PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Tak Menyangka


__ADS_3

Safira menarik tangan Vita dan membawanya masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Lalu, tanpa ba bi bu, Safira mengajak Vita bercengkrama di ruang tamu.


"Anggap rumah sendiri, Wak. Jangan melihat mewahnya, lihat aja aku, tatap aku, lihat aku seorang, sahabatmu, oke!" ucap Safira sembari bercanda centil.


"Dasar gila! bodo amat!" balas Vita, gemas seperti biasa.


"Mau minum apa, Wak?" tanya Safira manja.


"Apa aja, yang penting bisa melepaskan dahaga!" jawab Vita enteng.


"Oke!" Safira pun segera ke dapur dan membuatkan minum untuk sang sahabat. Tak lupa cemilan beserta buah yang telah asisten rumah tangganya siapkan, tentu saja atas permintaannya sebelum menjemput tuan putri satu ini.


"Makasih, Wak. Duh repot-repot banget sih," ucap Vita, dengan senyum seperti biasa.


"Sama-sama. Oiya gimana butik? Main tinggal aja. Atau mau balik lagi ke Belanda?" tanya Safira.


"Butik kan ada yang jaga. Balik ke sana kayaknya nggak deh. Doi ngajak tinggal di Indo setelan nikah. Omanya nggak ada temen, jadi nggak mau ditingga-tinggal. Di samping itu aku juga nggak mau ninggalin ibu. Sekarang kamu kan tahu, orang tuaku tinggal ibu. Aku nggak mau jauh-jauh dari beliau," jawab Vita, terdengar melo, sedih juga sih sebenernya.


"Iya juga sih, kamu bener. Orang tua itu mesti kita prioritaskan, Vit. Mumpung mereka masih ada. Oiya, aku turut berduka atas kepergian ayahmu ya. Semoga beliau tenang di sana," balas Safira.


Namun, Vita tidak membalas ucapan bela sungkawa tersebut. Mata Vita tertuju pada sesuatu yang sangat tidak ia sangka. Hatinya terpana oleh pandangan tersebut. Sesuatu yang sangat tidak ia duga.


Vita melihat seorang pria berbaju koko berwarna putih, memakai sarung senada serta memegang sajadah. Sedang bercengkrama dengan sopir yang mengantarkannya ke sini. Mereka terlihat akrab. Entahlah... terlihat seperti teman.


Awalnya, Vita pikir itu adalah pekerja di sini. Tetapi, dari gestur tubuh dan juga potongan rambutnya serta tinggi badan. Vita tahu jika itu adalah pria itu. Pria yang membuatnya resah beberapa hari ini.

__ADS_1


"Ada apa Vit? Woy!" Safira melambaikan tangan untuk menyadarkan sang sahabat.


"Eh iya, apa?" akhirnya Vita pun tersadar. Namun, matanya masih tertuju pada dua pria yang asik bercengkrama itu.


"Lu lihat apaan sih?" tanya Safira sembari menengok ke belakang.


"Itu siapa, Ra?" tanya Vita pura-pura tak tahu.


"Yang mana? Yang pegang sajadah?" tanya Safira.


"Heem," jawab Vita pelan.


"Ya itu dia, abang gue. Pasti pulang salat Jum'at. Kenapa?" tanya Safira, jujur wanita cantik ini merasa sangat aneh dengan sahabatnya.


Vita dia seribu bahasa. Terlebih, ketika Zein memasuki rumah dengan langkah tampannya. Seperti biasa. Seperti ketika Vita menjadi sekertarisnya.


"Napa sih, Wak? Lu jangan aneh-anwh deh, Wak! Tadi lu terpesona ama sopir gue, sekarang abang gue. Gila lu, Wak. Cepet bener terpesona," canda Safira dengan tawa renyahnya.


Namun, bagi Vita, kalimat itu bukan sebuah candaan melainkan tamparan. Bagaimana tidak? Ia telah mengikat sebuah komitmen dengan Luis, tetapi hatinya menginginkan pria lain. Hatinya dimiliki pria lain. Apakah masih pantas ia disebut wanita baik. Sungguh, Vita merasa dirinya tidak lebih baik dari seorang penghianat.


Vita menundukkan kepala atau lebih tepatnya membuang pasangannya ketika melihat Zein memasuki rumah. Sedangkan Safira yang tak memahami apa-apa malah memanggil pria itu, dan memintanya berkenalan dengan sang sahabat.


"Abang!" panggil Safira.


Zein pun menghentikan langkahnya dan menatap sang adik.

__ADS_1


"Ya!" jawab Zein lembut. Sedangkan Vita masih berusaha menghindar tatapan mata itu.


Di sini bukan hanya Vita yang salah tingkah. Zein pun sama. Sama-sama merasa tidak menyangka. Jika akan bertemu dengan wanita pembuat onar hatinya, di sini. Di rumah ini. Di rumah keluarga barunya.


"Sini!" panggil Safira, seraya beranjak dari duduknya dan mendekati Zein.


"Ada apaan sih?" tanya Zein lirih. Tak nyaman. Sebab ja melihat Vita sepertinya tak suka melihatnya.


"Sini, kenalan dulu sama sahabat terbaik Fira. Abang nggak ada temen cewek kan selain Fira. La ini, Fira kenalin cewek!" canda Safira, Lagi-lagi wanita ayu ini tidak bisa membaca situasi rumit ini.


Zein tak mungkin menolak. Ia pun menuruti sang adik, meskipun sebenarnya ia sangat-sangat terpaksa.


"Vit, kenalin ini abang gue. Namanya Zein. Cakep kan! Pria tertampan dalam hidup gue, Wak!" ucap Safira dengan tawa seperti biasa.


Vita berdiri dan mengulurkan tangan. Lalu Zein pun membalas ukuran tangan itu dan menyentuhnya sekilas. Tangan mereka sama-sama dingin. Seperti gejolak yang mereka rasakan tidak mampu lagi mereka kendalikan.


"Vita," ucap Vita memperkenalkan diri.


"Zein," jawab Zein.


Lalu, suasana tegang pun terjadi di sini. Mereka terlihat rikuh. Saling berusaha menutupi perasaan yang kini sedang mereka rasakan. Entahlah, Vita dan Zein sama-sama rindu namun terpaksa membatasi diri. Untuk menjaga perasaan orang-orang yang pasti akan menentang Mereka.


Bersambung...


Makasih yang masih setia🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2