PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Rasa yang Terlinggal


__ADS_3

Di sisi lain, hujan deras mengguyur dua sejoli yang saat ini terjebak macet. Mereka tak bisa maju maupun balik arah. Di depan mereka ada kecelakaan. Sedangkan di belakang dipenuhi kendaraan yang mengantri.


"Fi, apakah masih lama?" tanya Safira yang saat ini sudah mengigil kedinginan.


"Nggak tahu, Bu. Sepertinya di depan ada kecelakaan," jawab Lutfi dengan suara agak meninggi. Karena hujan terlalu deras.


Merasakan tubuh Safira mengigil, Lutfi pun segera mengajak Safira turun. Pria ini segera melepaskan jaketnya dan juga helm yang ia pakai untuk melindungi Safira. Sedangkan wanita cantik ini tidak menolak sebab ia terlanjur mengigil kedinginan.


"Maaf ya, Bu. Maafkan aku," ucap Lutfi. Tanpa berpikir macam-macam, pria ini pun langsung memeluk wanita yang seharian ini telah mengorbankan waktunya untuknya dan bayinya.


"Yuk, naik lagi. Aku akan cari jalan tercepat supaya kita cepat sampai rumah," ucap Lutfi sembari membantu Safira naik ke atas motornya.


Beruntung ketika mereka naik lagi di atas motor, kemacetan telah terurai. Sehingga kendaraan yang mereka tumpangi bisa kembali melaju.


Safira yang tak terbiasa terkena hujan ditambah lagi angin malam, tentu saja langsung menggigil membuat Lutfi sedikit takut. Tanpa berpikir macam-macam, Lutfi langsung menarik kedua tangan Safira untuk memeluknya. Agar ia tetap hangat jika menempel padanya.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka pun sampai di kediaman Safira. Pelan-pelan, Lutfi turun terlebih dahulu, barulah ia membantu wanita yang kini bibirnya mulai membiru karena kedinginan. Lutfi segera membopong Safira dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Beruntung semua penghuni rumah sudah tidur, sehingga aksinya tidak diketahui oleh siapapun.

__ADS_1


Setelah sampai di depan kamar Safira, pria ini langsung menurunkan wanita itu dan memberinya pesan.


"Langsung mandi pakek air hangat ya, pakek baju hangat. Aku akan menbuatkan minuman jahe untukmu. Sudah sekarang masuk!" ucap Lutfi.


Safira mengangguk. Tanpa berucap apa-apa lagi, Safira pun masuk ke dalam. Mandi dengan air hangat dan memakai baju hangat. Sesuai apa yang Lutfi katakan.


Sedangkan Lutfi langsung berlari ke kamar yang tersedia untuknya di rumah ini. Mandi dan langsung mengangganti bajunya. Memasak air untuk membuatkan susu jahe untuk sang majikan. Tak lupa ia juga mengepel lantai bekasnya jejak kakinya. Tentu saja, ia tak ingin menimbulkan kecurigaan orang rumah ini.


Selepas mengeringkan lantai yang basah, Lutfi kembali ke dapur dan membuatkan minum untuk tuan putrinya.


Safira yang mengerti situasi, ia tak lantas berdiam diri di kamar. Ia pun menunggu Lutfi di ruang tamu. Sembari memakai baju hangat masih dilapisi dengan selimut


"Makasih," ucap Safira sambil menerima segelas susu jahe panas tersebut. Sedangkan Lutfi hanya tersenyum sekilas.


"Maaf aku merepotkanmu," ucap Safira setelah mencicip minuman yang dibuatkan Lutfi untuknya.


"Nggak pa-pa, Bu. Justru saya yang minta maaf karena telah menyusahkan anda," balas Lutfi, kembali merasa kurang nyaman.


"Nggak lah, aku ikhlas kok. Aku juga suka. Kamu tenang aja. Kamu nggak bikin minum? " Safira kembali ia menenguk minuman yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Tidak, Bu. Saya mau pamit, saya harus kembali ke rumah sakit," ucap Lutfi bermaksud berpamitan.


"Oh, ya udah. Udah nggak hujan kan? Tapi jalanan licin, Fi. Kamu bawa mobilku aja," ucap Safira menawarkan.


"Ngga pa-pa, Bu. Saya naik motor aja. Biar lebih cepat." Lutfi bersiap-siap beranjak dari tempat duduknya. Namun, ia seperti ragu meninggalkan tempat ini. Entahlah, ia merasa ada sesuatu yang tertinggal.


Suasana kembali kaku. Mereka berdua terlihat sama-sama salah tingkah. Lutfi ingin mengatakan sesuatu tapi lupa. Sedangkan Safira ingin melarang, tapi tak tahu bagaimana cara mengungkapkan larangan tersebut.


Tak ingin berlama-lama tenggelam dalam jurang kegugupan, akhirnya Lutfi pun memutuskan untuk benar-benar pergi dari tempat di mana ia masih menginginkan kebersamaan. Tapi rikuh, tapi malu, tapi gengsi. Semua bercampur aduk tanpa bisa ia bedakan.


***


Di lain pihak, ada seorang gadis yang tak bisa menghentikan air matanya. Ingin rasanya ia memaki Zein, agar tak datang lagi kehadapannya. Ingin rasanya ia memarahi pria itu agar tak lagi datang dalam bentuk apapun.


Ya, begitulah Vita. Menangis karena sedang berusaha melawan keinginan hatinya yang menurutnya bodoh. Sangat-sangat bodoh.


Tak ingin tenggelam dalam kegalauan, Vita pun mengambil air wudhu dan mencurahkan isi hatinya kepada Rob nya... Pada Dia, pemilik semua hati. Vita meminta, kepada-Nya agar memberinya kesempatan untuk melangkah. Meminta untuk menghapuskan segala rasa yang tertinggal. Vita takut, jika rasa ini msih ada, kehidupan rumah tangganya tak akan bisa langgeng. Karena secara otomatis hati dan fisiknya aka menolak sentuhan sang suami.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2