
Jangan tanya bagaimana gugupnya seorang Zizi malam ini. Karena malam ini adalah malam tak biasa baginya.
Bagaimana tidak? Ini adalah malam pertama ia menjadi seorang istri. Seorang istri dari pria yang ia cintai, namun rasa canggung tetap merengkuh nya. Sebab bagaimanapun pengakuan cinta belum pernah terjadi di antara mereka.
Pelan namun pasti, Zi keluar dari kamar mandi. Terlihat, pria itu sedang duduk manis di ranjang kamar pengantin mereka.
Terlihat sudah berganti pakaian dan duduk santai sambil memainkan gawainya.
Zi sedikit ragu melangkah mendekati pria tersebut. Namun, ia juga tak mungkin menghindar. Mau bagaimanapun pria itu kini telah menjadi suaminya.
"Sini, Zi. Ngapain diam begitu!" ucap pria itu. Menambah gugup jantung hati Zi saja.
"Aku akan ke situ, tapi jangan ngliatin aku!" pinta Zi, suaranya terdengar gugup, jelas gugup. Sebab Zein belum pernah melihat Zi seaneh ini.
"Baiklah, aku akan main game saja kalo begitu," ucap Zein sembari bercanda seperti biasa. Agar suasana tidak tegang.
Zein benar menurut pada sang istri. Ia pun tidak melihat ke arah wanita pemalu itu. Zein pura-pura memfokuskan pandangannya pada pada gawai yang ada di tangannya.
Sedangkan Zi sendiri mengambil bantal dan juga selimut. Bersiap untuk tidur di lain tempat.
Mengetahui sang istri hendak kabur, dengan cepat, Zein pun melarangnya.
"Jangan macam-macan, Zi. Kita suami istri! Gimana kata mama papaku nanti, kalo ngelihat kita nggak seranjang. Aku nggak ngehargai perjuanganku banget!" ucap Zein, sembari meletakkan gawai yang ia pegang dari tadi.
Zi melatakkan bantal dan selimutnya kembali. Lalu ia pun naik ke atas ranjang di mana sang suami berada.
"Maaf, Zein. Bukan aku nggak menghargai bantuanmu. Tapi aku gugup, aku gemetar, aku deg-degan. Kalo kamu nggak percaya pegang saja tanganku. Nah, periksa... dingin kan!" ucap Zizi sembari meraih tangan Zein, agar pria itu memeriksa tangannya.
Zein, si pria licik itupun tak mau rugi. Ia tak mau kehilangan momen berharga ini. Dengan cepat ia menarik tangan sang istri dan meraih pinggang wanita cantik itu, dengan tangan yang lain tentunya. Sehingga wanita itu pun sekarang terkunci dalam dekapan pria nakal ini.
__ADS_1
"Zein," ucap Zi, bertambah gugup.
"Dosa lo nolak suami," ucap Zein tak mau kalah.
"Aku nolak kamu, cuma... "
Cup...
Berbarengan dengan ucapan yang terputus itu, Zein langsung mendaratkan kecupan di bibir wanita cantik itu.
Tak ayal, Zi pun melongo mendapat serangan mendadak seperti itu. Sebab ia belum siap. Sedangkan Zein hanya tersenyum. Lalu kembali melakukan serangannya lagi.
Zi tidak marah ataupun menolak. Karena Zi yakin ini tidak salah. Wanita cantik ini pun menyamankan posisinya agar sang suami bisa melakukan apapun yang ia mau terhadapnya.
Zein tahu jika sang istri masih canggung menerima keinginannya itu, pria ini pun menghentikan aksi kecup-kecupnya dan memilih mengajak sang istri mengobrol agar suasana canggung itu tidak ada lagi.
"Kenapa kamu nggak bilang kalo ayahmu punya hutang sebanyak itu?" tanya Zein sembari memainkan anak-anak rambut sang istri.
"Ya, dia yang kasih tahu aku," jawab zein jujur.
"Maafkan aku telah melibatkanmu dalam masalah menyedihkan ini. Maafkan aku karena masalah ini, kamu jadi terpaksa mengambil tanggung jawab atasku." Zi kembali menatap sang suami dengan binar cinta yang ia miliki.
"Aku tidak merasa terpaksa melakukan ini, Zi. Justru aku bahagia, karena Tuhan kasih aku kesempatan untuk mengenal wanita sebaik kamu. Bahkan Tuhan memberiku kesempatan untuk memilikimu, dengan keterbatasanku. Aku yakin, di sini pasti kamu yang terpaksa menikah. Karena pria yang menikahimu cacat kan?" balas Zein. Sedikit terdengar sedih.
Zi tidak menimpali ucapan tersebut, sebab ia tahu, Zein hanya merendah. Zizi sudah tahu bahwa sebenarnya Zein sudah sembuh. Hanya butuh bekerja lebih keras lagi untuk melancarkan jalannya. Zi juga yakin jika Zein bisa melakukan tugasnya sebagai suami, jika mau. Ahh, akal bulusmu terciduk oleh perawatmu sendiri, Zein. Jangan menipu.
"Eh, ngomong-ngomong... kok kamu bisa menggantikan cowok gila itu. Gimana ceritanya?" tanya Zi, setelah merasa nyaman dengan suasana yang diciptakan sang suami.
"Dia? ngapain masih nanyain dia. Bukankah suami kamu jauh lebih tampan dari dia!" ucap Zein terdengar sedikit ketus.
__ADS_1
"Aku tahu, orang merem juga tahu kalo bapak Zein yang terhormat ini tampan. Cuma kan penasaran saja, anak buah mereka banyak. Mereka kejam. Kok bisa dengan mudah kalian ngalahin mereka?"
Sebelum menjawab, Zein merebahkan tubuhnya terlebih dahulu, agar merasa lebih nyaman. Sedangkan Zi, tanpa di minta ia pun membantu sang suami menyamankan posisinya.
"Awalnya saat aku, mama sama papa sampai, kami melihat paman dan bibimu serta beberapa kerabat sedang menghias rumah. Pas kami tanya katanya buat nikahan kamu sama si anak bakekok itu. Setelah itu, kami paksa lah bibi sama paman kamu cerita. Akhirnya ceritalah mereka." Zein melirik Zi yang saat ini khusuk mendengarkan ceritanya sambil menatapnya.
"Kenapa ngliatin akunya seperti itu?" tanya Zein tiba-tiba.
"Ah, nggak... terus gimana lanjutannya?" balas Zi, berkilah... sebab ia takut, Zein mengetahui isi hatinya yang ternyata memang telah terpesona dengan suami tampannya itu.
"Terus, aku dan orang tuaku pun akhirnya pergilah kami ke rumah orang-orang aneh itu." Zein menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Sebab ia mulai merasa dingin.
"Terus!" Zi terlihat makin tak sabar dengan ending cerita di mana akhirnya Zeinlah yang duduk di depan pengulu itu bukan pria aneh nan menyeramkan itu.
"Mereka marah dong, kesel, terus mau nyakitin kita. Beruntung anak buah papa tepat waktu. Sehingga mereka pun berpikir lima kali buat nyerang kita. Tapi aku akui mereka tetep kekeh nggak mau nglepasin kamu, ya udah akhirnya kita ambil jalan pintas." Zein tersenyum licik. Membuat Zi merasa aneh.
"Jalan licik, maksudnya?" tanya Zi penasaran.
"Iya, jalan pintas. Kita culik aja anaknya. Pas mereka sibuk, saat itu aku ambil kesempatan buat nikung dia. Ku ambil aja calon istrinya. Enak aja, kenalnya duluan siapa? Ngincernya duluan siapa? Berani sekali dia main-main dengan seorang Zein. Pria tertampan sejagat raya, iya kan?" jawab Zein santai. Sembari di selingi beberapa guyonan.
"What? ko gitu, wah parah. Terus kalo mereka ngamuk, gimana dengan keluarga aku?" Zi terlihat ketakutan.
"Tenang aja, serahkan semua sama papa. Orang-orang begitu ma kecil buat papa. Yang penting saat ini kamu bahagiain putra tampannya ini, biar kamu nggak kena marah nanti," jawab Zein manja.
"Yakin keluargaku nggak bakalan di apa-apain sama mereka?" tanya Zi lagi, memastikan.
" Nggak percayalah!" jawab Zein sembari menarik sang istri agar masuk ke dalam dekapannya.
"Aku percaya sama kamu," jawab Zi singkat.
__ADS_1
"Makasih, Honey," balas Zein mesra, tak ingin kehilangan wanitanya kali ini, Zein mendaratkan kecupan mesra di kening sang istri. Lalu kembali mendekapnya erat. Mengisyaratkan pada Zi, vahwa dialah wanita paling berharga dalam hidupnya saat ini.
Bersambung ...