PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
MERAYU DEMI IZIN


__ADS_3

Sinar mentari begitu kuat menerobos awan. Seakan tak punya takut. Menyebar hawa panas yang menyengat. Sinar itu begitu berani. Seakan siap menghadapi apapun yang terjadi di depannya. Seperti keyakinan seorang gadis bernama Vita.


Meskipun seluruh keluarganya melarangnya bekerja pada Zein. Namun gadis ini masih kekeh. Karena ia yakin. Ia pasti bisa menghadapi masalah yang ia ciptakan sendiri. Tak dipungkiri bahwa Zein sering membuatnya kesal. Tak jarang pria itu juga membuatnya tidak berguna. Tapi Vita merasa aman bekerja pada pria itu, setidaknya Zein selalu menghargainya sebagai seorang wanita. Tanpa Vita sadari, Zein juga selalu melindunginya dari mata manusia-manusia jahanam berwujud laki-laki.


Seperti malam ini, Zein ada pertemuan di sebuah club. Karena ia harus menjamu salah satu klientnya yang datang dari luar negeri. Ia tak ingin Vita ikut, karena ia tak suka jika gadis itu dilihat oleh laki-laki lain selain dirinya. Apa lagi laki-laki yang hanya mementingkan syahwat mereka.


"Kamu pulang saja, bawa mobilku. Nggak usah nyusul ke club. Di sana bahaya untukmu," ucap Zein memberi perintah.


"Baik, Pak." Vita menatap Zein sekilas. Dalam hati ia ingin mengatakan sesuatu tapi takut.


"Kenapa nggak keluar? Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Zein curiga.


"Emmm! bolehkah saya minta sesuatu, Pak? " tanya Vita ragu.


"Minta apa? Tumben formal?" tanya Zein serius.


"Ya ini kan di kantor, Pak," jawab Vita sedikit malu. Tersenyum geli menahan tawa. Sebab ia menyadari jika dirinya sungguh licik. Berpura-pura bersikap baik, namun hanya ingin meluruskan niatnya. Hendak meminta izin untuk libur.


"Cepat katakan, aku udah mau jalan," ucap Zein tak sabar.


"Emm, boleh nggak jumat besok saya pulang lebih awal, Pak!" pinta Vita, ragu.


"Mau ngapain? Mau pacaran ya!" tebak Zein asal.


"Nggak, Bapak dih. Vita pengen pulang ke Manado. Pengen jenguk ibu," jawab Vita jujur.


"Oh, kirain. Ya udah kalau mau pulang. Pulang aja. Salam buat ibu ya, bilang bang Zein minta maaf buat semuanya," jawab Zein lemah. Sembari memakai jasnya lagi.

__ADS_1


"Iya nanti Vita sampaikan," jawab gadis manis ini. Sebenarnya Vita malas meladeni Zein perihal keluarganya. Namun ia tak mau menunjukkan ketidaksukaannya. Vita takut Zein kumat isengnya dan malah tak memberinya izin untuk pulang.


"Ya udah, pulang sana keburu sore. Jangan di jalan malam-malam. Kamu cewek, nggak bagus buatmu," ucap Zein memperingatkan. Sebenarnya Zein selalu bilang begini jika tak bisa mengantar Vita pulang. Entah apa maksudnya.


Namun, Vita berusaha tidak mengambil hati kebaikan Zein. Tak dipungkiri jika ia takut, nantinya akan suka dengan mantan kakak iparnya itu. Mau bagaimanapun mereka adalah lawan jenis. Tak menutup kemungkinan jika mereka bisa saja saling suka.


Selepas memakai jas dan Vita selesai merapikan meja kerja sang big bos, Zein pun berpamitan pergi terlebih dahulu. Sedangkan Vita kembali ke ruang kerjanya untuk merapikan pekerjaannya sendiri. Sebelum ia pulang.


***


Kebahagiaan sempurna kini dimiliki oleh pasangan Stella dan Juan. Cinta merekah sempurna di antara keduanya. Saling mendukung dan melengkapi. Berjalan beriringan, bersama menghadapi apa yang ada di depan mereka.


Juan memperlakukan Stella bak Ratu. Begitupun sebaliknya. Stella juga memperlakukan sang suami bak Raja. Hadirnya Berliana tak mengurangi rasa cinta di antara mereka. Namun, hidup tak melulu mengenai bahagia. Kabar buruk kini mereka terima.


Kakek Juan yang berada di Negara Tetangga dikabarkan kritis karena gagal jantung. Terpaksa Juan berangkat ke sana dan meninggalkan sang istri sendiri di Manado.


"Papi hati-hati ya, ingat jangan telat makan. Dikurangi kopinya!" ucap Stella sembari membantu sang suami mengancingkan kemeja yang beliau kenakan.


"Iya istriku, Papi pasti ingat itu. Oiya katanya nanti Vita mau datang. Kapan?" tanya Juan.


"Nggak tahu, Mami. Papi kata siapa?" Stella malah bingung.


Juan menatap aneh pada Stella. Perasaan Stella yang bilang. Eh, bukan. Lalu siapa? Juan mengingat pelan siapa yang memberitahu dirinya, jika sang adik ipar hendak pulang ke Manado.


"Bukannya Mami yang bilang?" tanya Juan, masih lupa tentang siapa yang telah memberitahu dirinya.


"Nggak, Mami nggak ada bicara pasal itu. Orang kemarin Vita cuma bilang lagi di Jakarta. Siapa yang kasih tahu? Pria jahat itu bukan?" Stella cemberut. Kesal sekali rasanya jika berbicara, terus tanpa sengaja itu pria tiba-tiba harus ia sebut.

__ADS_1


"Bukan! Papi udah lama nggak ngubungi dia. Oh, Papi ingat. Dia sendiri yang bilang kemarin. Gara-gara dia minta tanda tangan Papi. Kan Zein masih gabung di proyek lama kita, Mam. Sorry lupa Papi. Dia kan sekarang sekertarisnya pria tampan itu," jawab Juan, sembari tersenyum. Berniat meledek sang istri.


"Dih, ngapain senyum. Jelak tahu, Pi!" Stella menggerutu kesal.


"Duh cantiknya Berliana kalo cemberut," ledek Juan lagi, sembari mencolek dagu sang istri. Terang saja, Stella semakin kesal pada sang suami, yang seakan senang jika dia kesal.


"Papi ih, apaan sih!" Kali ini Stella tak mau terlalu serius. Sebab jika dia serius, yang ada Juan malah semakin gencar meledekanya.


"Jangan nakal, dijaga semuanya. Oke!" canda Juan.


"Jangan nakal apanya?" tanya Stella bingung. Padahal Juan hanya bercanda.


"Itulah!" Juan mengecup bibir Stella.


"Duh, Papi apaan sih. Nggak jelas banget deh!" ucap Stella kesal.


"Astaga, cepet ama sih kesel. Padahal Papi cuma becanda doang. Ya udah salim, Papi jalan dulu." Juan mengulurkan tangannya. Kemudian Stella pun menyambut uluran tangan itu. Tak lupa Juan juga memberikan ciuman ter mesranya di bibir wanita yang ia cintai ini.


Sebenarnya Stella ingin ikut kemanapun sang suami pergi. Namun, Juan melarang. Sebab Berliana masih sangat kecil untuk bebergian keluar negeri. Bukan hanya bocah cantik itu yang menjadi kendala. Ada ibu Anti yang masih ingin Stella berada di dekatnya.


Terbukti sekarang Anti suka sekali tersenyum. Sudah mau makan sendiri. Mandi sendiri dan tak mau memakai baju pasien lagi. Anti ingin memakai baju yang lain. Seperti yang dipilihkan Stella untuknya. Kesehatan wanita paruh baya ini semakin menunjukkan kemajuan. Membuat Stella dan Vita bahagia.


***


Di sudut ruang yang lain, Vita tersenyum sebab sahabatnya telah mendapatkan promosi sebagai manajer salah satu restoran di mana tempatnya bekerja. Namun, dengan syarat ia harus mau dipindah tugaskan ke luar Jawa.


Tak ada alasan bagi wanita ayu itu untuk menolak. Baginya mau di Jakarta, mau di manapun itu tak masalah. Asalkan jangan di Batam. Sebab keluarga besar sekaligus mantan kekasihnya ada di sana. Safira tak mau bertemu dengan mereka. Baginya mereka adalah masa lalu dan luka lama. Yang harus ia pendam dan lupakan. Safira ingin bahagia. Dengan caranya sendiri.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2