
Dalam perjalanan menuju kampung halaman Zizi, beberapa kali Zein terlihat meremas jari-jarinya. Sepertinya ia sangat takut, takut terlambat, takut kehilangan Zi dan takut kalau sampai Zi menerima lamaran tersebut.
"Jangan takut, semoga kita tidak terlambat," ucap Laila sembari meraih tangan sang putra dan mencoba menenangkan putra kesayangannya tersebut.
"Iya, Ma," jawab Zein sembari terus melihat layar ponsel yang menunjukkan arah ke mana seharusnya mobilnya membawa mereka.
Sedangkan Laskar segera meminta pengacaranya siaga, siapa tahu sang putra membutuhkan bantuan hukum untuk mendapatkan cintanya ini. Seperti apa yang Laila arahkan.
"Emangnya si siapa itu namanya, nggak pernah ngomong apapun ke kamu, Zein?" tanya Laskar pada sang putra.
"Nggak, Pa. Kalau dia ngomong, pasti kejadian ini nggak akan mungkin terjadi." Zein tertunduk lesu.
"Sudah, Pa. Jangan tanya apa-apa dulu, putra kita sedang kalut. Kita berdoa saja, semoga calon mantu kita belum melalui proses apapun," ucap Laila, mencoba memberi pengertian pada sang suami.
Laskar pun kembali menuruti sang istri. Diam dan sesekali melihat gawainya, mungkin saja ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk sang putra.
***
__ADS_1
Di sisi lain, Zi sedang menangis menjadi-jadi di samping ranjang sang kakek. Bagaimana tidak? Ini adalah pertama kalinya ia tahu bahwa ia masih memiliki keluarga, selama ini yang ia tahu adalah, keluarga sang ayah sudah tiada. Nyatanya tidak, mereka masih ada. Bahkan ia memiliki paman dan bibi yang tak lain adalah saudara kandung ayahnya.
"Ayahmu tidak berani pulang karena punya hutang dengan rentenir, cucuku. Dia terpasa hutang pada rentenir untuk membayar biaya operasi ibumu saat melahirkanmu. Kami tidak tahu jika uang yang ia gunakan untuk membayar biaya persalinan itu adalah uang hasil meminjam. Kurang ajarnya, mereka memang sengaja tidak menangih uang itu, agar bisa menjeratmu. Dalam surat perjanjian tersebut, ayahmu dan pihak rentenir itu sepakat untuk menjadikanmu sebagai alat pembayaran hutang, jika kamu dewasa." Pria pesakitan itu menghentikan ceritanya sejenak, untuk mengambil napas.
Kemudian ia pun melanjutkannya lagi. "Sungguh, kakek tidak tahu perihal perjanjian itu gila itu. Kakek pikir, ayahmu marah dengan kakek karena kakek tidak setuju dia menikah dengan ibunya, ternyata tidak. Makanya dia tak mau pulang. Ternyata bukan, ayahmu tak berani pulang karena tak bisa meyerahkanmu pada keluarga kejam itu." Pria tua itu terlihat menangis. Karena ia tidak tahu penderitaan yang putranya alami selama ini.
"Lalu sekarang Zi harus gimana, Kek?" tanya Zizi bingung.
"Mereka menjerat kita dengan bunga terlalu tinggi, Zi. Kakek tak mampu membayarnya, bahkan jika rumah kita serahkan ke mereka, itu pun nggak cukup untuk menebus hutang ayahmu," jawab pria tua itu lagi.
Seperti di sambar petir di siang bolong! Bagaimana tidak? Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja sepasang suami istri datang ke kos-kosannya. Memberi tahu bahwa ia masih memiliki keluarga.
Awalnya Zi menolak dengan permintaan itu, bahkan dia sempat bersitegang dengan paman dan bibinya. Namun dua orang bertubuh kekar yang mengawal mereka telah membuat Zi merinding. Ancaman yang kedua orang menyeramkan itu lontarkan, nyatanya sanggup meruntuhkan keegoisan Zi.
Kedua pria itu mengancam, jika Zi tidak mau ikut dengan mereka, maka kedua orang yang mengaku sebagai paman dan bibinya itu akan mereka habisi. Tak ayal ancaman itu pun sukses membuat Zi merinding.
"Tapi, Kek, kenapa ayah dan ibu tak pernah membicarakan perihal hutang mereka ke, Zi?" tanya Zizi curiga, sebab berita ii berasa jangggal baginya. Zi merasa ada pihak yang sengaja mempermainkannya. Entahlah, Zi hanya merasa aneh saja dengan alur cerita ini.
__ADS_1
"Jangankan denganmu, dengan kakek saja mereka tak cerita," ucap pria tua itu.
Zizi diam sesaat, lalu ia pun berusaha menolak halus perjodohan itu. "Kek, sore ini Zizi akan ke rumah rentenir itu, Zi akan mencoba bernegosiasi dengan mereka. Kalo memang ayah Zi yang punya hutang, biar Zi yang bayar. Zi akan bekerja keras untuk membayar hutang tersebut. Yang penting mereka mau membatalkan perjodohan ini," Ucap Zi.
"Kakek sudah bernegosiasi dengan mereka beberapa hari yang lalu sebelum menjemputmu. Mereka tetap kekeh mau menjadikanmu istri dari anak pertama mereka yang cacat itu. Mereka ingn kamu merawatnya, secara mereka tahu apa pekerjaanmu, Zi. Kakek tidak tahu harus berbuat apa. Kakek bingung, Zi," ucap pria tua itu.
"Bacalah ini jika kamu tidak percaya pada kakek. Lihat dan bacalah dengan teliti surat perjanjian ini. Kakek tidak bisa berbuat apa-apa karena surat itu sah di mata hukum," ucap pria tu itu sembari menyerahkan amplop berwarna coklat dari bawah bantalnya.
Pelan namun pasti, Zizi pun mengambil surat perjanjian tersebut dan membacanya perlahan.
Air mata mengenang di pelupuk mata wanita ayu itu. Baris demi baris kalimat yang tertera di sana semua terasa rapi, dalam dan penuh makna. Di sana juga tertulis sebuah kalimat yang mengatakan bahwa sang ayah handa sama sekali tidak terpaksa menandatangani perjanjian ini. Dan sungguh, kalimat itu sukses menggores hati seorang Zi.
Tak sampai di situ, nominal hutang awal plus bunga yang harus ia bayar juga sukses membuat Zi merinding.
Bagaimana tidak? Nominal itu setara dengan harga dirinya. Sedangkan dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu. Zi sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
Gadis ini hanya diam terpaku, membayangkan ia menikah dengan seseorang yang bisa dikatakan punya gangguan jiwa. Zi tak sanggup membayangkan nasibnya setelah ini.
__ADS_1
Bersambung...