
Juan dan Rehan langsung berlari mencari ruang gawat darurat di mana Zein berada. Beruntung semua tidak menemui kendala. Perjalanan mereka pun aman-aman saja. Tidak macet, semua lancar. Tetapi saat mereka sampai di ruangan tersebut, ternyata Zein sudah tidak ada di sana.
Zein sudah di pindah ke ruang operasi. Akhirnya mereka berdua pun segera mencari ruangan tersebut. Beruntung kerja sama mereka berdua sangatlah baik. Sehingga tak menemui kendala ketika mencari tempat itu.
Sayangnya, apa yang terjadi pada Zein tidak semulus perjalanan mereka hari ini. Pria itu berbaring tak berdaya di meja operasi, karena luka yang ia derita cukup parah. Bukan hanya itu, yang membuat mereka sangat khawatir adalah, saat ini Zein juga kehilangan banyak darah.
Pihak rumah sakit sedang berusaha keras untuk mencarikan donor darah yang pas untuk pria ini. Agar dia tetap sanggup bertahan dan selamat dari maut.
Tak berapa lama, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Dengan cepat Juan pun mencekal langkah dokter itu.
"Bagaimana keadaan sahabat saya, Dok?" tanya Juan pada dokter itu.
"Siapa kalian?" tanya dokter itu.
"Kami sahabat pria yang ada di ruangan itu, Dok. Yang tadi dihajar para preman!" saut Rehan.
"Oh, bapak itu. Untuk saat ini tim dokter sedang berusaha, Pak. Teman anda sudah sedang berjuang. Doakan semoga dia kuat dan mampu bertahan," jawab sang dokter.
"Itu sudah pasti, Dok. Lalu bagaimana keadaannya sekarang, Dok?" tanya Juan lagi.
__ADS_1
"Untuk menghentikan pendarahan di perut, kita perlu melakukan pembedahan dan menutup lukanya segera. Tetapi kabar buruknya, darah yang dibutuhkan teman Bapak sedang tidak tersedia di rumah sakit ini!" jawab dokter itu menjelaskan apa yang terjadi dan menjadi kendala terbesar mereka.
"Memangnya golongan darah teman saya itu apa, Dok?" tanya Juan serius.
"Zein golongan darahnya langka, Jun. Dia AB+," jawab Rehan.
"Astaga! Siapa kira-kira yang punya golongan darah itu, Re. Matilah kita!" ucap Juan takut. Di sini bukan hanya Juan yang takut, tapi juga Rehan, tim dokter sendiri juga sedang berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi pada Zein. Mereka berharap pria itu tetap baik-baik saja dan kuat menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya ini.
"Bagaimana? Apakah kalian punya teman, saudara atau siapapun yang memiliki golongan darah tersebut?" tanya sang Dokter.
"Sebentar, Dok. Kita cari dulu!" jawab Juan sembari menghubungi orang-orang yang dia kenal. Terlebih mereka ya g dekat dengan rumah sakit ini. Bukan hanya Juan yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Rehan pun juga demikian. Pria ini juga sedang berusaha sebisanya. Dan berharap mereka tidak terlambat saat menemukan dewa penolong untuk Zein.
Juan dan Rehan pun menoleh, mencari arah suara tentunya. Tak ayal, kedua pria satu generasi ini pun terkejut. Sebab pria yang berdiri di depan mereka saat ini sangat mirip dengan Zein. Hanya saja pria itu telah beruban.
Di sini, keterkejutan Rehan sangat berbeda dengan keterkejutan Juan. Sebab Juan mengenal baik pria tersebut. Hanya saja, dia baru menyadari jika pria tersebut sangat mirip dengan Zein.
"Om!" sapa Juan gugup. Sayangnya pria itu tidak menjawab sapaan Juan. Ia hanya menatap acuh pada Juan. Lalu ia pun membalikkan tubuhnya dan mengikuti langkah sang dokter yang meminta dirinya ikut dengannya.
Selepas kepergian pria paruh baya itu, Juan duduk lemas di kursi ruang tunggu yang tersedia di depan ruang operasi tersebut. Pria ini tak sanggup berucap. Dia gugup setengah mati. Tidak menyangka bahwa ia akan bertemu pria itu dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1
"Jun, kamu baik-baik saja?" tanya Rehan sambil menepuk pundak sang sahabat.
"Ya, aku oke," jawab Juan lemah.
Bagaimana Juan tidak lemas? Juan sangat mengenal pria itu. Pria itu adalah pria yang pernah menghancurkan hatinya beberapa tahun silam.
Juan masih diam, belum bisa menjelaskan suasana hatinya saat ini. Sebab ini di luar kendalinya. Di luar ekspetasinya. Mengapa ia harus bertemu dengan pria ini? Mengapa harus sekarang? Apa maksud dari semua ini? Juan hanya menatap bergeming lantai yang ia pijak. Sebab ia tidak menyangka jika ia akan bertemu pria itu di saat seperti ini.
***
Stella sudah memantapkan hatinya untuk menemui Safira. Kali ini wanita ayu ini tak akan mundur lagi. Ia yakin, jika keputusannya ini tidaklah salah. Stella beranggapan bahwa dia berhak mengetahui fakta yang sebenarnya. Sebab, mau tak mau, ingin tak ingin, wanita itu tetap ada hubungannya dengan kehidupan rumah tangganya.
Tak menunggu waktu lagi, ibu satu anak pun ini segera memesan taksi untuk mengantarnya ke tempat tujuan.
Beberapa kali Stella terlihat menghela napas dalam-dalam. Menyiapkan mentalnya. Berharap Safira berkata jujur nanti. Tidak menutupi sedikitpun masalah antara dirinya dan Juan. Karena kejujuran Safira adalah penentu kelangsungan hidup rumah tangganya.
Bersambung....
Sayang kalian🥰🥰😘
__ADS_1