
Lutfi kesal. Safira pun sama. Sedangkan Laila hanya bisa menghela napas berat. Bingung, bagaimana mencari solusi untuk perseteruan kedua anak manusia ini.
"Jangan keras kepala begitulah, Fi! Kan kalo putrimu di rumah kami, kamu pun juga tinggal aja di rumah kami. Kamu jadi lebih hemat. Terus nggak perlu ngontrak. Ya kan!" Laila masih berusaha keras membujuk Lutfi, agar perseteruan antara putrinya dengan bapak satu ini tak berlarut-larut.
"Maaf, Tan. Kalo menyuruh saya tinggal di tempat Tante dengan tujuan Tante ingin menguasai Naya, saya tidak bisa. Saya mohon maaf," jawab Lutfi tegas. Lagi-lagi pria ini menolak, sehingga membuat Safira semakin kesal.
"Udah Mama diam aja. Pokoknya biar Naya sendiri yang pilih. Pilih aku atau pengasuhnya. Bagus lagi kalo yang dipilih aku atau bapak pelitnya ini," saut Safira sengit.
Lutfi semakin geram. Andai di sini tidak ada Laila, sang majikan, mungkin Safira sudah membalas setiap kata yang dilontarkan wanita itu agar dia mengerti bahwa tidak semudah itu mau mengambil sang putri darinya.
Perdebatan belum usai, datanglah Laskar dan Zein. Zein hendak berpamitan. Hendak berangkat ke Jakarta malam ini.
"Selamat sore semua!" sapa Laskar kepada semua orang yang ada di ruang rawat sang putri.
Laila dan Safira tidak menjawab. Sedangkan Lutfi langsung berdiri dari tempat duduknya. Sedikit membungkukkan tubunya. Memberi hormat pada majikan serta putranya. Namun, tak ada seorangpun yang membalas salamnya. Mereka hanya diam. Membuat Laskar curiga.
"Ada apa ini? Kenapa kalian diam-diaman begini. Ada yang salah kah? Oiya, Lutfi, kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi. Apakah habis baterai?" cecar Laskar pada seluruh orang yang membingungkan baginya ini.
Mendengar ucapan sang majikan, Lutfi pun langsung menilik ponselnya. Yang ternyata, habis baterai.
"Maaf Om, ponselnya habis baterai. Maaf ya, Om, ponsel saya memang sudah nggak bagus," jawab Lutfi sembari tersenyum. Berharap Laskar mengerti kondisinya dan memaafkan atas kekurangannya.
"Oh, ya sudah. Bulan ini gajian, beli ya. Yang bisa dibuat kerja. Itu kan penting. Paham Lutfi!" jawab Laskar.
Safira yang merasa punya celah, langsung saja menawari Lutfi ponsel.
"Eh, gimana kalo kamu aku beliin ponsel. Tapi pinjami aku Naya, ha! Enak kan?" celetuk Safira tanpa berpikir panjang.
Terang saja, mendengar penawaran menyesatkan itu membuat Lutfi naik pitam.
"Enak aja! Nggak akan!" jawab Lutfi. Kali ini lebih berani dan terdengar ketus.
__ADS_1
Membuat Laskar dan Zein saling menatap, bingung dan bertanya-tanya heran tentunya. Sedangkan Laila terlihat semakin tak berdaya. Wanita ini hanya memijat kepalanya yang mulai pening.
"Ada apa ini, Ma? Kenapa mereka terlihat tidak akur?" tanya Laskar pada sang istri.
Zein dan Laskar pun langsung duduk di sebelah Laila. Kemudian Laila pun menjelaskan duduk permasalahan yang sedang mereka hadapi.
"Astaga! Masalahnya cuma sesimpel itu. Kenapa ribut-ribut? Abang punya solusi nggak, Bang?" tanya Laskar enteng.
Sedangkan Zein menatap bergantian antara Lutfi dan Safira. Mereka berdua tidak mau saling memandang. Lutfi menatap ke arah pintu sedangkan Safira ke jendela. Mereka seperti sepasang suami istri yang ingin cerai dan lagi rebutan hak asuh.
"Pa!" ucap Zein.
"Ya, gimana? Abang punya solusi nggak?" tanya Laskar lagi.
"Lihat deh, Pa. Mereka mirip seperti mantan suami istri yang lagi rebutan gak asuh anak. Ya kan!" celetuk Zein.
Spontan Safira dan Lutfi pun menatap ke arah mereka. Sedangkan Laskar langsung tertawa terpingkal-pingkal. Celetukan Zein, nyatanya bisa membuat suasana yang tadinya kaku jadi lebih reme.
"Jangan gitu, Bang! Abang do'ain kita nggak baik ni!" balas Lutfi.
"Loh enggak, gini lo maksudku. Kalian berdua memperebutkan seorang bayi yang sama-sama kalian mau. Yang sama-sama kalian sayang, ya kan. Aku sih melihatnya kalian seperti itu. Kalo Mama sama Papa gimana?" jawab Zein sesuai apa yang ia lihat.
"Papa juga berpikir sama. Kondisi mereka memang terlihat begitu. Ha ... Papa kok jadi kepikiran nikahin mereka ya," jawab Laskar asal.
Spontan Safira dan Lutfi pun menolak. "Nggak nggak nggak! nikah apa dia! Nggak akan! Nggak mau Fira," jawab Safira nggak pakai nanti-nanti.
"Saya juga nggak mau Om. Putri Om galak. Judes lagi. Ogah Lutfi," balas Pria tampan ini tak kalah sengit.
Laskar dan Zein tertawa. Ternyata menyaksikan mereka bertengkar sangat seru. Sedangkan Laila yang lebih peka terhadap perasaan sang putri akhirnya
mengalah. Ia pun mendekati Safira dan memberi sang putri pengertian. Bahwa apa yang tidak diperuntukkan untuk kita, itu tidak akan sampai. Tapi jika sesuatu itu ditakdirkan untuk kita, tanpa kita meminta, pasti akan datang sendiri.
__ADS_1
"Fira ngerti 'kan maksud, Mama?" tanya Laila sembari memeluk sang putri. Safira mengangguk mengerti. Tetapi matanya masih menatap penuh permusuhan pada Lutfi. Sedangkan Lutfi pun sama. Dalam pikiran pria ini, ia berjanji akan tetap mempertahankan sang putri apapun yang terjadi.
***
Malam pun tiba. Vita sedang merapikan barang-barangnya. Sebab, selepas pertunangan ia harus langsung terbang ke Bali untuk melakukan foto prewedding.
Hari pernikahannya semakin dekat, Vita tak mau terbelenggu dan terus meninggat pria lain selain Luis. Vita tak ingin menodai ikatan suci pernikahannya dengan memasukkan pria lain di hatinya.
Vita ingin menutup buku dan cerita tentang Zein. Yang harus ia perkuat dan pupuk adalah cintanya untuk Luis. Bukan pria lain yang tak berani memperjuangkan cinta yang dimiliki.
Vita membawa buku harian yang berisi tentang kisahnya dengan Zein kebelakang rumah. Berniat memusnahkan buku itu. Berniat membakar buku itu.
Namun, sebelum ia melakukan itu, tanpa sengaja ia bertemu dengan Juan. Yang tak lain adalah pria yang ia hormati di rumah ini.
"Mau ke mana, Vit?" tanya Juan.
"Mau melebur kenangan terindah, Bang!" jawab Vita sembari menunjukkan buku bersampul biru itu. Tak lupa ia juga mempersembahkan senyum manisnya untuk pria yang telah banyak berjasa pada keluarganya itu.
"Boleh Abang ikut?" tanya Juan. Sebab, kalau boleh jujur, Juan masih penasaran dengan kisah antara Zein dan Vita. Kenapa mereka bisa saling jatuh cinta. Padahal, Juan tahu, betapa bencinya Vita pada Zein kala itu.
"Marilah, asal nyonya ratu nggak marah aja!" canda Vita, seperti biasa.
"Marah apa, ya nggak lah! Ngapain dia marah. Kecuali kalo suami tampannya ini digodain para seles mobil. Baru dah tu naik pitam," balas Juan, tak kalah kocak.
Vita pun tertawa. Sebab ia tahu kadar kecemburuan milik Stella. Wanita itu begitu posesif dan pencemburu. Dia tak akan membiarkan seorang wanita pun menyentuh Juan. Sampai kapanpun.
Bersambung...
Hay hay gengs... emak mau minta dukungan kalian ni. Dalam Karya emak yang berjudul KETULUSAN HATI ISTRI KEDUA yang lagi berjuang dalam event BERBAGI CINTA.. jangan lupa like komen vote n favoritnya ya... Makasih, semoga kalian berkenan๐๐
__ADS_1