PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
ANCAMAN KESAL


__ADS_3

Tepat pukul 5 pagi, Juan meninggalkan Indonesia menuju Belanda untuk bertemu sekaligus menjemput wanita yang dicintainya. Pria ini terlihat begitu bersemangat. Terbukti beberapa kali ia mencium foto sang istri yang ada di layar ponselnya. Tak lupa ia juga membawa beberapa cemilan yang diinginkan sang istri. Sesuai info yang ia dapat dari adik ipar.


"Mari kita lihat wanita tukang merajuk, bagaimana ekpresimu bertemu dengan pria tampan idolamu ini ha?" ancam Juan , sembari tertawa lirih.


Sungguh, saat ini yang ada dalam bayangannya hanyalah ekpresi keterkejutan Stella ketika melihatnya. Juan sudah tak sabar menantikan saat itu. Saat di mana ia akan melihat Stella shock.


Sebenarnya, Juan sudah tak sabar. Sejak ia mengetahui keberadaan sang pujaan hati. Ingin rasanya ia langsung terbang ke tempat wanita itu berada. Andai saja Vita tak melarangnya. Andai saja Sera tak mewanti-wanti agar dirinya tidak gegabah, mungkin saat ia tahu bahwa anak dan istrinya ada di Belanda, ia sudah terbang ke negara itu tanpa mengulur waktu lagi.


Senyum terus mengembang di bibir pria tampan ini. Sebab, jika tak ada halangan, mungkin hari ini juga, ia akan bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Tunggu Papi, Berliana. Berliannya papi, kekasihnya papi. Kita akan bersama lagi sayang. Papi merindukanmu," ucap Juan pada foto gadis cilik yang tersenyum manis di layar ponselnya itu.


"Papi merindukanmu sayang," ucapnya lagi. Ya, Juan memang sangat mencintai Berliana, gadis cilik yang sudah membuatnya jatuh cinta dari sebelum gadis itu menjadi apa-apa. Sampai sekarang. Sampai bocah cilik itu selalu memanggilnya papi dengan mulut kecilnya. Bocah cilik yang selalu menyambutnya pulang bekerja. Dengan senyum menggemaskannya.


Juan tak mungkin melupakan setiap detail waktu yang telah ia habis kan bersama Berliana. Sebab, baginya, Berliana adalah segalanya. Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada gadis kecilnya itu.

__ADS_1


Dalam pikiran pria ini, ia akan membuat perhitungan dengan wanita yang memiliki pemikiran sempit itu. Bagaimana bisa dia memiliki pemikiran bodoh dan berani meninggalkannya itu. Kali ini Juan tak akan memberi kelonggaran sedikitpun pada wanita itu. Karena ia telah berani membuatnya gila. Berani meninggalkannya hanya karena ia kelapasan berucap.


Juan mencebikkan bibirnya kesal. Dalam pikirannya pria ini sudah menyusun banyak kata untuk memarahi wanita itu. Juan yakin, kali ini dia akan menang melawan wanita tukang merajuk itu.


***


Safira keluar kamar mandi dengan baju yang menurutnya sedikit aneh. Pelan namun pasti ia pun berjalan dekati pria yang telah menolongnya tadi malam. Menolongnya dari para pria bajingan yang hendak berniat memanfaatkannya itu.


"Terima kasih sudah menolongku," ucap Safira pelan. Tepat di belakang pria yang kini duduk anteng di sofa yang ada di ruangan sempit itu.


"Tidak perlu, aku sudah memesan taksi. Sebentar lagi pasti datang," balas Safira tak kalah ketus.


Mendengar jawaban tak bersahabat dari Safira, Sang pria tak peduli. Ia pun beranjak dari tempat duduk itu dan membaringkan tubuh gagahnya di ranjang single miliknya. Memejamkan mata, seakan tak ada siapa-siapa di sekitarnya.


"Dasar pria angkuh!" gerutu Safira kesal.

__ADS_1


Enggan memusingkan tingkah tak sopan pria itu, Safira pun memutuskan untuk pergi. Tanpa kata, tanpa berkenalan, tanpa berpamitan, Safira meraih tas dan juga baju kotornya, melangkah meninggalkan kontrakan sempit ini dan kembali pulang.


Di dalam taksi, Safira kembali menggerutu kesal. Menyesali sikap sombong pria yang menolongnya itu. Sebenarnya Safira berniat memberikan imbalan yang pantas untuk pria itu. Tetapi, setelah ia pikir-pikir, memberikan sesuatu pada pria sombong sepertinya hanya membuang-buang uang dan energi.


"Dia sombong sekali. Dasar pria gila menyebalkan! Awas saja kalo sampai ketemu lagi. Aku tidak akan menyapamu!" ancam Safira. Lagi-lagi tingkah pria sombong itu terngiang-ngiang di pikirannya. Safira sangat tidak terima diperlakukan tidak sopan seperti itu.


Pria itu memang menolongnya. Tetapi juga mengacuhkannya. Seakan dia membuat kesalahan yang tak bisa di maafkan. "Dasar!" Safira kembali melampiaskan amarahnya. Kali ini tidak cukup mengumpat. Tetapi meremas kesal baju yang kini ia kenakan.


Safira kesal, sebab ia merasa harga dirinya direndahkan oleh pria yang sama sekali tidak ia kenal, oleh pria yang baru sekali ia temui. Safira merasa terluka, sebab ia merasa baru kali ini ada pria yang enggan menatapnya. Bahkan terkesan meremehkan.


"Lihat saja, kalo sampai kita bertemu lagi. Aku akan membalasmu!" ancam Safira lagi.


Entahlah, nyatanya tingkah pria itu jauh mampu membuatnya marah di badung dengan para pria-pria yang hendak mencelakainya tadi malam. Mereka tidak ada apa-apanya. Bagi Safira, harga dirinya jauh terluka oleh sikap acuh pria itu. Sampai kapanpun Safira tak akan melupakan tingkah menyebalkan pria itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2