PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Sahabat Sejati


__ADS_3

Hampir tiga jam Safira menunggu. Nyatanya kedua pria itu seakan sengaja.


Sengaja tidak mau membalas pesan darinya. Sepertinya mereka memang menguji kesabarannya.


"Awas aja nanti kalo sampai dia telpon. Lihat aja, aku nggak bakalan angkat. Aku bakalan jual mahal," ancam Safira kesal.


Untuk menghilangkan rasa kecewa yang menderanya, Safira pun memilih merapikan barang-barangnya. Memilih menata kembali barang miliknya.


Tak sengaja, ketika ia sedang merapikan barang-barang miliknya, Safira melihat satu tas yang memiliki kenangan indah dalam hidupnya.


Tas itu adalah pemberian dari sahabat karipnya.


Vita, ya... tas itu diberikan Vita untuknya di saat dia ulang tahun, tiga tahun yang lalu. Tas itu adalah hadiah pertama dari seseorang selama ia berada di dalam perasingan. Tas itu adalah tas yang diberikan oleh satu-satunya orang yang peduli padanya kala itu.


Lalu sekarang, orang itu dalam kesusahan dan dia sendiri seolah tutup mata, hanya karena orang tersebut sedang memiliki masalah dengan keluarganya.


Seseorang itu dituduh telah menjadi penyebab kelumpuhan yang di alami oleh saudara kembarnya.


Sungguh, jika diingat-ingat, ini memang tak adil untuk seseorang itu. Sebab ini tidak sepenuhnya salahnya. Ini tidak kecelakaan. Bukan ulah sengaja wanita itu.


Lalu untuk apa dia harus menghakimi seseorang yang menurutnya tidak pantas untuk di hakimi.

__ADS_1


Oke, fine... Vita memang terlibat perihal hati dengan sang abang. Tetapi, apakah itu salah? Bukankah perihal hati itu tidak ada siapa yang tahu? Bukankah perihal perasaan itu tidak ada seorangpun yang bisa menolak?


"Salah ini salah, harusnya aku nggak ikut-ikutan menghakimi Vita. Dia nggak salah dalam masalah ini. Dia hanya mencintai abang. Dia hanya harus memilih. Karena ia tak mungkin menjalin kasih dengan mantan abang iparnya yang pernah menyakiti kakaknya. Oke fine, Vita, fine. Aku mengerti posisimu. Aku mengerti perasaanmu. Maafkan aku yang ikut menghakimi tanpa mau mempelajari apa yang seharusnya aku pelajari. Maafkan aku yang tak bisa mengerti akan pemikiran mu. Maaf, Vita," ucap Safira ketika memandang tas yang diberikan oleh sahabat terbaiknya itu.


Untuk menebus rasa bersalahnya itu, Safira pun berniat untuk mengajak Vita bertemu.


Safira mengambil ponselnya. Bermaksud menghubungi sahabatnya itu.


Beruntung, saat itu Vita sedang online. Dengan cepat wanita ayu itu pun segera menyambut panggilan telpon tersebut.


"Assalamu'alaikum, Ra? Apa kabar?" tanya Vita di seberang sana.


"Waalaikumsalam... Aku baik, Vit. Kamu sendiri gimana? Luis udah sadar belum?" tanya Safira balik.


"Aku paham, Vit. Aku turut sedih dengan nasib yang menimpa rumah tangga kalian. Oiya, Vit. Aku mau sorry sama kamu. Udah lama nggak berkabar sama kamu. Maaf ya, Vit!" pinta Safira sungguh-sungguh.


"Iya, Ra. Nggak pa-pa. Aku ngerti kok. Aku paham, pasti orang tuamu marah sama aku karena udah bikin abangmu celaka. Aku juga minta maaf untuk semuanya ya Ra," jawab Vita tak kalah serius.


"Iya, Vit. Aku juga nggak mau bohong. Mereka memang marah sama kamu. Tapi aku, Insya Allah nggak. Insya Allah aku bisa mengerti kisah antara kamu dan abang. Aku turut sedih dengan kisah kalian. Tapi kalian sungguh luar biasa. Karena bisa mengambil keputusan seberat ini. Cinta kalian sungguh dewasa, Vit. aku salut," ucap Safira serius.


"Entahlah, Ra. Kamu tahu kemarin, saat ini dan sampai nanti, ada hati yang harus aku jaga. Ada perasaan yang harus lebih aku utamakan. Dia lah yang berani memperjuangkan aku, Ra. Dia yang mau menerimaku dan mau mengajakku mewujudkan cinta. Aku tak mungkin menolaknya, Ra. Dia... dia... dia adalah pria yang.... " Terdengar isak tangis Vita.

__ADS_1


Ya, Vita memang tak bisa berbohong bahwa pada kenyataannya dia memang serakah. Serakah karena telah membiarkan dua cinta memasuki hatinya. Serakah karena telah membiarkan dua cinta itu terluka karenanya.


"Sabar ya, Vit. Ini adalah ujianmu. Namun, aku tidak berbohong. Aku tetap salut padamu. Lebih memilih menjaga perasaan keluargamu dari pada memilih cinta pertamamu." Safira berkata demikian karena ia yakin, jika Vita telah terlibat dengan cinta bersama Zein, jauh sebelum dia memilih Luis.


"Cinta pertama apa? Ngawur kamu," sangkal Vita, terkekeh.


Namun, Safira tahu jika dinbalik tawa itu ada tangis yang Vita coba sembunyikan darinya.


"Aku tidak bodoh, Novita. Juan juga tahu. Bang Rehan apa lagi, pria itu sangat jeli perihal hati. Lutfi saja yang baru mengenal kalian sudah paham, kalo sebenarnya kamu dan abangku terlibat satu rasa. Sudah jangan menyangkal lagi," balas Safira. Sedikit menyudutkan Vita, tetapi tak ada gunanya.


Vita tetap berpedoman pada pemikirannya. Bahwa ada cinta yang harus ia pertahankan. Ada hati yang harus ia jaga. Vita tak mau terpancing dengan hal yang bisa menghancurkan rumah tanganya dengan Luis.


"Ya ... ya... anggap saja kalian benar. Tapi aku tetap pada pendirian ku. Bahwa aku harus tetap bersama Luis. Aku mencintainya. Titik," jawab Vita mantap dengan pilihannya.


"Oke... aku pun tak mungkin memaksamu untuk memilih Vita. Aku tahu bagaimana beratnya tanggung jawab sebagai istri. Karena aku sendiri saat ini juga sedang berjuang menjadi istri yang baik. Yang mencintai suaminya. Yang menerima keadaan sang suami apa adanya. Namun apalah daya, aku dicuekin seharian ini. Telpon nggak diangkat. ngechat nggak dibalas. Terus aku mesti gimana?" ucap Safira kesal, seakan ia lupa tujuan awalnya menghubungi sang sahabat.


Safira jadi curhat. Membuat Vita ingin tertawa. Karena Safira yang ia kenal telah kembali. Tak bisa menyimpan dukanya. Tak bisa menyimpan amarahnya. Wanita ini selalu butuh seseorang yang ia percaya untuk mendengarkan keluh kesahnya. Dan Vita adalah orang ia anggap tepat untuk menjadi pendengar sejati keresahannya.


Ya, Novita dan Safira adalah dua wanita yang selalu bisa saling melengkapi sejak mereka kenal di Sydney. Merasa senasib adalah alasan utama dua wanita ini bisa menjadi sahabat sejati sampai saat ini. Walaupun tak dipungkiri bahwa sa'at ini kedua keluarga mereka sedang dalam kondisi yang sedang tidak baik.


Bukan mereka tidak peduli. Tetapi mereka hanya mau bersikap rasional saja. Kenapa harus ikut campur masalah orang lain, padahal masalah tersebut seharusnya bisa dibicarakan baik-baik. Bukankah masalah yang terjadi saat ini bisa diatur sesuai prosinya. Bukankah harusnya begitu?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2