
Lelah tak bersudah. Seperti itulah rasa yang saat ini Renata rasakan. Meskipun ia telah berhasil keluar dari rumah di mana selama ini ia hanya dimanfaatkan. Namun tetap saja, kebebasannya itu tetap meninggalkan luka. Luka untuk dirinya sendiri, pun dengan orang-orang yang kini ada di sekitarnya.
"Sudah jangan menangis. Percayalah semua akan baik-baik saja!" ucap Rehan sembari menyodorkan segelas susu hangat untuk kekasih hatinya.
"Aku tidak tahu, Mas. Apakah keputusanku ini benar atau salah. Karena jujur, aku tidak ingin ribut soal harta. Apalagi dengan keluarga!" ucap Renata.
"Aku paham, tapi mereka harus sadar juga. Kalau apa yang mereka lakukan itu salah. Jangan kalau kamu diam saja, yang ada mereka semakin tutup mata. Nggak akan sadar kalau apa yang mereka lakukan, sejatinya juga menyakiti orang lain," balas Juan tegas.
"Makasih, Mas. Makasih buat semuanya. Aku nggak tahu harus ke mana seandainya Mas nggak dateng," ucap Renata sungguh-sungguh.
"Iya sama-sama. Ya udah malam ini kamu tidur di kamarku aja, biar aku tidur di ruang tamu. Maaf ya, bujang. Jadi semua serba minimalis," ucap Rehan sembari tersenyum tampan.
"Iya nggak pa-pa. Besok aku tak nyari kos-kosan. Biar nggak ngrepotin masnya," jawab Renata malu-malu.
"Nggak-nggak.Nggak usah, kamu di sini aja. Biar aku pindah ke sebelah. Itu punya Zein. Kosong juga, dia pasti nggak keberatan kalau aku pindah ke sebalah," ucap Rehan melarang.
"Zein? Nggak ah. Aku nggak mau terlibat dengan pria itu." Renata cemberut. Memanyunkan bibirnya. Membuat Rehan gemas ingin menciumnya.
"Udah jangan dendam. Zein nggak sejahat itu. Manusia itu ada fase khilaf nya. Mungkin dulu pas dia nglakuin kesalahan, anggap aja dia lagi khilaf. Lagian kita nggak boleh dendam loh, Yang." ucap Rehan santai. Sesantai duduknya kali ini.
"Entah, aku masih kesal aja ama pria itu." Renata kembali cemberut. Sedangkan Rehan hanya melirik lucu. Bagaimana tidak? Ternyata pada kenyataannya Zein masih banyak memiliki haters. Selain Stella kini masih ada Renata. Lalu siapa lagi kira-kira? Rehan tertawa geli sendiri.
__ADS_1
***
Senyum merekah sempurna di bibir wanita yang selama ini hanya termenung dan tak mau bicara pada siapapun. Dia adalah Anti, wanita yang membesarkan Stella. Wanita ini tersenyum sebab gadis cilik yang selama ini ia jaga, ia sayangi telah tumbuh dewasa dan cantik. Bahkan gadis cilik yang telah tubuh dewasa itu juga membawa gadis mungil yang mirip dengannya sewaktu kecil.
"Oma, kenalin ini Liana ... putri Ste dan Juan. Ini suami Ste. Tampan kan?" pancing Stella dengan senyum merekah sempurna.
Anti tersenyum. Wanita ini menyambut uluran tangan Juan dan mengelus pipi pria tampan itu. Masih belum mau membuka suaranya. Namun senyuman yang anti berikan pada mereka, itu sudah cukup membuat beberapa orang yang ada di ruangan tersebut lega.
Kemudian sentuhan itu pindah ke dada gadis mungil bernama Berliana. Lagi-lagi Anti tersenyum manis.
"Oma suka ya sama Berliana?" tanya Stella. Anti hanya menjawab pertanyaan sang putri dengan senyum pula.
Lalu ketika hendak memegang Berliana, tetapi entah mengapa ia mendorong pelan Berliana dan menatap kuku-kukunya.
"Baiklah! Ste bersihin tangan Ibu ya," tawar wanita ayu ini. Anti tersenyum. Stella pun memberikan Berliana pada sang suami. Lalu ia pun kembali dan memfokuskan diri kepada wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya itu.
"Mami rawat ibu dulu ya, Pi!" pinta Stella. Juan pun mengiyakan. Pria ini sama sekali tak keberatan. Justru malah mendukung apa yang istrinya lakukan.
"Sus, aku minta gunting kuku ya. Sama tisu basah. Ibuku nggak suka kuku panjang. Oiya Sus, sisir di mana sama karet rambut. Ibuku suka wanita yang cantik dan rapi," ucap Stella sambil tersenyum manis. Anti tak menolak. Tak berontak seperti biasa. Bersama Stella ia begitu anteng dan menurut. Sepertinya Anti tahu jika itu adalah Stella. Putri yang sangat ia rindukan.
Beberapa menit kemudian, suster datang kembali dan membawa barang-batang yang Stella inginkan. Lalu, wanita ayu ini pun kembali bertanya pada sang ibu. Apakah sang ibu bersedia ia rawat atau masih mau seperti ini saja. Sebab berhadapan dengan seseorang yang memiliki ganguan mental tidak mudah. Butuh kesabaran ektra.
__ADS_1
"Ibu, Ste sisirin rambut Ibu ya," tawar Stella lembut. Anti masih belum mau berbicara namun ia tidak menolak. Stella pun berusaha memahami sang ibu. Kemudian pelan-pelan wanita ayu ini mulai menyisir rambut sang ibu. Stella tak kuasa menahan sesak di dadanya ketika menyentuh rambut wanita itu. Kotor, dan aromanya pun tidak seperti Anti yang ia kenal.
Mungkin Anti agak susah di rawat. Sehingga cuci rambut pun dijadwal oleh para perawat.
Juan yang melihat istrinya hendak menangis, segera mendatangi wanita tersebut dan membantu mengambil kan tisu untuk mengelap air mata Stella. Juan tak ingin jika ibu mertuanya ini menyadari jika sang putri menangis karenanya.
"Makasih," ucap Stella pada Juan. Pria tampan ini membalas ucapan Terima kasih itu dengan senyum tampannya. Kemudian ia pun kembali mundur dan memberi kesempatan pada sang istri untuk merawat ibunya.
Moment kali ini menjadi moment paling spesial untuk Stella. Sebab, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bertemu wanita yang selama ini menyayanginya. Memberinya kesempatan untuk merawat wanita itu sendiri. Dengan tangannya sendiri. Dengan kasih sayangnya. Bukan hanya itu yang membuat wanita cantik ini bahagia, niatnya ini didukung penuh oleh sang suami. Jujur Stella sangat bahagia. Juan begitu mengerti akan keinginannya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Anti pun rapi. Dengan rambut yang tak lagi berantakan. Kuku dan tangan yang bersih. Setelah itu Stella pun memangku putri cantiknya dan mendekatkan bocah itu pada Anti. Barulah wanita paruh baya ini mau menyentuh Berliana. Mengelus nya. Tanpa diduga, butiran bening keluar dari sudut mata wanita yang masih cantik di usianya itu.
Dengan penuh kasih sayang, Stella pun mengusap air mata wanita itu. "Ibu jangan nangis, ini Ste baik-baik saja. Makanya ibu semangat ya sembuh. Nanti Ste akan sering-sering datang ke sini. Kalau nggak ibu ikut Ste mau?" ucap wanita cantik ini.
Anti tidak menjawab. Namun matanya menatap Juan.
Juan yang paham akan jalan pikiran sang ibu mertua langsung ikut menenangkan. "Nggak apa-apa, Bu. Nanti kita jemput Ibu ya. Kita tinggal bareng. Nanti setiap hari ibu boleh main sama Berliana. Gimana, mau?" ucap Juan.
Anti masih diam, masih belum mau mengeluarkan suaranya. Tapi senyum dan ekpresi lain menunjukkan kesehatan mental wanita ini mulai membaik. Bahkan dokter dan suster yang merawat Anti selama ini juga mengakuinya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya🥰🥰🥰