
Keesokan harinya...
Pagi menjelang, cahaya matahari mulai masuk di sela-sela jendela. Lutfi meraih ponselnya. Menilik jam yang ada di sana. Angka yang tertera sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.
"Pantes terang, sudah siang ternyata!" gumam Lutfi. Lalu ia pun menatap sang istri yang terlihat masih terlelap sambil memeluknya. Masih tenggelam dalam alam mimpi. Ingin ia bangunkan namun tak tega.
Tak ingin mengusik tidur wanita cantik ini, Lutfi pun kembali menaikkan selimut untuk menutupi tubuh wanita cantik itu. Namun, ketika ia hendak beranjak, bermaksud ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Safira bergerak.
Tak berapa lama, wanita itu menggeliat. Namun, matanya masih terpejam sempurna. Kembali memeluk tubuh Lutfi erat, sehingga pria ini mengurungkan niatnya itu ke kamar kecil.
"Udah bangun?" tanya Lutfi.
Safira menggeleng. Lutfi tersenyum. Menurutnya sang istri begitu manja dan menggemaskan.
Dalam hati, pria ini ingin sekali mencium bibir wanita jaim itu. Gemas saja. Entahlah. Tapi, Lutfi takut Safira akan menamparnya lagi.
Tak lama kemudian, beberapa petugas medis datang untuk memeriksa perkembangan kesehatannya.
Lutfi sedikit malu, ia pun mencoba membangunkan sang istri dengan caranya. "Aku pengen ke kamar kecil. Sebentar lagi dokter akan datang memeriksa. Setidaknya aku harus cuci muka dan gosok gigi, Bundanya Naya bangun yuk!" ajak Lutfi sembari berbisik pelan. Sebab, ia malu sebenernya, terciduk dalam keadaan intim seperti itu.
"Nggak mau! Ngapain cuci muka? Ngapain gosok gigi? Nggak usah. Aku masih ngantuk!" jawab Safira, tanpa menyadari bahwa beberapa petugas medis sedang menertawakan mereka berdua.
"Maafkan istri saya, Dok, Sus, maaf," ucap Lutfi pelan. Takut Safira terbangun dan akhirnya malu.
"Nggak pa-pa, Pak. Santai saja!" jawab sang dokter. Tanpa banyak bicara, sang dokter dan beberapa asistennya itu mulai melakukan pemeriksaan terhadap Lutfi. Namun, sepertinya mereka juga tidak nyaman memeriksa dalam kondisi seperti ini. Untuk menghormati suami istri tersebut, mereka pun memutuskan untuk kembali lagi setelah istri dari pasien mereka itu, sudah bangun.
"Terima kasih atas pengertiannya, Dokter," ucap Lutfi pelan.
Dokter dan asistennya itu pun menjawab, namun hanya dengan senyum sekaligus acungan jempol. Sebab Safira mulai mengeliat. Mereka sendiri juga tak enak jika, Safira terbangun karena mereka dan akhirnya malah membuat wanita itu malu.
Setelah berpamitan. Mereka pun segera pergi meninggalkan dua sejoli yang saat ini sedang dimabuk asmara itu.
__ADS_1
Sedangkan Lutfi sendiri, pria ini terlihat sabar. Meskipun sebenernya ia sedang menahan buang air kecil
Tiga puluh menit berlalu, Safira membuka pelan matanya. Lalu menatap Lutfi yang saat itu juga menatapnya. Safira tersenyum, kali ini tersenyum malu.
"Maaf!" ucap Safira lirih.
Lutfi mengerutkan kening. Lalu ia pun menjawab ucapan itu, "Untuk?"
"Keegoisanku!" Safira memainkan kecing baju milik sang suami.
"Sudah nggak pa-pa. Yuk bangun! Udah siang ni!" ajak Lutfi.
"Siang? Yang bener?" tanya Safira terkejut.
"Iya, lihat aja tu jam dindingnya!" ucap Lutfi sembari memberi kode agar Safira melihat jam yang terpasang di dinding ruangan tersebut.
Safira pun melihat jam itu, betapa terkejutnya dia, bahwa saat ini sudah sangat siang. Sudah pasti sebentar lagi tim dokter pasti akan segera datang untuk memeriksa sang suami.
"Kok malah tertawa sih, bukannya dibangunin dari tadi!" gerutu Safira.
"Habis kamu lucu, ini udah mau jam delapan. Dokter periksa aku biasanya jam setengah delapan. Kira-kira tim dokter udah kesini belum ya?" ucap Lutfi sambil tersenyum meledek.
"Hah? Kamu serius?" tanya Safira.
"Tu, infus aku juga udah diganti. Kamu kan tahu aku nggak pernah boong!" jawab Lutfi santai.
Terang saja, penjelasan Lutfi sukses membuat wanita ayu ini malu. Ia pun memaksa Lutfi berkata bahwa apa yang ia katakan adalah kebohongan.
"Lutfi, please... tolong katakan sama aku kalo kamu cuma boong! Aku mohon!" pinta Safira sambil memegang tangan Lutfi, menggoyang-goyangkan tangan pria tampan itu.
"Loh, aku jujur kok masak di suruh boong sih?" tanya Lutfi sembari tersenyum senang.
__ADS_1
"Lutfi kamu jahat, besok-besok aku nggak mau bobo kamu lagi. Kamu jahat, Lutfi, aku marah!" ucap Safira merajuk. Tak ingin berdebat, Safira pun memilih menghindar. Meninggalkan pria iseng itu masuk ke kamar mandi. Ingin menumpahkan rasa malu yang diciptakan oleh pria itu. Lutfi memang iseng dan konyol.
***
Amerika...
Pagi yang indah... seorang gadis sedang memasak di dapur milik pria tampan, yang saat ini sedang berjuang sembuh dari kelumpuhan.
Gadis itu baru bekerja sekitar satu minggu di rumah pria tampan ini.
Zein dan asisten rumah tangga yang bertugas memasak dan membersihkan apartemennya itu, terlihat pendiam, tidak banyak bicara, tidak banyak bertanya. Ia hanya bekerja dan bekerja sesuai tugas dan juga waktu yang telah ia sepakati bersama Lutfi. Sebelum Lutfi meningalkan negara ini.
"Kamu orang Indonesia?" tanya Zein basa basi.
"Ya, Tuan, saya orang Indonesia!" jawab gadis yang mungkin masih berusia belia itu.
"Berapa usiamu?" tanya Zein.
"Sembilan belas tahun, Tuan!" jawab gadis itu jujur.
Zein mengerutkan kening heran. "Sembilan belas tahun, apakah kamu sudah lama kerja di sini?" tanya Zein lagi.
"Tidak, Tuan, saya baru di sini enam bulan. Saya tertipu oleh agen. Saya melarikan diri!" ucap Gadis itu.
"Kok bisa? kamu melarikan diri begitu, apa nggak dicariin sama agensi kamu?" tanya Zein curiga.
"Dilaporkan, Tuan. Beruntung saya kenal dengan salah satu petugas di KBRI, beliau adalah sahabat ayah saya. Lalu saya ditolong, saya ditampung di rumahnya. Karena saya nggak enak numpang terus, akhirya saya minta tolong dicariin kerja. Apa aja, yang penting halal dan bisa buat beli tiket untuk balik ke Indonesia, Tuan!" jawab Gadis itu jujur.
"Oh, untung kamu masih ketemu ama orang baik," jawab Zein. Namun, pria tampan ini tidak percaya begitu saja dengan cerita sang asisten rumah tangga yang menurutnya aneh ini. Zein curiga, tapi tak ingin telalu kepo dengan kehidupan seseorang.
Bersambung...
__ADS_1