
Senyum mengembang sempurna di bibir Juan dan juga Stella begitu mendengar tangis bayi mungil yang mereka nantikan. Sang bayi cantik itu telah berhasil menatap dunia dengan selamat.
Tim medis segera membersihkan bayi cantik itu. Sedangkan Juan beberapa kali mencium kening wanita ayu ini dan mengucapkankata cinta serta rasa terima kasih yang tak terhingga. Karena Stella telah berjuang menghadirkan si kecil sebagai pelengkap dalam hidupnya.
"Makasih, Honey. Makasih, Cintaku! Kalian adalah pelengkap hidup, Papi!" ucap Juan dengan senyum kebahagiaan di tengah-tengah tangisnya. Wajar jika ia menangis, sebab ia sangat-sangat takut kehilangan istri dan juga bayinya. Mengingat di tengah-tengah perjuangan, Stella hampir menyerah karena kehabisan tenaga.
Stella pun tersenyum dalam tangis bahagianya. Wanita ayu ini belum siap berkata-kata. Namun ia bahagia sangat-sangat bahagia. Dia sendiri juga tak mungkin sanggup melewati ini tanpa Juan. Tanpa pria ini Stella tak mungkin bisa sekuat ini.
"Aku mencintaimu istriku, sungguh. Papi takut tadi," ucap Juan lagi. Pria ini kembali menangis hari. Air mata kebahagiaan kembali meluncur dengan derasnya. Tanpa mampu ia cegah lagi.
Dengan cintanya, Stella menghapus air mata sang suami. Berusaha merengkuh tubuh Juan. Meskipun ia masih merasa lemas dan sakit di sekujur tubuhnya.
"Mami sudah jadi ibu seutuhnya sekarang, Sayang. Papi bangga sama Mami," puji Juan. Ucapan Juan bukan sekedar pujian, tapi itu adalah bentuk rasa cinta yang ia milikki untuk wanita ini. Binar cinta tampak jelas pada tatapan manik itu. Pun sebaliknya, tatapan mata Stella juga membalas penuh cinta untuk pria yang selalu setia menjaga cinta mereka.
Beberapa kali Juan terlihat mendaratkan bibirnya di kening sang istri, sebelum tim dokter memintanya untuk keluar ruangan. Karena Stella butuh memulihkan tenaganya.
"Papi tunggu di luar ya, Mam. Kalau Mami butuh apa-apa, minta suster panggil Papi ya," ucap Juan sembari mengelus rambut Stella.
__ADS_1
Stella mengangguk, tanda menyetujui pesan Juan. Pria ini pun kembali mencium kening dan juga bibir wanitanya. Kemudian, ia pun menuruti saran dokter untuk meninggalkan ruangan ini.
***
Kebahagiaan saat ini sedang memeluk erat pasangan Juan dan Stella. Tetapi sayang, kebahagiaan itu malah menjadi duka bagi Zein. Duka yang menimbulkan niat jahat untuk memisahkan mereka.
Untuk memisahkan pasangan itu. Diam-diam Zein meminta pihak rumah sakit untuk mencocokkan DNA miliknya dengan DNA bayi yang baru lahir itu. Agar dia mempunyai alat untuk membuat Juan tidak berkutik.
Zein tersenyum sinis. Kini Otaknya telah dipenuhi berbagai rangkaian rencana untuk memisahkan mereka. Sein tak peduli jika persahabatan yang mereka jalin selama ini harus hancur. Yang penting baginya adalah mendapatkan Stella dan bayinya kembali.
"Kita lihat saja, Re. Sekuat apa kamu melindungi mereka!" ancam Zein, bicara pada dirinya sendiri. Ternyata bukan hanya Juan dan Stella yang menjadi targetnya. Namun Rehan juga. Sepertinya Zein sakit hati pada Rehan karena tidak membelanya. Rehan memang lebih memilih membela Juan dan Stella. Itu sudah terbaca oleh Zein ketika setiap kali ia hendak bertindak, tapi Rehan melarangnya.
***
Setelah kepergian Zein, Rehan duduk termenung di ruang tunggu. Rasanya lelah sekali menghadapi pria keras kepala itu. Jika ini orang lain, mungkin Rehan tak akan menunggu waktu lagi. Rehan pastikan, ia akan membabat habis Zein.
Kedatangan Juan mengagetkan Rehan. Tanpa di minta pria tampan yang sekarang telah menjadi seorang bapak ini langsung memeluk Rehan, dengan perasaan bahagia tentunya.
__ADS_1
"Di mana bosku, Bro?" tanya Juan.
"Dia ada pertemuan mendadak, dia titip salam buat kamu dan Ste. Dia turut bahagia," ucap Rehan berbohong.
Untuk saat ini, Rehan memang belum bisa terbuka dengan Juan. Mau bagaimanapun ia harus menjaga perasaan pria ini. Rehan berpikir, sebaiknya ia harus bicara dulu dengan Stella, agar mereka bisa kompak ketika menyampaikan ini. Agar gamblang, singkron dan tidak ada satupun kebenaran yang akan mereka tutupi.
***
Beberapa hari kemudian....
Resah, ya... menunggu adalah sesuatu yang membuat resah. Zein sedang resah dan juga gelisah karena menunggu kabar baik dari orang kepercayaannya untuk melakukan tes DNA pada bayi itu. Sebab, itu adalah senjata paling ampuh untuk meruntuhkan para musuhnya, menurut Zein.
Lamunan pria gagah ini buyar, mana kalau ponselnya berdering. Senyum sinis mengembang di bibir pria berhati kurang baik ini. Sebab, ia sudah menduga bahwa kabar yang dibawa sang penelpon adalah kabar yang sudah ia yakini. Perlu diketahui, bahwa si penelpon itu adalah orang dalam pihak rumah sakit yang membantu Zein mengambil sempel air liur putri Stella.
"Hemm!" sambut Zein pada sang penelpon.
"Hasil tes DNA sudah keluar, Bos dan 99 persen cocok dengan DNA anda," ucap sang penelpon.
__ADS_1
Zein kembali tersenyum sinis. Kemudian tanpa menjawab apapun, ia langsung mematikan panggilan telepon itu. Baginya kalimat itu sudah cukup membuktikan bahwa apa yang yang diucapkan Rehan adalah benar. Bayi itu adalah miliknya dan dia merasa berhak memilikinya. Bukan hanya itu, Zein juga berpikir untuk menjadikan bayi ini alat untuk meruntuhkan orang-orang yang kini menjadi targetnya. Termasuk Rehan.
Bersambung.....