PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Ada Susah Ada Senang


__ADS_3

Di dalam mobil, Juan dan Sera terus berdoa agar tak terjadi apapun pada Stella. Mereka berharap Stella dan bayinya selamat. Karena hanya itulah harapan yang Juan inginkan untuk saat ini. Dalam hati pria ini, ia kan membuat perhitungan dengan keluarga Zein, jika sampai terjadi sesuatu dengan istri dan juga bayinya. Juan tidak akan memaafkan siapapun yang berani mengusik wanita yang sangat dicintainya ini. Apa lagi mengorek masalah yang ia anggap sudah selesai.


Selama ini, Juan sudah cukup diam. Tidak membalas apapun yang Zein lakukan. Karena ia masih berpikir, bahwa pria itu adalah sahabatnya. Ayah kandung dari putrinya. Juan masih waras, karena tak ingin menjadikan sang putri seorang yatim dalam nasabnya. Namun, kebaikannya itu seakan tidak terlihat oleh keluarga Zein. Membuat Juan muak.


Beruntung jarak antara rumah Juan dan rumah sakit bersalin tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu sepuluh menit. Mereka pun sudah sampai ke tempat tujuan.


Dengan cepat Sera pun keluar mobil dan meminta bantuan pada para medis yang sedang bertugas.


Lagi-lagi Juan dibuat panik, Stella masih diam, bergeming, belum mau membuka mata. Napasnya juga terlihat melemah.


Sungguh, andai saat ini tidak sedang berada di rumah sakit. Mungkin pria ini sudah berteriak memanggil sang istri.


Rasanya, semua ketakutan mengepungnya membuat Juan gemetar.


Stella telah di masukkan ke dalam sebuah kamar penanganan. Dokter yang menangani Stella, menyarankan agar Stella menjalani operasi saja. Sedangkan Juan sendiri hanya bisa pasrah. Yang penting bagi pria ini adalah keselamatan anak dan istrinya.


"Sabar Juan! Percayalah, Ste pasti baik-baik saja." Sera menepuk pelan pundak Juan. Berusaha memberi kekuatan pada menantunya itu.


"Iya, Ma. Tapi aku nggak bisa melihat dia menderita. Kasihan sekali dia," ucap Juan sedih.


"Selesai istrimu bersalin, sebaiknya kita ketempat keluarga Zein. Kita selesaikan masalah ini segera. Mama nggak mau sampai semua berlarut-larut. Mereka harus paham dan mengerti, jika putra merekalah yang harusnya mereka hakimi. Bukan kita yang selalu dipojokkan. Jika mereka masih ngotot, kita nggak punya jalan lain selain melawan dengan hukum. Kita nggak boleh terlalu mengalah dengan mereka, Juan," ucap Sera.


"Mama benar. Sebenarnya aku nggak ingin berurusan dengan mereka lagi, Ma. Tapi mau gimana? Mereka seperti bayangan dalam hidup ini. Ada aja yang mereka lakukan. Entah kenapa mereka suka sekali bikin masalah denganku." Juan menyederkan tubuhnya. Seperti merasa sangat lelah dengan apa yang terjadi padanya beberapa hari ini.


"Kamu tenang aja Juan, Mama akan selalu ada untuk kalian." Sera tersenyum.


"Makasih, Ma. Makasih untuk bantuan dan pengertian Mama semalam ini," jawab Juan seraya membalas senyuman sang ibu mertua.

__ADS_1


***


Di sisi lain, Zein juga shock mendengar kabar tentang apa yang terjadi pada Stella. Bagaimana tidak? Saat ini, detik ini, apa yang ia takutkan menjadi kenyataan.


Masalahnya bukan hanya terletak pada persahabatan antara dirinya dan Juan. Tetapi sudah merambah pada nyawa Stella dan bayinya. Membuat Zein hampir gila dibuatnya.


Melihat sang putra kebingungan mencari sesuatu, akhirnya Laila pun bertanya, "Zein cari apa?" tanya Laila.


"Aku cari kunci mobil, Ma. Stella sedang dalam bahaya. Dia stres karena memikirkan apa yang kalian lakukan. Dan sekarang dia tak sadarkan diri. Kata dokter dia harus segera di operasi. Sudah ku bilang kan, jangan mengusik mereka. Kalo sudah begini, gimana, Ma? Stella stres gara-gara kalian. Aku nggak enak sama Juan, Ma. Juan itu sahabatnya, dan perpisahan antara aku dan Ste juga karena kebodohanku," ucap Zein mulai mau mengeluarkan unek-unek nya.


"Kamu jangan ngarang, Zein. Kami di sini untuk memperjuangkan hakmu," jawab Laila tak mau disalahkan.


"Hak mana yang Mama maksud?Aku membatalkan pernikahan usai kami melakukan malam pertama. Karena aku pikir Ste sudah tidak suci lagi saat menikah denganku. Aku memvonis wanita malang itu, tanpa kucari tahu kebenarannya. Andai Mama tahu, setelah aku mengembalikan dirinya kepada kedua orang tuanya, Stella dihajar habis-habisan oleh ayahnya. Dia bahkan hampir mati, Ma. Lalu, Juan datang dan menyelamatkannya wanita itu. Sekarang katakan? Dilihat dari segi mana hak yang Zein miliki, Ma?" ucap Zein panjang lembar. Berharap Laila paham akan kondisinya. Berharap Laila mengerti, tidak berpikir kolot lagi seperti ayahnya.


"Maafkan Mama, Zein. Mama tidak tahu!" balas Laila sedih.


"Zein, tunggu, Mama mau ikut. Mama nggak akan tenang sebelum memastikan kalo istri Juan baik-baik saja. Tunggu Zein tunggu!" pinta Laila sembari berlari hendak mengambil tas tangannya.


Jika begini, Zein tak mungkin menolak. Laila memiliki tujuan yang baik. Setidaknya ia mau bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.


Masalah Juan nantinya mau menerima atau tidak, itu adalah urusan nanti. Yang penting saat ini, ia harus memastikan bahwa istri sang sahabat baik-baik saja.


***


Di sudut ruang yang lain, ada Lutfi yang saat ini sedang sibuk dengan laporan toko yang sedang ia pegang. Sebab, sang big bos tiba-tiba memintanya untuk memeriksa laporan ini.


"Kok, kamu yang ngerjain semua. Emang, abang ke mana?" tanya Safira sembari membawakan secangkir susu hangat untuk sang suami.

__ADS_1


"Abang pulang ke Batam. Katanya ada urusan penting," jawab Lutfi jujur.


"Urusan penting? Apa itu? Apakah mama papa sakit?" tanya Safira penasaran.


"Bukan, Bun. Pastinya sih aku nggak tahu, cuma tadi buru-buru. Pesan tiketnya juga buru-buru," jawab Lutfi apa adanya.


"Oh, baiklah. Aku ke Naya dulu ya. Jangan malam-malam kerjanya. Kalo capek istirahat. Ok!" ucap Safira sembari mengelus pundak sang suami.


Lutfi yang merasa punya kesempatan bermanja-manja, tentu saja tak mau menyia-nyiakan momen ini. Ia pun menarik pinggang sang istri dan meminta wanita itu untuk menciumnya.


"Jangan pergi dulu! Cium aku dulu!" pinta Lutfi manja.


"Ih, manja," jawab Safira malu-malu.


"Kapan lagi aku bisa memilikimu. Kamu selalu sibuk dengan Naya. Sebenarnya tujuanmu menikah denganku itu apa?" canda Lutfi sembari memeluk mesra pinggang sang istri.


"Tujuanku menikah denganmu hanya satu. Memiliki uangmu dan juga apapun yang berharga darimu. Termasuk putrimu," balas Safira dengan candaannya juga.


"Kamu mau aku kasih yang lebih berharga dari apapun?" tanya Lutfi lagi. Kali ini serius, tetapi masih dengan nada bercanda.


"Apa itu?" tanya Safira lugu.


"Calon adiknya Naya, mungkin," jawab Lutfi. Spontan Safira pun melepaskan kasar tubuhnya. Tentu saja ia takut. Karena dia memang belum siap memulai.


Tak ingin termakan oleh akal bulus Lutfi, Safira pun segera berlari masuk ke dalam kamar. Malas saja meladeni kekonyolan pria itu.


Sedangkan Lutfi sendiri hanya tertawa, lucu saja melihat wajah tegang Safira. Lutfi memang seperti itu. Membuat Safira gugup dan salah tingkah adalah hobinya dan ia merasa Safira adalah hiburan tersendiri baginya. Setelah Naya tentunya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2