PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
HANCURNYA SEPOTONG HATI


__ADS_3

*Like like jan lali😊😊*


*****


Juan dan Stella telah berada di anak tangga terakhir. Namun mereka berdua masih fokus pada langkah kaki Stella. Terlihat beberapa kali wanita ini berhenti melangkah. Mengatur napasnya lagi. Lalu melangkah lagi. Rasa mulas semakin sering menyerang. Sehingga ia hanya fokus pada anak tangga yang hendak ia injak. Tatapannya terus ke bawah, takut salah pijak dan jatuh. Stella harus lebih hati-hati. Meski terasa sakit, ia tak boleh terburu-buru. Ada dua nyawa yang sedang ia jaga. Nyawanya dan nyawa bayi yang ada di dalam kandungannya.


Juan pun tetap siaga menjaga tubuh dan langkah kaki wanita ayu ini. Jangan sampai ia ambruk di tengah jalan. Juan tak ingin menyesal nantinya.


Melihat sang sahabat kerepotan. Dengan cepat Rehan langsung membatunya, memapah Stella. Sebab, Stella telihat tak mampu lagi melangkah. Sepertinya 'saat' Stella untuk melahirkan sudah dekat.


"Masih kuat, Mam?" tanya Juan.


"Kayaknya udah nggak, Pi. Sakit banget!" jawab Stella sedikit berteriak. Matanya berkaca- kaca. Keringat dingin mulai keluar dari kening wanita ayu ini. Juan pun gugup.


"Sebaiknya langsung ke rumah sakit aja, Bro. Kayaknya pembukaannya udah banyak ini," ucap Rehan. Pria ini pasti sudah tahu, sebab dia lebih berpengalaman dibanding Juan.


"Oke, deh," jawab Juan. Spontan ia pun langsung membopong Stella dan membawanya keluar rumah. Sedangkan Rehan juga siap. Ia pun berlari di depan Juan dan bersiap membukakan pintu untuk sahabatnya.


"Jangan gugup, Bro. Kamu harus lebih kuat dari dia. Mengerti!" ucap Rehan memperingatkan.

__ADS_1


"Siap, Bro!" jawab Juan tegas.


Beruntung Gani juga siaga. Melihat sang big bos buru-buru, ia pun tanggap dan langsung membuka pintu mobil untuk mereka.


"Makasih, Gan," ucap Juan


"Re, bantu aku sekali lagi ya, tolong bawa mobil Stella. Perlengkapan ibu dan bayi ada di sana. Sampaikan maafku pada bosmu," pinta Juan, tak menunggu jawaban Rehan . Ia pun langsung masuk ke dalam mobil untuk menenangkan Stella, yang menahan tangis karena sakit yang ia rasakan.


Tanpa banyak bicara Rehan pun menyanggupi permintaan sang sahabat. Sedangkan Gani langsung menyalakan mobil dan mulai melajukan kendaraan tersebut dan bersiap membawa sang majikan ke rumah sakit.


***


Di dalam rumah Juan, ada Zein yang terduduk lemas. Memegang kepalanya, yang terasa ingin meledak. Menatap nanar pada lantai yang seakan menertawakannya. Menangis menyesali apa yang pernah ia lakukan pada wanita itu.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rehan pelan.


Zein tak mampu menjawab. Ia hanya bisa menangis dalam diam.


"Kamu harus kuat demi Stella. Bagaimanapun ini juga tak mudah baginya," ucap Rehan lagi. Berusaha menasehati agar Zein mengerti, bahwa bukan hanya dia yang sakit. Jika Stella tahu jika dirinya hadir sekarang, entah apa yang akan terjadi pada wanita itu.

__ADS_1


Zein mengusap kasar air mukanya. Mencoba menahan diri agar tidak emosi.


"Sejak kapan kamu tahu jika istri Juan adalah dia?" tanya Zein pelan.


"Jangan memancing keributan sekarang, Zein. Aku tahu kamu pasti kecewa. Namun ingatlah, jangan meluapkan emosimu sekarang. Jangan tujukan apapun pada Juan untuk saat ini. Kamu tahu, menghadapi istri yang hendak melahirkan tak semudah bayangan. Belaham jiwanya sedang berjuang antara hidup dan mati. Aku harap kamu mengerti Zein," ucap Rehan memperingatkan.


Zein tak bisa menjawab apa yang Rehan katakan. Karena sejatinya apa yang asiatennya ini katakan adalah benar. Zein harusnya bisa menahan diri untuk tidak marah.


"Kenapa ini harus terjadi padaku, Re? Sesakit inikah kehilangan?" tanya Zein pada Rehan.


Rehan diam. Mencoba menjadi pendengar untuk sepotong hati yang kini sedang merasakan bagaimana sakitnya kehilangan.


"Aku ingin memperbaiki kesalahanku, Re. Makanya aku mencarinya. Sayangnya aku terlambat. Dia sudah bahagia, tapi mengapa harus dengan sahabatku sendiri. Pria yang sudah aku anggap kakak, Re. Aku harus bagaimana?" Zein kembali menangis. Suaranya mulai serak, seperti tak siap berteman dengan kesendirian.


"Menurutku, sebaiknya kita ke rumah sakit. Ada barang yang dibutuhkan Stella dan bayinya. Namun, jika kamu tak sanggup. Biar aku sendiri yang pergi. Kamu tunggu di sini atau?" tanya Rehan.


"Tidak, untuk saat ini aku nggak mau membuat Juan curiga. Aku akan coba menahan egoku!" jawab Zein lemah.


"Bagus itu lebih baik, aku harap kamu bisa lebih dewasa, Bos," balas Rehan. Kemudian tak ada perbincangan lagi. Rehan tak mau membangunkan sisi egois yang di miliki pria ini. Lebih baik sekarang diam dan tetap berusaha memadamkan api egois Zein yang mungkin sewaktu-waktu bisa menyala.

__ADS_1


Beberapa kali Rehan melirik Zein yang masih diam membisu. Sebenarnya ia kasihan, namun mau bagaimana lagi. Zein harus tetap menerima konsekuensi atas kesalahannya.


Bersambung....


__ADS_2