cepat. Dipeluknya wanita cantik ini. Agar jangan sampai terhanyut dalam rasa ketakutannya.
"Mam, bicaralah. Keluarkan apa yang ada dalam pikiranmu. Jangan kamu tahan! Aku nggak mau kamu memendam ketakutanmu sendiri. Ada aku, Sayang. Suamimu yang siap mendengarkan apapun yang kamu rasakan!" pinta Juan sambil mengelus dan sesekali menciun pipi Stella. Namun sayang Stella masih saja diam. Diam terpaku oleh keadaan yang belum lama ia lalui.
"Ste, jangan seperti ini. Ingat Berliana kita, Sayang. Dia membutuhkanmu. Kalau kamu begini, bagaimana dengan kami. Hemm," ucap Juan berusaha menyadarkan Stella. Berusaha membuat wanita ini kembali dalam fokusnya. Namun Stella masih diam. Masih belum merespon apa yang Juan katakan.
"Ste, kalau kamu nggak mau ngomong, aku marah. Aku serius!" Juan mulai hilang kesabaran. Sebab Stella benar-benar tak mendengarkannya. Wanita ini tak mengindahkan ucapannya. Dia masih diam. Jangankan mulut berbicara, mata berkedip saja tidak. Stella benar-benar kembali ke masa di mana pertama kali Juan menemukannya.
"Ste, jangan seperti ini!" bisik Juan lagi. Tak sanggup membuat Stella tersadar dari lamunannya. Juan pun memeluk wanita ini. Menciumnya. Menggelus punggungnya. Berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan kesadaran wanita ini.
Tentu saja, keadaan ini sukses membuat Juan dan Gani yang ada di sana ketakutan. Mereka berdua gugup. Stella berhasil membuat kedua pria itu terpenjara dalam ketakutan.
__ADS_1
"Tolong hubungi Steven, Gan. Aku nggak bisa lagi membuat wanita ini sadar," pinta Juan pada Gani. Dengan cepat sangat asisten pu menghubungi psikiater yang menangani Stella selama ini.
Namun ketika Gani hendak hendak menghubungi dokter tersebut, Stella langsung mengedipkan matanya. "Nggak usah, aku nggak pa-pa," ucap Stella lirih.
Juan dan Gani pun bernapas lega. "Astaga Mam, kamu membuatku hampir mati." Juan kembali memeluk Stella
"Aku mau pulang," pinta Stella lirih. Kali ini Juan tak meminta Gani untuk membawa Stella pulang. Tetapi dirinya sendiri yang akan membawa wanita ini kembali ke rumah.
***
Di sudut ruang yang lain ada Zein yang menangis seperti anak kecil. Menyesali perbuatannya. Menyesali apa yang pernah ia lakukan. Pria ini menangis di bawah guyuran shower yang ada di kamar hotelnya. Mencoba meredan rasa sakit yang diderita oleh hatinya.
Pertanyaan demi pertanyaan pun hadir menyerbu relung hatinya. Mengapa ini harus terjadi padanya. Seandainya pemikiran tentang sesuatu yang konyol itu tidak ia yakini. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Nasi telah menjadi bubur. Tak mungkin lagi ia bisa mengubahnya. Mau sekeras apapun berusaha.
__ADS_1
Stella telah memilih. Tak mungkin juga baginya untuk tetap memaksa. Sebab, Stella sudah mengatakan bahwa hatinya kini milik pria lain. Pria yang telah menyelamatkannya waktu itu.
Hanya kata andai dan andai yang berputar di otaknya kali ini. Andai dia tidak keras kepala. Andai saat itu dia bisa meredam emosinya. Andai dia lebih bersabar dan mencari tahu terlebih dahulu tentang apa yang terjadi, mungkin semuanya bisa ia selamatkan. Mungkin saat ini mereka bisa bahagia.
Zein kembali menangis dalam diam. Guyuran air yang jatuh dari shower nyatanya tak memberikan efek apapun padanya. Nyatanya hatinya masih saja dilema. Nyatanya pikirannya masih saja kalut. Saat ini, bisa di katakan Zein telah tenggelam dalam kesalahan yang ia lakukan. Tenggelam dalam sungai penyesalan yang dalam.
Sayangnya, belum usai Zein bergelut dengan nestapa. Tanpa pria ini sadari, ternyata ada masalah besar yang menantinya di Jakarta. Hadir masalah baru yang lebih rumit dari masalah percintaannya.
Perusahaan yang ia pimpin kini dalam kehancuran. Zein tidak menyadari bahwa asisten barunya ternyata adalah penghianat. Dia adalah kata-kata perusahaan lain yang menginginkan perusahaan tersebut.
Semua rahasia telah disalin oleh Arya dan diserahkan kepada perusahaan yang membayarnya untuk melakukan itu. Kenyataan ini tentu saja membuat ayah kandung Zein, selaku pendiri merasa tertipu. Ia pun murka dan kini meminta seseorang untuk menjemput pria bodoh itu agar kembali ke Jakarta dan menjelaskan semua masalah ini kepadanya.
Bersambung....
__ADS_1