PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Tersandung Kasus


__ADS_3

Hari menjelang siang, namun Lutfi masih belum ada kabar. Kekhawatiran Safira kian memuncak mana kala pesan yang ia kirim hanya di baca oleh Lutfi. Tidak dibalas sama sekali.


Tak ingin tengelam dalam rasa penasaran, akhirnya Safira pun memutuskan untuk mencari keberadaan sang suami.


Tujuan pertama Safira adalah toko di mana sang suami bekerja. Mungkin aja, para karyawan di sana tahu keberadaan pria yang kini jadi imamnya itu.


Namun, saat dia bersiap hendak menggendong Naya, ponsel miliknya berdering. Dengan cepat, Safira pun menyambut panggilan tersebut. Siapa tahu itu adalah panggilan dari sang suami.


Sayangnya apa yang di harapkan Safira tidak jadi kenyataan. Yang menghubunginya adalah Zein, yang tak lain adalah saudara kandungnya.


"Hallo, Abang. Ini Fira," ucap Safira sembari menahan tangis.


"Oh, iya, Fira. Ini Abang, bersiap-siaplah. Kita ke kantor polisi sekarang. Suamimu sedang ditahan," ucap Zein.


Mendengar kabar mengejutkan itu tentu saja membuat Safira shock. Bagaimana tidak? Orang baik seperti Lutfi ditahan oleh polisi. Memangnya dia salah apa?


"Abang jangan ngaco deh! Emangnya Lutfi ada salah apa, Bang?" tanya Safira gugup.

__ADS_1


"Entahlah, Abang juga belum tahu. Kamu siap-siap ya, lima menit lagi Abang sampai. Jangan takut, kita lihat dulu apa yang terjadi. Baru kita memutuskan apa yang harus kita lakukan. Kamu ngertin kan?" lanjut Zein.


Safira yang terlanjur bingung, tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa menganggukan kepalanya pelan. Sembari menggendong Naya, Safira pun segera bersiap dan menunggu kakaknya untuk sama-sama pergi ke kantor polisi, guna memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Lutfi.


Safira tak sanggup tersenyum, meskipun Zein telah turun dari mobil dan mendatanginya. Ia malah terlihat gugup dan tak sabar, ingin segera naik mobil dan melihat apa yang terjadi pada sang suami.


"Pelan-pelan, hati-hati. Ingat kamu lagi gendong bayi!" ucap Zein memperingatkan. Tapi Safira tak mengindahkan larangan itu, ia tetap berlari terburu-buru. Ingin segara masuk ke dalam mobil.


Zein yang tanggap langsung membantu sang adik membuka pintu untuknya. Kemudian, ia pu segera ikut masuk ke dalam mobil.


"Abang kok tahu kalo Lutfi ditangkap polisi. Memangnya siapa yang kasih tahu Abang?" tanya Safira mulai tak sabar.


"Kok bisa sih dia telpon Abang duluan. Harusnya aku yang dihubungi dulu, kan Fira istrinya, Bang. Bukan Abang! Dia nggak tahu apa semalaman aku nggak tidur nungguin dia!" jawab Safira sembari menangis kesal.


Zein tersenyum lucu. Ternyata Safira, gadis yang marah-marah dan tak terima ketika dinikahkan paksa dengan pria itu, kini mendadak khawatir dengan apa yang terjadi dengan pria yang tidak dia kehendaki. Mungkinkah dia sudah jatuh cinta dengan asisten gila itu, batin Zein kembali tersenyum sembari menahan tawa.


Menyadari sang kakak menertawakan tangisnya, jiwa Safira pun terbakar emosi. "Kenapa Abang malah tertawa? Apanya yang lucu?" tanya Safira kesal.

__ADS_1


"Tidak? Teruskan saja marahnya!" jawab Zein asal.


Seperti tidak menyadari bahwa Zein meledeknya, Safira pun kembali mengeluarkan uneg-unegnya.


"Dia itu benar-benar, Bang. Awas aja kalo dia sampai kenapa-napa. Aku udah kirim pesan cuma dibaca doang. Ditelpon nggak mau ngangkat. Apa maksudnya coba? Sekarang, dia bukannya menghubungi aku, istrinya. Ehhhh, malah mengubungi orang lain. Kan ngeselin begitu, Bang!" tambah Safira lagi.


Seperti mendapatkan hiburan, Zein pun malah jadi kompor dan semakin memanasi keadaan. "Kamu bener, Fira! Sebaliknya kamu marahi saja suami kurang ajarmu itu. Bisa-bisanya dia mengubungi orang lain. Bukannya istrinya dulu. Aku mendukungmu kalo kamu mau memarahinya. Biar dia ngerti cara memperlakukan wanita. Udah ditungguin sampai nggak tidur, malah kirim kabarnya ke orang lain," ucap Zein dengan wajah serius.


Tak ayal, merasa mendapatkan dukungan, Fira pun mengepalkan tangannya bersiap menghajar pria yang telah membuatkan super kesal ini.


"Abang diam saja nanti kalo Fira marah! Jangan sampai Abang bela pria menyebalkan itu. Lihat saja nanti!" ancam Safira dengan penuh amarah.


Pertunjukkan menyenangkan ini, batin Zein dengan senyum liciknya. Dalam pikirannya, seru saja bisa melihat seorang Lutfi yang biasanya selalu iseng dan membuatnya mengingatkannya pada Vita, kini akan termakan oleh kekonyolan nya sendiri.


Zein telah mendapatkan senjata untuk balas dendam pada Lutfi, apa lagi yang ia tunggu, selain menjadi penonton akan pertunjukan menyenangkan hari ini.


Rasakan pembalasanku, Lutfi, batin Zein tertawa senang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2