
Ternyata Zein memang serius dengan keinginannya untuk menjadikan Zi istrinya. Untuk menjadikan sahabatnya itu pendamping hidupnya. Meskipun jujur, sebenarnya belum ada cinta yang tumbuh di hatinya, namun Zein yakin suatu hari nanti cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu.
Yang paling penting baginya saat ini adalah nyaman. Ia nyaman bersama Zi sebab kenyamanan yang Zi berikan kepadanya, tidak ia dapatkan dari wanita manapun yang pernah singgah dalam hidupnya.
***
Hari ini, Laskar dan Laila menyempatkan diri untuk menemani Zein terapi di rumah sakit di mana Zizi bekerja. Namun, hari ini, bukan jadwal Zi yang mendampinginya terapi. Tetapi suster lain.
Di sini bukan hanya Zein yang clingukan mencari perawat cantik itu. Laila dan juga Laskar juga terlihat celingukan mencari gadis itu.
"Teman kamu yang perawat itu mana, Zein? Kok nggak kelihatan?" tanya Laskar.
"Nggak tahu, Pa. Mungkin dia jaga malam," jawab Zein asal, padahal dia sendiri juga penasaran, ke mana perginya sahabatnya itu.
"Ohhh," Laskar diam.
Melihat sang putra sedikit murung, Laila pun bertanya, "Kamu bertengkar dengan dia, Zein?"
Zein mengangkat wajahnya dan menjawab, "Nggak, Ma. Tapi sejak Zein ngajak dia nikah, dia kayak menjauh gitu dari Zein. Entahlah, mungkin dia marah!" jawab Zein jujur.
"Ngajak nikah? Kamu serius?" tanya Laila dengan senyum sumringahnya, sepertinya dia senang jika apa yang diucapkan sang putra adalah suatu kebenaran.
Jika Tuhan mengizinkan Zein menikah dengan Zi. Laila yakin itu adalah jalan kebahagiaan terbaik untuk Zein. Karena Laila bisa melihat dengan jelas ketulusan gadis itu dan Laila yakin, Zi pasti bisa menjadi istri yang baik untuk Zein.
__ADS_1
"Iya, Ma. Zein serius," jawab Zein, serius.
"Oke! kejar putraku, mama dipihakmu," ucap Laila semangat.
"Bagaimana dengan papa, Ma?" tanya Zein sedikit takut.
"Masalah papa, biar Mama yang yang urus. Yang penting sekarang kamu harus sembuh, bisa jalan lagi, lalu kita lamar dia. Jangan lepaskan wanita seperti itu, Zein. Dia adalah mutiara, mama yakin itu," ucap Laila lagi.
Zein tersenyum sebab ia dan ibu sambungnya ternyata satu frekuensi. Apa yang dilihat Zein dalam diri Zi, ternyata juga sama seperti apa yang di lihat oleh sang ibunda.
Hampir satu jam Zein berbincang dengan Laila, dan kini tibalah saatnya ia masuk ke dalam ruang terapi. Di sana sudah ada dokter yang biasa membantunya belajar berjalan.
Melihat raut wajah Zein yang berasa lain, sang dokter pun bertanya, "Nungguin seseorang ya, Pak?"
"Oh, berarti doi udah pamit ya," canda dokter itu lagi.
"Pamit? Dokter lagi ngomongin apa sih?" tanya Zein bingung.
"Saya lagi ngomongin suster Zizi, Pak. Dia pulang kampung kan. Kakeknya suruh dia balik, katanya mau dijodohin," ucap dokter itu lagi.
"Apa?" pekik Zein kaget. Karena yang Zein tahu, Zizi tidak memiliki keluarga lagi. Ayah dan ibunya serta adiknya telah meninggal. Lalu sekarng tiba-tiba saja ia mendengar kabar kalau Zizi memiliki kakek.
"Aduh, kaget aku, Pak? Kirain Bapak udah tahu. Tadi pagi baru berangkat di jemput sama orang suruhan kakeknya," ucap Dokter itu lagi.
__ADS_1
Seketika, Zein pun membatalkan jadwal terapinya. Lalu ia pun segera menghubungi Zizi apakah kabar yang ia terima ini benar atau tidak. Sayangnya Zizi tidak menjawab panggilan telponnya.
Tak ingin kehilangan jejak Zi, Zein pun mencari lokasi ponsel tersebut. Beuntung, tanpa sepengetahuan Zizi, Zein menghidupkan setting lokasi yang ada di ponsel gadis itu. Sehingga ini memudahkan pria itu untuk mencari lokasi Zi, jika ia kehilangan jejak gadis itu.
"Makasih infonya, Dok. Terapinya kapan-kapan aja, saya permisi. Mari!" ucap Zein seraya memutar kursi rodanya dan segera berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
"Zein kok terapinya cepat sekali?" tanya sang ibunda.
"Ma, temenin Zein ke kampung Zi, yuk! Calon istri Zein mau dijodohin, Ma," ucap Zein gugup.
"Apa?" pekik Laila tak kalah terkejut. Sedangkan Laskar hanya menatap heran, sebab sejatinya ia tak paham dengan apa yang anak dan istrinya sedang bicarakan.
"Yuk, Ma!" ajak Zein tak sabar.
Tak ingin mengecewakan sang putra, Laila pun segera menarik tangan sang suami untuk mengikuti langkahnya. Sedangkan Laskar pun hanya menurut. Meskipun, sejujurnya dia bingung.
"Ada apa toh, Ma?" bisik Laskar pada sang istri.
"Pacar anak kita mau dijodohin sama keluarganya, Pa. Ayo kita temenin putraq kita jemput pujaan hatinya. Sebelum terlambat," jawab Ibu Laila sembari mengikuti laju kursi roda yang di naiki oleh Zein.
Sepertinya Laskar masih lambat berpikir. Sungguh ia merasa seperti orang bodoh, Bagaimana tidak? siapa yang orang tua kandung di sini? Tapi dia malah tak tahu apa. Sampai Zein punya pacar pun dia tidak tahu. Yang tahu segalanya tentang putra putrinya malah sang istri dan ini sangat membingungkan baginya.
Laskar jadi bertanya-tanya, apa yang kurang dari dirinya sebagai seorang ayah. Kenapa putra-putrinya lebih dekat dengan istrinya? Padahal, Laila hanyalah ibu sambung dari mereka. Tapi laila malah menjadi pemenang dalam hati putra-putrinya.
__ADS_1
Bersambung ....