
Rasanya tidak adil untuk Zi jika zein masih menyimpan rasa untuk wanita yang pernah merebut hatinya itu.
Namun, mau bagaimana lagi? nyatanya, saat ini hati Zein kembali merasakan sesuatu yang tidak diinginkan oleh siapapun. Termasuk Zein sendiri.
Cinta tak sampai antara Zein dan Vita itu nyatanya meninggalkan segenggam luka. Nyatanya masih menundang sebuah dilema.
Zein tidak menyesali pernikahannya dengan Zi. Namun, Zein juga tidak bisa tidak memikirkan Vita.
"Gadis itu, ya TUhan!" teriak Zein dalam hati.
Bukan perihal cinta, bukan perihal rasa yang saat ini kembali mengapung ke permukaan. Namun, perihal bagaimana nanti jika dia sampai bertemu lagi dengan wanita yang mungkin belum sepenuhnya mampu ia keluarkan dari dalam hatinya.
Sakit, perih ... sudah pasti. Zein kembali memunculkan sifat aslinya dalam sebuah hubungan. Egois dan memikirkan dirinya sendiri.
Diam-diam, saat ini Zein menginginkan dua hati itu. Zein ingin tetap mencintai Vita, namun juga tak ingin kehilangan Zizi. Zein ingin tetap memiliki Zizi dan memeluk hati wanita itu. Namun juga enggan melepaskan Vita.
Bagaimana ini?
Memikirkan itu dua hati yang sama-sama ia ingin kan ini, jujur membuat Zein susah tidur sehingga membuat sang istri merasa aneh.
"Kenapa, Mas?" tanya Zizi.
"Ah, nggak ... kamu tidur aja, aku belum ngantuk,"jawab Zein seraya mengambil ponselnya dan pura-pura membalas pesan.
"Kalo ada masalah, sebaiknya dibicarakan, Mas. Jangan dipendam sendiri," ucap Zi mengingatkan.
"Aku sendiri saja nggak tahu apa yang aku risaukan. Bagaimana bisa aku cerita," gumam Zein. Pria tampan ini hanya menatap aneh ke arah sang istri, seolah meminta pada wanita itu untuk tidak mengganggunya saat ini.
__ADS_1
Zein ingin di beri waktu untuk menyendiri. Memikirkan baik buruknya apa yang hatinya inginkan.
Maafkan aku, Istriku. Mungkin ini nggak ada bagimu, namun... aku sendiri juga tersiksa oleh keinginan hati yang mungkin sukses membuatku hampir gila ini... please tolong maafkan aku, batin Zein.
"Baiklah kalo nggak ada apa-apa, sebaiknya kamu tidur. Biar besok badannya nggak sakit-sakit lagi. Jangan pikirkan apa yang membuatnya stres. Nanti tekanan darahmu kambuh lagi," ucap Zi mengingatkan.
Zein tersenyum, meskipun jujur sebenarnya ia menangis. Menangis karena tak sanggup membendung rasa yang saat ini mengepungnya.
Sekuat tenanga Zein membendung rasa itu, namun keinginannya untuk mengetahui bagaimana kabar Vita saat ini, membuat pria ini akhirnya membuka ponsel lamanya dan mencari nomer ponsel wanita tersebut..
Zein menatap Zizi yang saat ini telah terlelap dalam mimpi. Lalu Zein pun segera pergi ke ruang kerjanya. Tentu saja, tak lain dan tak bukan, Zein ingin menghubungi wanita yang ia rindukan itu. Tak ada maksud lain, Zein hanya ingin mengetahui kabar dan apa yang di rasakan oleh wanita itu. Barang kali, saat ini, ia membutuhka bantuan.
Entahlah, Zein bingung... Sebenarnya apa yang ia inginkan dari maksudnya ingin saling berkabar ini. Yang jelas, Zein hanya ingin tahu kabar tentang wanita saja, sudah, titik.
Meski ragu, Zein tetap melanjutkan niatnya. Menghubungi wanita itu by phone. Beruntung, panggilan telpon yang ia lakukan tidak ditolak oleh yang empunya nomer.
"Hallo," terdengar suara menyambut panggilan telpon yang Zein lakukan. Dan dia yakin, bahwa itu suara Vita. Suara wanita yang sukses membuatnya gelisah.
"Ya ... ini siapa?" tanya si penerima telpon.
"Ini, Abang ... bagaimana kabarmu?" tanya Zein, masih dengan perasaan ragu yang menggebu.
"Abang? Abang siapa ya?" tanya Vita. Wanita cantik ini pun berpikir, siapa di dunia ini yang ia pangil abang. Perasaan hanya dua orang yang dia panggil abang. Yang satu Juan yang tak lain adalah suami kakaknya, dan yang satunya lagi adalah dia, pria itu... Vita meneguk kasar salivanya, tentu saja rasa takut, gamang dan bingung pun menyerangnya.
Ada apa gerangan, pria yang sudah lama tidak ia dengar kabarnya itu tiba-tiba menghubunginya. Sungguh, apa yang Zein lakukan seperti membuat air yang tenang, kini bergejolak seperti protes dengan kehidupan yang sedang ia jalani.
"Abang Zein, ya?" tanya Vita basa-basi.
__ADS_1
"Ya, ini aku. Maaf, aku nggak tahu kalo suamimu kritis," ucap Zein jujur.
"Ya, Bang, Vita juga baru tahu kalau ternyata sebelum sakit yang ini, Luis sudah ada sakit mag." Vita menghentikan ucapannya, entah mengapa? Vita seperti harus menjaga jarak dengan pria yang sebenarnya masih ada di hatinya ini.
"Oh, kamu wanita hebat Vit, kamu pasti bisa melewati ini," ucap Zein memberi motifasi.
"Makasih, Bang, makasih banyak Abang udah mau berkabar dengan Vita. Vita minta maaf ya, Bang, udah biokin Abang sakit, sering buat Abang susah," jawab Vita sungguh-sungguh.
Ucapan itu sungguh membuat Zein semakin goyah. Pikirannya semakin terpusat dengan derita yang Vita rasakan saat ini. Sehingga di lupa ada hati yang seharusnya lebih ia jaga. Yaitu hati sang istri. Istri yang siap menemaninya dalam suka maupun duka. Dan Zi sudah membuktikan itu, bahwa dia bisa menerima sang suami dengan hati yang lapang.
"Nggak usah kamu pikirkan soal itu, Vit. Abang juga sudah sembuh kok. Abang udah bisa jalan, udah bisa beraktivitas seperti sedia kala. Kamu kalo butuh bantuan apa, bilang aja... kalo Abang bisa bantu, pasti Abang bantu," ucap Zein.
"Kebetulan, Bang .... Vita lagi butuh seseorang untuk bantu Vita ngurus perusahaan Luis, Abang ada nggak kenalan yang bisa bantu Vita?" tanya wanita ayu ini.
"Emmm, siapa ya? Sebenarnya kawan Abang banyak yang lagi ceri kerja, cuma Abang nggak yakin bisa dipercaya apa nggak. Kenapa kamu nggak minta tolong sama Juan aja?" tanya Zein, obrolan mulai bisa mengalir dari perasaan hingga ke pekerjaan. Dan pengalihan perbincangan ini membuat mereka semakin nyaman.
"Udah, sementara ini bang Juan sama Gani yang menghandle, sedangkan kak Ste, bantu bang Juan di Batam. Tapi kasihan juga, Bang. Mereka kan anaknya masih kecil-kecil butuh kasih sayang. Masih butuh perhatian," jawab Vita jujur. Sebab ia memang khawatir dengan tumbuh kembang anak-anak sang kakak.
"Kamu benar, Vit. Emmm, siapa ya?" Zein diam sejenak. Lalu mencoba berpikir siapa yang cocok ia rekomendasikan untuk membantu Vita mengawasi perusahannya selama ia fokus pada sang suami.
"Bang Rehan mau nggak ya, Bang. Bantu Vita?" celetuk Vita, tiba-tiba teringat mantan asiten sang mantan kakak ipar itu.
"Yes, Vit. Kalo dia rekomended banget, Abang. Disamping dia jujur, dia juga ulet. Coba deh nanti abnag tawarin, Insya Allah besok Abang bantu ngomong," ucap Zen berjanji.
"Makasih banyak ya, Bang. Sekali lagi, makasih banyak udah mau berkabar dengan Vita." Vita tak melanjutkan ucapannya lagi, sebab ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan.
Sedangkan Zein sediri juga ragu ingin mengungkapkan apa yang ada di hatinya saat ini. Ahasil, hampir lima menit panggilan itu masih menyala, namun tak ada perbincangan. Hanya sesekali terdengar suara napas masing-masing. Mereka berdua saling menunggu, namun tembok penghalang di antara mereka terlalu tinggi. Sehingga sukses membuat dua hati yang terpisahkan merasakan rindu yang menggebu.
__ADS_1
Namun, gersang meskipun bisa bertegur sapa. Nyatanya mereka tidak berani melangkah. Sama-sama tidak berani mewujudkan apa yang mereka inginkan. Mereka memilih sama-sama tenggelam dalam kubangan rindu.
Bersambung