
Zein tersenyum ketika mantan asistennya itu sedang berjalan menuju kepadanya. Melambaikan tangan kepadanya. Pertanda pria itu juga suka bertemu dengannya.
"Udah lama, Bro?" tanya Rehan sembari mengulurkan tangannya.
"Belum! Mana calon ibu nyonya. Kok nggak diajak?" balas Zein dengan senyum sumringahnya.
"Dia lagi siap-siap. Kamu kan tahu sore ini kita ke mana," jawab Rehan. Sengaja tak mau menyebut tujuan mereka. Karena Rehan tak mau melukai perasaan Zein dengan ucapannya.
"Biasa aja lagi, Re. Aku nggak pa-pa kok. Aku kuat, kamu tenang aja," jawab Zein sembari terkekeh.
Rehan hanya tersenyum. Sebab ia tahu, itu adalah cara Zein menutupi luka yang saat ini sedang ia rasakan.
"Ah, serah elu aja, Zein. Ini adalah daftar karyawan yang selama ini belum bekerja. Mereka siap bekerja pada kita. Aku udah interview mereka satu persatu. Cuma ada satu yang mau gabung, cuma lagi hamil besar. Dia minta waktu sampai melahirkan," jawab Rehan sembari menyerahkan lembaran berkas yang ada di tangannya.
Dengan senang hati, Zein pun menerima lembaran berkas tersebut. "Oke, nggak masalah. Kalo dia mau, dia admin aja. Jadi kan nggak perlu sering-sering ngantor. Cukup rebahan aja di rumah," jawab Zein, setengah bercanda tetapi dia serius.
"Boleh juga, coba deh aku nego dia. Soalnya admin kita kurang," jawab Rehan sembari menyerahkan beberapa lembaran kertas berikutnya.
Zein menerima lembaran berkas itu. Lalu membacanya satu persatu. Meneliti hasil kerja mantan asistennya itu.
"Sepertinya jiwa pekerjamu masih membara, Re!" canda Zein, kembali terkekeh.
__ADS_1
"Demi biaya sekolah bocah, Bos. Sama, biaya buat kawin." Rehan ikut terkekeh.
"Hilih! Istrimu kan pinter dagang online. Boleh lah kita kerja sama nanti. Tas-tas produksi nyokap cakep-cakep. Nggak terlalu mahal juga. Cocok buat kalangan menengah ke bawah, Re," ucap Zein menawarkan. Barang kali Rehan berminat.
"Wah boleh juga tu, nanti deh aku bilangin." Rehan tersenyum senang.
"Sekalian ntar kalo ke Bantam mampir ke rumah. Ajak calon ibu nyonya lu kenalan ama emak gue. Siapa tahu mereka cocok," tambah Zein.
"Wahh, ide keren tu. Mantap! Okelah, demi cuan apapun boleh lah!" Rehan kembali terkekeh. Sedangkan Zein hanya tersenyum. Kemudian ia kembali fokus pada lembaran-lembaran kertas yang ada di tangannya.
Rehan hanya memerhatikan sang mantan bosnya itu memeriksa hasil kerjanya. Rehan tersenyum sebab Zein si pria gila keras yang kenal itu telah kembali. Dengan jiwa yang lebih baik tentunya. Terbukti saat ini, tanpa pamrih, pria itu iklhas menggunakan uangnya untuk menciptakan lapangan kerja baru untuk para mantan karyawan yang pernah bekerja pada perusahaan keluarga Stella.
Namun, di sela-sela apa yang Zein kerjakan, tiba-tiba saja, Rehan mengingat sesuatu. Ia teringat dengan masalah yang saat ini sedang membelit Juan dan juga Stella. Dan masalah tersebut berhubungan dengan keluarga pria yang kini sedang ada di depannya.
"Zein, sorry. Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rehan.
"Tentu saja, tanyakan saja. Asal jangan masalah calon manten. Aku nggak suka!" jawabnya tegas.
"Astaga! Gitu aja sih. Ini bukan perihal calon manten. Tapi ...." Rehan menatap Zein, ragu.
"Tapi apa?" Zein menatap sekilas pada sang sahabat, lalu kembali fokus pada kertas-kertas itu. Melingkari beberapa nama, entah apa maksudnya.
__ADS_1
"Bagaimana perihal Berliana? Apakah kamu sudah menyelesaikannya?" kali ini Rehan gatal ingin ikut campur. Rehan hanya tidak rela saja, kalau persahabatan Zein dan Juan pecah hanya karena masa lalu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin.
"Aku sudah minta maaf dengan Ste dan Juan. Aku juga sudah menandatangi surat perjanjian tidak akan mengusik kehidupan putriku, sampai mereka sendiri menjelaskan pada putriku, tentang siapa sebenarnya ayahnya," jawab Zein sesuai dengan apa yang telah ia sepakati dengan Ste dan suaminya.
"Tapi, Zein. Sepertinya orang tuamu tidak mau menerima keputusanmu. Mereka masih ngotot memperkarakan masalah ini. Bahkan mereka telah mengajukan permohonan tes DNA ke pengadilan. Aku hanya kasihan pada Juan. Dia yang selama ini berjuang mati-matian mempertahankan bayimu. Dia juga rela menikahi wanita hamil hanya untuk menyelamatkan nyawa bayimu. Dia menjaga Berliana sebelum bocah itu menjadi apa-apa. Dia mencintai putrimu dengan segenap jiwa dan raganya. Dia tulus pada Berliana, Zein. Tolong! Hargailah perjuangannya. Tolong bicaralah lagi pada keluargamu. Agar berhenti mengusik mereka. Maaf Zein, kalo kali ini aku ikut campur. Aku hanya kasihan pada Juan dan Stella. Aku juga nggak ingin persahabatan kita hancur gara-gara masalah yang seharusnya bisa kita selesaikan dengan damai," ucap Rehan panjang lebar. Sebab ia sudah tak tahan dengan kelakuan keluarga Zein yang terkesan memaksa.
Zein tertegun tak percaya dengan apa yang ia dengar. Karena selama ini ia berpikir bahwa masalahnya dengan Juan dan Ste telah selesai. Ia tidak tahu bahwa kedua orang tuanya masih memperkeruh masalah itu.
"Astaghfirullah... sungguh aku nggak tahu ini, Re. Juan juga nggak cerita apapun padaku. Masya Allah, tega sekali mereka!" ucap Zein serius.
"Serius kamu nggak tahu, Zein?" tanya Rehan memastikan.
"Demi Allah, Re. Aku nggak tahu perihal ini. Juan beneran nggak ada ngomong apa-apa ke aku. Makanya aku pikir semua udah clear. Aku pikir orang tuaku udah nggak mengusik mereka. Makanya aku tenang. Astaghfirullah... kenapa mereka bandel sekali sih. Kayak bocah jadinya," ucap Zein geram.
"Coba nanti kalo kamu ketemu mak bapakmu tolong di bahas pelan-pelan, Zein. Nggak lucu juga, bocah segitu dibuat rebutan. Iya kan?"
"Ya kamu benar, Re. Makasih banyak kamu udan kasih tahu aku. Kalo nggak aku bakalan terlihat sangat bodoh di mata Juan dan Ste, Re." Zein mengusap kasar wajahnya. Langsung kalut seketika.
Dari pihak Rehan sendiri, pria ini merasa lega karena bisa menguatkan sesuatu yang tadinya sempat membuatnya ragu.
Bersambung...
__ADS_1