PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 23


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Sesuai janjinya pada ibu angkatnya, Zizi pun akhirnya berangkat ke Batam untuk menemui pria yang diketahui sebagai anak kandung dari wanita yang telah ia anggap ibu itu.


Perasaan was-was, khawatir dan takut tidak diterima pun hadir dalam hati gadis cantik yang berprofesi sebagai perawat ini.


Zizi sengaja memesan tiket di pagi hari untuk berangkat dan malam hari untuk kembali. Zizi sengaja tidak ingin menginap di Batam. Tentu saja ia harus memikirkan biaya. Zizi harus berhemat dengan gajinya yang hanya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri itu.


Kendati demikian, Zizi tetap ikhlas. Sekali lagi tujuannya hanya satu, yaitu membalas budi kepada wanita tersebut. Sebab wanita itu pernah membuatnya tersenyum. Pernah menyelamatkan harga dirinya. Zizi pun ingin berbuat yang sama.


Tepat pukul setengah sembilan pagi, pesawat yang membawanya menuju Batam pun landing dengan selamat.


Tak menunggu waktu lagi, selepas pesawat itu landing ia pun segera memesan taksi untuk mengantarkannta ke tempat tujuan.


Di dalam taksi yang membawanya ke tempat tujuan, perasaan Zizi kembali berdesir hebat. Ketakutan itu kembali merasuki jiwanya. Namun, langkahnya sudah sampai sini. Tidak mungkin juga baginya untuk mundur.


Tiga puluh menit kemudian, taksi yang membawanya pun akhirnya sampai di sebuah rumah yang sangat mewah. Dengan hati-hati, Zizi pun bertanya pada sopir taksi yang membawanya.


"Ini benar Pak, rumahnya?" tanya Zizi ragu.


"Benar, Non! Sesuai alamat yang Anda kasih ke saya!" jawab sopir taksi tersebut.


Meski sedikit ragu, Zizi pun turun setelah membayar ongkos taksi tersebut.


Pelan namun pasti, Zizi pun memencet bel yang terpasang di salah satuan dinding tembok rumah itu. Hanya beberapa menit Zizi menungu, akhirnya seorang berpakaian satpam pun membukakan pintu untuknya.


"Ya Mbak cari siapa?" tanya Satpam tersebut.


"Apakah benar ini adalah rumah Bapak Zein?" tanya Zizi langsung pada inti masalah yang ia bawa.


"Bener, Mbak. Tapi maaf, apakah Mbak sudah bikin janji dengan Tuan Muda?" tanya pria bertubuh tegap itu.


"Belum! Bilang saja saya pegawai ibu Widya, nama saya Zevana, Pak!" jawab Zizi jujur.


"Oh, baik. Silakan anda tunggu di sini. Akan saya beri tahu tuan muda," jawab Satpam tersebut. Kemudian ia pun masuk ke dalam pos jaganya dan menghubungi seseorang yang ada di dalam rumah tersebut.

__ADS_1


"Sebenar ya, Mbak. Tuan muda sedang zoom meeting, kata mbaknya yang di dalam tadi," ucap Satpam tersebut.


"Baik, Pak!" jawab Zizi, masih setia menunggu.


Sepuluh menit kemudian, terdengar dering telpon pos satpam tersebut, yang mengisyaratkan agar tamu yang mencari Tuan Muda mereka sudah diizinkan masuk


Dasar orang kaya, mau ketemu aja kok ya lama, gerutu Zizi sedikit kesal.


Dari dalam rumah tampak seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya. Dengan senyum ramah, wanita itu pun mempersilakan dia untuk masuk.


"Silakan duduk, Non. Tuan Muda sebentar lagi turun," ucap wanita itu ramah.


"Makasih banyak, Bi" jawab Zizi. Kemudian wanita itu pun pergi meninggalkannya sendiri di ruang tamu.


Dalam kesendiriannya Zizi kembali memanjatkan doa, agar pria yang hendak ditemuinya tidak menolaknya, minimal tidak mengusirnya.


Beruntung apa yang Zizi takutkan tidak menjadi kenyataan. Zein menyambutnya dengan senyum ramah. Dan menurut Zizi pria itu masih terlihat sangat tampan meskipun duduk di kursi roda.


"Ada yang bisa saya bantu," ucap Zein mengejutkan Zizi, membuyarkan lamunan gadis itu. Yang diam-diam terpesona dengan ketampanan tuan muda rumah ini.


"Ya ... kenapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Zein mencoba membantu Zizi agar tidak gugup berhadapan dengannya.


Zizi diam sesaat, lalu ia pun mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dan menyerahkan amplop tersebut kepada Zein.


"Apa ini?" tanya Zein.


"Itu adalah surat dari ibu Widya, beliau meminta saya untuk menyampaikan surat itu langsung kepada anda, Tuan. Dan beliau juga berpesan minta di kunjungi. Katanya beliau kangen sama anda," ucap Zizi, sesuai dengan apa yang diminta Widya kepadanya.


Zein menatap pada Zizi sekilas, lalu ia pun membuka amplop berwarna putih tersebut. Membacanya perlahan. Lalu menutupnya kembali.


"Terima kasih kamu udah mau susah susah ngenterin surat dari mamaku. Sebenarnya aku bukan nggak mau menjenguknya, tapi aku baru pulang berobat. Aku hanya nggak mau mama melihatku dengan kondisi seperti ini, kamu paham kan maksudku?" Zein kembali menatap Zizi, membuat gadis ini salah tingkah.


"Ya, saya paham, Pak.... Eh Tuan Muda." Zizi menunduk gugup, berharap Zein tidak bertanya lebih dan mengetahui siapa sebenarnya dirinya.


"Kamu nggak perlu gugup begitu, panggil saja aku Zein," ucap Zein, sedikit membuka pintu untuk berteman dengan gadis yang telah berbaik hati mau menjadi penghubung antara dirinya dengan sang ibu kandung.

__ADS_1


"Maaf Tuan, tidak sopan rasanya jika saya memanggil demikian, oiya ... saya sudah menyampaikan amanah dari ibu, saya mohon undur diri, Tuan!" pinta Zizi sedikit memaksakan senyum.


"Kok buru-buru, kan kita belum kenalan," jawab Zein bermaksud mencegah.


"Kita sudah kenal, Tuan Muda... kan kita teman sekolah dulu. Eh ...." Zizi langsung memejamkan mata karena ia lupa dengan tujuannya untuk menyembunyikan jati dirinya.


"Kenal? Kita teman sekolah?" Zein menatap Zizi yang terus menunduk dihadapannya. Sedangkan Zizi sibuk menyembunyikan wajahnya, agar Zein tidak mengingatnya.


"Sungguh, aku lupa. Bolehkah kamu ingatkan aku siapa kamu?" pinta Zein sopan.


Zizi menatap Zein, lalu gadis ini tersenyum.


"Kenapa tersenyum? Ada yang salah dengan pertanyaanku?" tanya Zein.


"Tidak! Sebaiknya anda tidak perlu susah payah mengingat saya. Saya hanya butiran debu. Hehehehe," Zizi terkekeh, sedangkan malah makin penasaran.


"Bisa aja kamu, ayolah...kalo kamu kenal aku, harusnya aku juga kenal kamu," ucap Zein santai.


"Ya nggak begitu juga, saya kenal ada kan karena jabatan anda di sekolah kan. Siapa sih yang nggak kenal Zein, ketua Osis plus kapten tim basket terkece di sekolah. Sikapnya yang cuek, anti cewek plus cool-nya ngalahin batu es. Cowok tampan idola para cewek-cewek," jawab Zizi mulai bisa mencairkan pemikiran tegangnya.


"Ah, bisa aja kamu. Ayolah, ingetin aku siapa kamu?" desak Zein.


Zizi menatap Zein. Menghela napas dalam-dalam. lalu ia pun berkata, "Yakin mau tahu siapa saya? Ntar nyesel," canda Zizi.


"Ya nggak lah, masak nyesel." Zein tersenyum.


"Okelah kalo anda memaksa. Masih inget nggak sama gadis yang di keluarin dari tim basket gara-gara nggak mampu beli seragam?" tanya Zizi pada Zein.


Zein mengerutkan kening sesaat, mencoba mengingat kembali masa lalunya ketika masih sekolah dulu. Tak lama kemudian, senyum mengembang di bibir tampan pria itu. Sebab ia mengingat gadis berprestasi namun terkendala oleh biaya itu. Sehingga membuat gadis itu mengubur dalam-dalam impiannya.


"Zevana?" tanya Zein spontan.


"Ya, itu saya," jawab Zizi, kemudian mereka berdua pun saling melempar senyum malu-malu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2