PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
BAHAYA MENGANCAM


__ADS_3

Zien benar-benar menyesali keputusannya datang ke tempat itu. Andai dia tahu, bahwa di tempat itu ia akan terluka. Maka dia tak akan pernah menginjakkan kakinya di sana. Kini pria tampan ini pun duduk termenung di sebuah taman yang ada di sekitar restoran tersebut. Memaki dirinya sendiri. Memarahi dirinya sendiri. Kenapa begitu bodoh. Mengapa baru menyadari bahwa hatinya ternyata menginginkan mantan adik iparnya tersebut.


"Tuhan, inikah hukuman untukku. Kehancuran bisnisku, lalu kini Engkau patahkan hatiku. Apakah aku sudah tak memiliki hak untuk bahagia, Tuhan?" tanya Zein pada sang Pemilik Hidup.


Tak terasa, air mata pria tampan ini kembali meluncur begitu saja. Sepertinya mereka ikut merasakan, betapa perih luka yang ada di hati pria tampan ini.


Sebenarnya Zein paham jika tidak semua yang ia cintai tidak bisa membahagiakannya. Tidak semua yang ia benci juga akan melukainya. Seperti pisau yang bagus bisa bisa saja melukainya. Namun, obat yang pahit, yang tidak ia suka, nyatanya malah bisa menyembuhkan rasa sakitnya.


Zein menghapus air matanya ketika ponsel yang ada di saku jaketnya berdering. Ternyata itu dari Luis. Yang tak lain adalah bosnya.


"Hallo, Pak!" sambut Zein.


"Kamu ada di mana?" tanya Luis di seberang sana.


"Saya ada di dekat restoran, Pak. Saya tadi mau ke sana, cuma takut menganggu. Ini baru mau menghubungi, Bapak!" jawab Zein berbohong.


"Oh, tolong pesan tiket ke Indo, sepertinya kita harus Kembali ke sana besok!" perintah Luis.


"Baik, Pak. Segera saya pesan," jawab Zein.

__ADS_1


"Oke makasih!"


"Sama-sama!"


Panggilan pun berakhir. Zein kembali terduduk lemas. Rasa sakit itu kembali menyerangnya. Menyerang sanubarinya. Sungguh, jika ia adalah Zein yang dulu, mungkin saat ini dia akan mengajar Luis yang berani menyentuh kekasih hatinya. Mungkin dia tak akan tinggal dia ketika melihat mereka berciuman seperti itu. Beruntung, kini pria ini telah berubah. Telah bisa mengatur egonya dengan sangat baik. Meskipun, perubahan sikapnya itu ternyata adalah sumber luka yang ia rasakan sekarang.


***


Berbeda dengan saudara kembar yang kini sedang dirundung duka. Kini ada Safira yang sedang menikmati pesta di sebuah club yang ada di kota di mana ia berada saat ini.


Kini, wanita ini tak lagi mampu berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Ia enggan memedulikan apapun sejak Juan menolaknya. Safira tak ingin terlalu memusingkan hidupnya. Yang ingin ia lakukan saat ini adalah mencari kebahagiaannya sendiri. Menciptakan dunianya sendiri. Tanpa memedulikan apa yang akan terjadi kedepannya.


"Berikan minuman ini pada wanita berbaju biru itu," pinta pria dengan tato di lengan tersebut.


"Baik, Bos!" jawab pelayan itu.


Sang pria tersenyum sembari memerhatikan apa yang dikerjakan oleh pria yang ia perintah. Berharap sang pelayan tersebut tidak gagal. Karena ia benar-benar sudah tak bisa menahan hasratnya untuk meniduri Safira.


Minuman yang dimaksudkan untuk Safira, akhirnya sampai juga ke tempat tujuan. Tanpa curiga, wanita seksi ini pun segera menenguk minuman tersebut. Alhasil, beberapa menit berlalu Safira merasakan sesuatu yang lain dalam tubuhnya.

__ADS_1


Tubuhnya terasa panas. Sangat-sangat panas. Seperti terbakar.


Menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya, akhirnya Safira memutuskan untuk keluar dari club itu dan berlari sekencang mungkin. Beruntung Safira masih bisa mengendalikan diri. Wanita cantik ini yakin, jika ada yang berniat jahat padanya. Ia pun segera mencari tempat persembuyian yang aman.


Namun, lagi-lagi ia terjebak dalam situasi yang kurang menguntungkannya. Terlihat segerombolan pria berlari mengejarnya. Safira masih berusaha menghindar. Berlari sekencang mungkin. Menjaga emosinya agar tetap stabil.


"Brengsek! Awas saja kalian!" ancam Safira kesal.


Lalu ia kembali berlari. Tak sengaja ia menabrak sebuah sepeda motor yang hendak melintas di depannya.


"Hoy, hati-hati!" teriak pria yang tak sengaja ia tabrak.


Safira pun menoleh. Segerombolan pria yang mengejarnya semakin dekat. Safira tak punya pilihan lain selain meminta tolong pada pria yang ia tabrak. Jika tidak ingin menjadi santapan pria-pria brengsek itu.


"Tolong saya, Bang! Mereka hendak menyakitiku!" ucap Safira memohon.


Melihat segerombalan pria berlari ke arah mereka, pria itu pun tak berpikir panjang. Langsung menarik Safira agar naik ke atas motornya. Lalu pria itu pun tancap gas dan membawa Safira pergi dari tempat berbahaya tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2