PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
DUA RASA yang BERBEDA


__ADS_3

Hidup laksana misteri. Tak banyak yang tahu tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Kita hanya bisa merencanakan namun Tuhan-lah yang akan menentukan. Seperti pertemuan dan hubungan antara Vita dan Zein. Mereka sama-sama tidak menyangka jika mereka akan dipertemukan dalam lingkup dan waktu yang sama.


Awalnya Vita begitu antusias kembali ke Indonesia. Ia memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu menjaga dan merawat ibunya yang saat ini sedang sakit. Bukan hanya itu, ia juga bersemangat memulai kariernya agar tidak melulu menggantungkan hidupnya pada Ser, sang tante.


Jika boleh jujur, saat ini ada penyesalan di hati gadis ini. Jika saat itu ia tahu, bahwa bos di tempat kerja barunya itu adalah sang mantan kakak ipar. Pria yang ia benci, mungkin Vita akan memilih bekerja pada perusahaan Sera. Entahlah nasi sudah menjadi bubur. Tak ada gunanya lagi di sesali.


Terkadang ada juga sekelibat kata untuk membiarkan ia tetap bekerja di sana. Toh Zein juga tidak mengusahkannya. Mereka sama-sama profesional dalam bekerja. Zein juga tidak kurang ajar seperti pria-pria nakal pada umumnya. Pria ini selalu menjaga matanya. Bahkan malah sering mengingatkannya jika ia memakai pakaian yang sedikit terbuka.


Vita tahu jika mantan kakak iparnya itu memang tidak begitu tertarik dengan lawan jenis. Pria ini selalu menjaga etika dan harga dirinya. Dia adalah pria yang tidak sembarangan menjatuhkan pilihan. Atau lebih tepatnya ia tak mudah tertarik dengan wanita. Ya, Zein memang memiliki kriteria sendiri untuk wanita yang akan ia nikahi. Jika tidak begitu mana mungkin ia akan mendepak Stella dalam hidupnya.


Terkadang Vita juga kagum dengan jalan pikiran Zein. Yang tak menjadikan wanita sebagai sesuatu objek kesenangan sesaat. Tetapi tetap saja, Vita tak bisa menepis bahwa ia sangat membenci Zein.


Jika bisa diibaratkan, maka Zein adalah manusia paling buruk di muka bumi ini. Manusia paling menjijikkan dan paling bodoh yang pernah ia temui. Namun sekali lagi, hubungan yang tidak mereka sangka akan terjalin ini memaksa mereka untuk memakai topeng. Topeng kebohongan berpura-pura baik, terlebih di depan umum atau di depan para karyawan yang bekerja pada Zein.


Semalam penuh Vita tak bisa tidur. Memikirkan keputusannya untuk berhenti dari perusahaan tersebut. Namun ia juga bingung, bagaimana carannya'' untuk resaign, tapi tidak harus membayar denda di perusahaan.


"Ah, kalau dia masih memiliki hati pasti dia akan memberiku dispensasi, ya kan? Keculi dia memang manusia gila dan matre. Pasti akan tetap menahanku dan memintaku tetap kerja padanya," ucap Vita sembari bersiap ke kantor. Memasukkan semua peralatan kerjanya. Tak lupa Vita juga memasukkan amplop putih yang berisi surat pengunduran dirinya.

__ADS_1


Aktivitas Vita terhenti ketika Safira tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu.


"Pagi Vit!" sapa Fira malas.


"Pagi Bucin! Ada apaan? Tumben pagi-pagi nyariin?" canda Vita.


"Hari ini gue mau interview. Do'ain ya!" ucap Fira dengan senyum termanis nya.


"Wih, selamat. Semoga sukses. Sekalian dong, kalau masih terima karyawan, gue mau," ucap Vita semangat.


"Buat gue lah, Beib! Gue nggak mau kerja di tempat ini lagi. Bisa mati muda gue!" jawab Vita cemberut.


Tentu saja, keinginan Vita ini membuat Safira heran. Bagaimana tidak? Awalnya begitu Vita begitu semangat setelah ia menerima kabar, diterima di perusahaan bergengsi tersebut. Lalu, sekarang tiba-tiba ia memutuskan untuk berhenti. Pasti tidak ada yang tidak beres.


"Emang kenapa mau berhenti? Bukannya sistemnya kontrak. Emang bisa resaign gitu aja?" tanya Fira heran.


"Ada masalah sedikit. Intinya gue nggak mau lagi kerja di perusahaan itu. Pokonya enggak, titik!" jawab Vita sedikit ketus.

__ADS_1


"Iya, masalahnya apa Vita? Astaga!" balas Fira tak kalah kesal.


Vita enggan menjawab. Ia memang paling tak bisa jika mengutarakan masalahnya pada orang lain. Gadis tomboy ini memang selalu bisa menyimpan masalahnya sendiri. Baginya apa yang ia rasakan adalah miliknya. Tidak harus dibagi dengan orang lain.


***


Di sisi lain tampak seorang pria begitu bersemangat bersiap ke tempat kerja. Entah mengapa? Sejak Vita bekerja padanya, Zein ingin selalu bertemu dengan gadis itu. Meskipun hanya sekedar menatap matanya. Mata yang sangat mirip dengan pemilik hatinya. Mata yang mirip dengan cintanya. Cinta yang telah ia sia-sia kan. Namun, sampai saat ini masih ia rindukan.


Zein juga bahagia, apa lagi ketika ia berhasil membuat gadis itu naik pitam. Sepertinya Vita membawa kebahagiaan tersendiri bagi Zein. Entahlah Zein hanya merasa seperti itu.


Melihat Vita seperti melihat Stella. Hanya saja bedanya, Vita lebih tomboy, pemarah dan juga judes. Tata bahasa mereka berbeda. Stella lebih lemah lembut dan keibuan. Sedangkan Vita berbanding terbalik. Tapi asik. Zein suka.


Zein merasa tertantang ketika tahu Vita sangat mudah diajak berdebat. Sehingga membuat pria ini selalu mencari bahan untuk membuat gadis itu mau diajak berdebat dengannya. Zein tak mau kalah dengan gadis itu, gadis yang mampu membuat hidupnya lebih berwarna.


Bersambung....


Like komen kalian selalu menjadi hadiah terindah untukku.. makasih🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2