PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Bangkit dari Keterpurukan


__ADS_3

Stella dan keluarga sangat bahagia, karena Vita tidak goyah. Ia tetap memantapkan pilihannya untuk melanjutkan pertunangan dengan Luis. Pria yang setia menunggunya selama tiga tahun terakhir ini.


Bukan hanya Stella, Sera yang tak tahu apa-apa, juga terlihat bersemangat dengan pernikahan keponakannya ini. Maklum, pernikahannya dengan Widi tidak dikaruniai anak seorangpun. Sehingga ia pun menganggap Vita juga seperti putri kandungnya.


Kini, persiapan pertunangan antara Vita dan Luis pun telah siap. Besok, adalah hari bahagia mereka. Dan sebulan lagi, mereka akan melaksanakan ijab qobul. Tentu saja, ini adalah masa yang mendebarkan buat Vita. Pun dengan keluarga.


Rasa penasaran, Stella akan persiapan mental sang adik, membuatnya bertanya.


"Gimana perasaanmu, oke?" tanya Stella.


"Oke, Kak, semua aman!" jawab Vita semangat. Senyum terlihat mengembang di bibir gadis ayu ini.


"Baiklah." Stella meringis, sebab bayi yang ada di perutnya sedang menendang.


"Kenapa Kak?" Vita menatap sang kakak.


"Biasa, calon ponakanmu ini nendang nya kenceng sekali sekarang. Mungkin karena laki kali ya," jawab Stella dengan senyum manisnya.


"Bisa jadi, hamil itu menggemaskan juga ya." Vita tertawa.


"Ya, begitulah. Kakak nggak nyangka bisa bareng lagi sama bapaknya bocah. Eh, gimana Luis? Kapan datang?" tanya Stella semangat.


"Sepertinya dia besok datang, Kak. Semangat amat, ganteng ya Luis?" tanya Vita sembari tersenyum. Namu, sedetik kemudian wajahnya terlihat murung.


"Masak pacarnya mau datang kok murung. Senyum dong!" canda Stella.

__ADS_1


"Vita sedih, Kak. Ibu nggak bisa ikut ke pertunangan Vita." Vita kembali menundukkan kepalanya. Sepertinya kesedihan memang nyata ia rasakan kali ini.


"Tapi Kakak yakin, dalam hatinya, ibu pasti mendoakanmu. Ayah pun!" jawab Stella yakin. Tak lupa ia juga memberikan pelukkan penuh kasih sayang untuk adik kesayangannya ini.


"Entahlah Kak, rasanya sedih saja. Di saat Vita mau memulai hidup baru, kedua orang tua kita malah tak bisa menemani," balas Vita.


Stella paham, ini memang berat untuk sang adik. Tetapi, mau bagaimana lagi? Tuhan telah berkehendak, tak ada kuasa bagi kita untuk menolak.


"Sudah jangan sedih lagi, masak calon pengantin sedih," ucap Stella, masih setia memeluk adik manjanya ini.


"Setelah tunangan dan foto prewed, Vita balik ke Jakarta ya Kak. Vita udah bilang sama abang mau nyewa apartemennya buat tinggal," ucap Vita meminta izin.


"Ngapain nyewa, pakek aja. Oiya, Kakak lupa, hari itu warisan yang ayah kasih ke kita, Kakak pakai untuk bantu abangmu. Dan sekarang udah berkembang, nanti lima puluh persennya Kakak tranfer ke kamu. Lumayan kan buat modal," ucap Stella sembari duduk kembali di kursi tempat ia duduk di awal.


"Alhamdulillah... nikmat mana yang kau dustakan Vita. Semua datang tepat waktu," ucap Vita sembari terkekeh.


"Fira gimana? Lupa nanya Kakak. Abangmu masih sibuk, jadi kita belum bisa jenguk," ucap Stella.


"Fira udah membaik, Kak. Nanti setelah ambil baju ke butik, Vita mau mampir ke sana. Kakak mau bareng. Nanti Vita ampirin," balas gadis cantik ini.


"Oke, boleh lah! Kakak izin abangmu dulu. Kamu tahu kan pria pencemburu itu? Dia bisa cemberut sehari semalam kalo istrinya pergi tanpa izin." Stella memanyunkan bibirnya. Sedangkan Vita terkekeh. Sebab, sejak ia tinggal di rumah ini, Vita sangat tahu bagaimana perangai pria itu jika cemburu.


"Dia posesif sekali Kak. Kayak Liana. Kalo bapaknya datang, Vita pegang aja nggak boleh. Kayak bapaknya paling ganteng aja sedunia." Vita kembali terkekeh.


"Eh, si bocil itu udah sejak diperut ngefans bapaknya. Kamu percaya nggak, bau keringat bapaknya dulu tu, parfum paling top sedunia. Kakak sampai heran, padahal waktu awal-awal hamil dia, Kakak tu buwenci poll sama dia. Pria arogan, pemaksa, tukang ungkit. Pokoknya nggak ada bagus-bagusnya. Tapi kalo mau tidur nggak lihat dia, atau nggak peluk barang yang ada bau keringet dia. Nggak bisa tidur Kakak. Bengek nggak tu!" Stella terlihat geram di akhir cerita.

__ADS_1


Sedangkan Vita asik tertawa, sebab cerita itu sangat lucu. "Berliana sangat bucin sama bapaknya dari belum jadi apa-apa? Astaga! Pantesan abang juga luar biasa kalo ama anak gadisnya itu. Abang sama Liana memang menggemaskan. Kakak beruntung dapat suami kek abang. Abang luar biasa, Kak. Jangan tinggalin dia, apapun yang terjadi!" ucap Vita sungguh-sungguh.


"Ya, begitulah abangmu dengan segala sikap baik buruknya. Terkadang juga bisa jadi bapak, bisa jadi sahabat, teman, suami. Pokoknya paket komplit." Stella tersenyum. Sebab bayangan tampan Juan tiba-tiba melintas di dalam benaknya.


"Jodoh nggak ada yang tahu ya, Kak. Jodoh memang aneh. Mau bagaimanapun kalo jodoh pasti balik lagi. Kek kakak sama abang." Vita juga tersenyum.


"Kamu juga beruntung dapat Luis. Dia pria yang baik," ucap Stella yakin.


"Insya Allah, semoga Luis memang baik. Seperti apa yang kita harapkan," jawab Vita pasrah.


Tak ada yang lebih indah dari kerukunan antar saudara. Seperti yang terjalin antara Stella dan Vita. Hubungan mereka begitu erat satu sama lain. Selalu menanamkan kepercayaan. Tidak saling menghianati dan selalu saling membantu. Apapun yang terjadi.


***


Di sudut ruang yang lain, Zein menerima saran Laskar untuk membawa Lutfi ke Ujung Pandang. Laskar yakin Lutfi yang notabene pernah menjadi seorang pengusaha, pasti tahu dan mengerti cara mengelola sebuah toko.


"Papa bujuk dia aja, Pa. Siapa tahu dia mau," jawab Zein mulai bisa menerima.


"Iya, coba nanti Papa bujuk dia. Kasihan sebenarnya Papa sama dia itu. Punya bayi, istri meninggal. Keluarga istrinya brengsek. Hah, entahlah!" Laskar menghela napas dalam-dalam. Seperti berat hendak menceritakan kisah sopir pribadinya itu.


"Kok Papa tahu, Papa kenal keluarganya?" Zein menatap Laskar.


"Ya kenal lah, bapaknya dia teman ayah. Dulu kami pernah susah bereng. Jadi pelayan restoran bareng. Ngamen bareng. Pokoknya kami pernah susah senang bareng. Makanya pas Papa ketemu lagi sama dia, terus cerita anaknya nggak punya kerjaan, akhirnya Papa tawarin kerja. Eh anaknya mau, ya udah jadilah sekarang dia sopir Papa." Laskar terkekeh. Sedangkan Zein hanya tersenyum.


"Ya udah boleh lah, Pa. Nanti kasih dia kerja sama Zein. Siapa tahu kami berdua bisa ngembangin toko yang di sana. Coba Zein pelajari apa yang lagi rame di sana. Siapa tahu Zein emang cocok di sana," jawab pria tampan ini. Berpikir, mungkin ini adalah jalan Tuhan untuk mempermudah dirinya melupakan wanita yang membuatnya sesak napas ini.

__ADS_1


Sungguh jika ditanya, Zein sangat nyaman bercengkrama dengan Laskar dibanding dengan Agus. Pria yang membesarkannya. Kedekatan bapak anak yang belum lama terjadi ini, nyatanya kekentalan darah tidak bisa berbohong. Nyatanya kasih sayang itu bisa tumbuh dengan sendirinya.


Bersambung..


__ADS_2