
Apa yang dikatakan orang-orang tentang perempuan itu ternyata adalah benar.
Jangan adu srategi dengan mereka? Jangan adu kecerdasan dengan mereka? Mereka memang terlihat bodoh. Tapi aslinya pinter banget.
Buktikan saja jika tidak percaya?
Contohnya, tentang apa yang kini sedang terjadi terhadap Safira dan Lutfi. Safira bukan tidak tahu maksud sang suami. Bukan tidak paham dengan apa yang diinginkan oleh pria itu. Dia memang sengaja menghindar. Safira hanya ingin tahu, seberapa seriusnya pria itu menjalin hubungan dengannya.
Entahlah, bagi Safira, membangun kembali sebuah kepercayaan dengan seorang pria tidaklah mudah. Safira pernah menunggu. Safira pernah berharap. Dan dia kecewa. Meskipun pada kenyataannya, apa yang terjadi padanya bukanlah murni kesalahan pria tersebut. Namun, tetap saja ia pernah terluka karena pria.
Safira tersenyum dalam pembaringan. Wanita ayu ini merasa lucu aja mengingat wajah penuh kebingungan sang suami. Ternyata pria tersebut sangat menggemaskan jika sedang bingung. Tapi, Safira salut. Karena Lutfi begitu sabar menghadapinya.
"Sabar ya, suami ku! Percayalah, aku juga mencintaimu," gimana Safira sambil memeluk gemas baby Naya. Baginya, Lutfi sama menggemaskannya dengan sang putri. Sehingga, bagi Safira sama saja. Mau mencium Naya atau Lutfi, rasanya sama saja. Sama-sama menyenangkan.
Kelakuan aneh Safira tertangkap basah oleh Lydia yang saat itu juga belum tidur. Karena penasaran, akhirnya gadis cantik ini pun bertanya, "Maaf, kok Mbak senyum-senyum sendiri. Ada apa? Apakah ada yang lucu?"
Terkejut dengan pertanyaan Lydia, Safira pun menatap wanita itu. "Ah tidak, aku habis berdebat dengan suamiku," jawab Safira jujur.
"Indahnya yang punya suami. Berbeda denganku yang harus jomlo sampai mati," ucap Lydia sembari tersenyum menahan tangis.
__ADS_1
"Jangan begitu, Mbak. Jodoh nggak akan ada yang tahu. Vonis dokter itu hanyalah Vonis manusia. Siapa tahu, nanti Mbak sembuh dari sakit. Ikut terapi, Mbak. Siapa tahu, Allah kasih jalan. Terus dipertemukan dengan jodoh. Jangan pesimis. Tetap optimistis. Semua pasti ada jalan keluarnya," jawab Safira mencoba menguatkan.
"Entahlah, Mbak. Hidupku terlanjur hancur. Cap wanita mandul sudah melekat dalam diriku. Jika apa yang mbak katakan adalah benar, alangkah bahagianya aku." Lydia tersenyum sembari menghapus sisa-sisa air mata yang ada di sudut matanya.
"Aku do'ain, semoga kamu menemukan pria yang tepat, Mbak. Semoga Mbak menemukan bahagia lahir batin. Bertemu jodoh yang mau menerima Mbak dengan lapang dada. Dengan keikhlasan hati yang tulus. Semoga, ya Mbak!" Safira melempar senyuman tulus kepada wanita itu. Sedangkan Lydia, wanita itu mengamini apa yang Safira katakan. Sebab ia pu menginginkan hal demikian.
***
Keesokan harinya ....
Lutfi merasakan sakit hampir di sekujur tubuhnya. Bagaimana tidak? Semalam utuh dia tak bisa tidur. Sofa tempatnya berbaring sangat sempit. Sehingga ia susah sekali bergerak.
Kesal, sudah pasti. Ini bukan karena ada Lydia. Tetapi lebih pada obrolan yang tidak nyambung yang terjadi semalam.
Lutfi masih kesal dengan itu. Sangat-sangat kesal. Sangking kesalnya, sampai malas menyapa sang istri yang saat ini sedang asik menyiapkan sarapan pagi untuknya.
"Selamat pagi ayahnya Naya. Bagaimana tidurnya semalam. Apakah nyaman?" tanya Safira serius. Sama sekali tidak bermaksud meledek. Tetapi sayang, Lutfi menganggap itu adalah ledekan sehingga ia memilih diam. Enggan menjawab pertanyaan menyedihkan itu baginya.
"Loh, ditanya kok diam. Kenapa sih, Fi?" tanya Safira sembari mendekati sang suami.
__ADS_1
"Nggak pa-pa. Aku baik kok," jawabnya ketus. Lutfi memalingkan pandangannya. Ia lebih memilih memandang keluar jendela yang diluarnya nampak bunga-bunga mawar bermekaran.
Melihat sang suami lebih tertarik dengan bunga yang tampak dari luar jendela itu, tentu saja membuat Safira tersinggung.
Tanpa meminta persetujuan dari Lutfi, Safira langsung menutup tirai jendela itu. Agar sang suami tidak melihat bunga-bunga jelek itu, menurutnya.
"Loh, kok ditutup. Kenapa? Kan angin pagi bagus, Bun, buat sirkulasi udara?" tanya Lutfi sok lugu.
"Aku lagi ngomong sama kamu ya dan kamu malah asik menatap bunga-bunga jelek itu. Memangnya apa hebatnya bunga itu dibanding aku. Kamu menyebalkan, Fi. Semalam kamu bilang mau hidup bareng ama aku. Semalam kamu bilang mau menjadikanku pendamping hidupmu. Tapi sekarang kamu cuekin aku, maksud kamu apa?" cecar Safira kesal.
Lutfi tidak membalas ucapan penuh aroma cemburu itu. Ia hanya mendengarkan setiap kata yang Safira lontarkan. Bukan apa? Lutfi pun ingin tahu, seberapa dalam harapan sang istri terhadapnya.
"Lutfi... aku lagi ngomong sama kamu. Ih!" Safira kembali mengeluarkan emosinya.
"Jadi aku mesti gimana, Fira? Aku mesti gimana? Aku ajakin kamu mesra-mesraan kamu nggak paham. Aku ajak kamu romantis-romantisan kamu galak. Jadi aku kudu piye, Ra? Kudu piye?"
Safira menatap kesal ke arah Lutfi, lalu ia pun kembali melontarkan serangannya. "Pokoknya kalo aku lagi ngomong, kamu nggak boleh fokus ama yang lain. Kamu harus menatapku. Melihatku. Menjawab semua pertanyaanku. Aku nggak mau kamu cuekin, Fi. Titik!" Safira membanting lap piring yang ada di tangannya. Lalu ia pun segera melangkah pergi, dan masuk ke dalam kamar.
Lagi-lagi, Lutfi tak bisa mengejar sang istri. Karena di dalam kamarnya ada wanita lain. Tetapi ia berjanji, setelah wanita itu di jemput oleh pria yang memiliki janji padanya, Lutfi tak akan melepaskan wanita pemarah itu lagi.
__ADS_1
Bersambung....