PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 6 (Lutfi n Safira)


__ADS_3

Lutfi memantapkan hatinya untuk meninggalkan rumah ini. Dengan membawa serta Naya, tentunya. Lutfi lelah karena selalu diremehkan oleh wanita itu. Lutfi malas jika harus tetap mengalah. "Memangnya siapa dia? Berani-beraninya memperlakukanku seperti itu."


Lutfi terlanjur kesal. Pria itu terlanjur marah. Sedangkan Safira tidak mau berterus terang akan apa yang ia rasakan. Mereka sama-sama tidak mau terbuka. Terlebih gengsi dan tidak mau saling mengerti.


Tak ingin terlalu lama terhanyut dalam dekapan dilema, Lutfi pun langsung mengajak pengasuh Naya untuk segera masuk ke dalam taksi yang telah ia pesan sebelumnya.


Hatinya serasa sakit, mana kala Safira tidak mencoba menggalanginya lagi. Wanita itu ternyata sangat teguh dengan pendirian yang ia miliki. Dia diam ketika suaminya melangkah pergi meninggalkannya. Safira benar-benar tidak membutuhkannya.


Namun, pemikiran itu berbanding terbalik dengan apa yang Safira alami. Pada kenyataannya, wanita ini justru menangis tersedu-sedu.


Menyesal, kenapa dia tadi tidak mencegah Lutfi pergi? Kenapa dia tidak kekeh ikut saja tadi? Kenapa ia terlalu angkuh untuk mengatakan bahwa dia sangat membutuhkan Lutfi? Bagaimana jika Lutfi berpikir berbanding terbalik denganya?


Pertanyaan-pertanyaan yang mengandung ketakutan itu terus saja mendesak hebat di sanubari wanita ini. Sampai melakukan apapun tak ingin. Ia hanya berbaring dan menangis. Ingin ikut tapi malu. Ingin menyusul tapi takut. Pikiran Safira terlanjur kacau. Sangat-sangat kacau.


***


Keadaan Safira dan Lutfi berbanding terbalik dengan keadaan Vita dan Luis.


Meskipun, saat ini Luis hanya bisa berbaring lemah di ranjang, Vita tetap merawatnya dengan baik. Mengajaknya berbicara setia saat. Mengajaknya berdiskusi setiap waktu.


Seperti yang mereka lakukan saat ini. Vita begitu telaten menyuapi sang suami makan. Sampai Luis merasa berdosa dan tak nyaman.


"Maaf!" ucap Luis ketika Vita menyuapinya minum.

__ADS_1


"Kenapa minta maaf, Dad?" tanya Vita, sambil mengelap sisa-sisa air yang menetes di bibir pria tampan itu.


"Aku hanya bisa merepotkanmu, Mam," jawab Luis jujur.


"No, tidak... kamu suamiku, kamu berhak mendapatkan cintaku, kamu berhak mendapatkan perhatianku, kamu berhak mendapatkan semua yang ada di diriku, termasuk kecupan ini," jawab Vita dengan candaan manis seperti biasa. Luis hanya tersenyum ketika sang istri mengecup bibirnya. Sebab ia sangat suka diperlakukan seperti itu.


Andai saat ini tubuhnya bisa bisa ia gerakkan. Pasti Luis tak akan menunggu waktu lagi untuk mengajak sang istri bercinta.


"Dih... dih... matanya begitu. Pengen ya?" canda Vita lagi.


"Iya, tapi nggak bisa," jawab Luis. Kesedihan tampak jelas di sana. Matanya berkaca-kaca seakan itu adalah rasa hati yang ia rasakan saat ini.


"Daddy pasti sembuh, dokter juga bilang kan, asalkan Daddy rajin terapi. Minum obatnya nggak telat, Daddy pasti bisa. Buktinya tangan Daddy sekarang udah nggak kaku lagi. Yang penting sabar, Mami pasti dampingi Daddy sampai kapanpun. Kita akan menua bersama, Dad. Percayalah!" ucap Vita yakin.


"Ya nggak juga, banyak kok Dad istri-istri baik. Banyak kok istri-istri sholehah. Dan Daddy adalah orang baik, Daddy berhak mendapatkan istri yang baik. Itu sebabnya, Mami mau jadi istri yang baik buat Daddy." Vita tersenyum. Lalu kembali memberikan kecupan penuh cinta di kening pria itu.


"Tidak ada yang lebih indah dari pernikahan ini, Mam. Mami luar biasa," puji Luis, serius.


"Daddy jangan begitu. Mami hanya sedang berusaha menjadi baik dan lebih baik. Dan semoga, Tuhan segera memberi Daddy kesembuhan. Bisa kembali normal lagi. Biar Daddy bisa ngantor lagi. Sekarang karyawan kita muda-muda, Dad. Daddy nggak pengen apa cuci mata gitu. Biar yang dilihat nggak Mami aja ni, pakek daster tiap hari," canda Vita, bukan bermaksud apa-apa. Vita hanya ingin membuat semangat Luis bangkit. Hingga pria ini selalu semangat untuk berjuang sembuh.


"Cuci mata apa, Mam. Bisa Lihat kamu tiap hari juga udah seneng. Biarin pakek daster, rambut digulung. Tapi cuan ngalir terus, bisa deket-deket Daddy lagi tiap hari. Apa lagi yang Daddy cari, Mam. Nggak ada?" jawab Luis jujur.


Menyadari dirinya tidak mampu berbuat apa-apa untuk sang istri, Luis hanya bisa pasrah. Apapun yang Vita berikan untuknya, itu adalah sebaik-baiknya hal yang ia terima. Luis tak ingin menuntut lebih, sebab pada kenyataannya Vita selalu memberikan yang terbaik untuknya. Bahkan untuk urusan dokter, Vita tak pernah melewatkan sekalipun jadwal cek up nya. Tak pernah melewatkan sekalipun jadwal terapi untuknya. Sebab Luis tahu, harapan sang istri akan kesembuhannya sangatlah besar.

__ADS_1


"Mam, besok ulang tahun Kak Ste loh, jangan lupa kirim hadiah!" ucap Luis mengingatkan.


"Astaghfirullah hal azim... Mami sampai lupa, Dad. Untuk Daddy ingetin, kalo nggak bisa ngamuk tu emak-emak," ucap Vita sembari tertawa senang.


Luis hanya tersenyum.


"Tapi kita kirim hadiahnya harus dua, Dad!" ucap Vita sembari mencebikkan bibirnya.


"Loh kok dua, satu lagi buat siapa?" tanya Luis lugu.


"Astaghfirullah, Daddy... Daddy lupa sama keponakan centil Daddy itu. Nanti dia nanya, hadiah buat Liana mana aunty, kenapa aunty sekarang cuma sayang sama Om Uis, aunty udah nggak sayang lagi ya sama Liana. Heemmm, langsung nangis ni aunty nya." Vita tertawa, begitupun Luis. Gurauan-gurauan kecil seperti itulah yang membuat Luis bahagia bersama Vita. Begitupun Vita, melihat senyum dan semangat Luis adalah hadiah terbaik untuknya.


"Okelah, kirim lah dua. Liana satu, Kak Ste satu. Eh beli tiga aja, satu buat ibu. Emmm..... empat boleh deh, satu buat Mami," ucap Luis sembari meremas tangan Vita.


"Duh, makasih, Daddy. Ingat juga sama ibu. Emmmm, sweetnya.... Eh Dad, ngomong-ngomong Mami boleh nggak ke Batam. Kangen ibu ni, sehari aja," ucap Vita meminta izin.


"Boleh, tapi janji sehari ya, dua hari deh. Janji jangan lama-lama," jawab Luis dengan senyum keikhlasannya. Meskipun sebenarnya berat, entahlah, kota itu seperti memberikan kenangan pahit untuknya. Ia kehilangan kebebasannya di sana. Ia kehilangan satu-satunya keluarga kandung, juga di sana. Meskipun pada Akhirnya Tuhan mengirimkan seorang wanita yang luar biasa untuknya. Luis tetap saja resah dengan kota tersebut.


"Makasih banyak atas pengertianmu ya, Dad," ucap Vita penuh haru, sebab ia sangat tahu bahwa sang suami sangat tidak nyaman dengan kota itu. Namun, dengan keikhlasan Luis membiarkan dirinya pergi ke kota itu, membuktikan bahwa Luis sangat mencintainya.


Bersambung...


komennya like n votenya selalu aku tunggu...

__ADS_1


__ADS_2