
"Pagi, Mam!" sapa Juan ketika menuruni anak tangga. Sedangkan Stella duduk di meja makan, sedang sibuk menonton acara memasak yang ada di media sosial.
"Pagi, Pi. Kok nggak pakek baju formal. Nggak ngantor, Pi?" tanya Stella sambil menengok sang suami.
Juan datang menghampiri lalu memberikan kecupan selamat pagi di kening wanita ayu ini. "Hari ini Papi mau ninjau proyek, Mam. Jadi pakek baju harian aja. Astaga, Papi lupa handuknya masih di kasur, Mam," ucap Juan seraya hendak membalikan tubuh. Mau kembali ke kamar.
"Selalu deh, Papi. Udah biarin aja. Nanti Mami yang urus. Papi sarapan aja dulu!" pinta Stella sambil menyiapkan piring untuk sang suami. Melayani pria ini dengan hatinya.
Dengan senyumnya, Juan pun menerima piring itu dan tak lupa, pria tampan ini mengucap terima kasih. "Makasih, Mam," ucap Juan.
"Sama-sama, Pi. Oia siang ini Mami mau masak soto Betawi, Papi mau nggak makan siangnya soto Betawi?" tanya Stella. Soto Betawi adalah makanan favorit Juan. Mana mungkin dia menolak.
"Boleh, Mam. Nanti biar Gani yang ambil," jawab Juan. Stella pun menyetujui.
"Ya udah, nanti Papi jangan jajan. Awas jajan!" ancam Stella dengan senyum manisnya.
"Iya Mam, nggak percayaan amat sih," balas Juan seraya memasukkan makanan ke mulutnya.
"Oia Mam, HPLnya kemarin tanggal berapa ya? lupa, Papi!" tanya Juan.
"Pertengahan bulan ini, Pap. Kenapa emang? Papi belum dapet nama ya?" balas Stella sembari mengupas kentang untuk bahan masakan yang hendak ia masak siang ini.
"Udah sih Mam, tapi rahasia," jawab Juan dengan kelingan mata genitnya. Seperti biasa, seperti ketika ia menggoda Stella.
"Dih, Papi. Mami yang mengandung. Papi yang kuasa, aneh," celetuk Stella manja.
__ADS_1
"Siapa Papinya? Aku," balas Juan sombong.
"Iya, papinya baby. Anda benar. Saya yang salah karena sudah menandatangani surat kuasa itu. Ahhh, sudahlah pasrah saja, dari pada saya kena denda nanti," ucap Stella pasrah. Sedangkan Juan hanya tersenyum menahan tawa, istrinya terlihat menggemaskan jika pasrah seperti itu.
"Pilihan terbaik itu, Mam. Lebih baik pasrah dari pada Papi apa-apain nanti," ledek Juan lagi. Stella hanya tersenyum dan memilih melanjutkan pekerjaannya. Karena ia tahu tak ada celah baginya untuk menang melawan Juan.
***
Siang pun tiba. Juan yang tadinya dijadwalkan berada di proyek, terpaksa harus ke kantor karena ada rapat mendadak. Para Dewan Direksi menginginkan kehadirannya dalam rapat untuk membahas issu turunnya saham yang mereka miliki. Bahkan bukan hanya Dewan Direksi yang hanya di dalam kota, yang berada di luar kota pun datang. Tentu saja mereka takut jika saham yang mereka tanam di perusahaan Juan hilang. Gara-gara issu tersebut.
Dengan cepat Juan pun mengganti pakaiannya yang telah disediakan oleh Gani dan kini mereka berdua sudah berada di ruang rapat. Dengan tenang pria 30 tahun ini pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Menyapa para anggota rapat dengan ramah dan santun. Kemudian ia pun mulai menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi.
Masalah yang terjadi sesungguhnya adalah bukan saham mereka yang merosot. Tetapi, izin untuk membangun apartemen di daerah yang telah ditentukan belum mendapatkan izin dari pemerintah setempat. Kendalanya, mereka hanya menunggu izin. Bukan uang yang sudah mereka setoran di awal hilang. Juan juga sudah menjelaskan rinci hasil itung mereka, sehingga bisa meredam permasalahan sementara mereka. Namun jujur, Juan jadi bingung siapa yang berniat jahat pada dirinya. Mengapa menyebarkan issu yang aneh ini? Siapa yang punya dendam padanya?
Setelah rapat selesai. Juan diam sejenak. Memikirkan kembali apa yang jadi pembahasan dalam rapat ini.
"Baik, Bos. Laksanakan!" jawab Gani. Kemudian mereka berdua pun meninggalkan ruang rapat ini. Gani menunaikan tugasnya sedangkan Juan masuk ke dalam ruangannya.
Pria tampan ini tak mau menunda-nunda masalah yang telah hadir. Ia pun segera menyalakan laptopnya dan mulai menelusuri, siapakah kira-kira orang yang menyebar kabar bodong ini. Apa motifnya? Kenapa tiba-tiba?
Hampir setengah jam Juan mengotak-atik laptopnya. Namun tak ada satupun laporan yang melenceng menurutnya. Semua sama. Membuat Juan sedikit kebingungan.
"Dari mana dewan direksi dapat kabar bohong itu?" gumam Juan. Masih berusaha berpikir keras. Sebab, walaupun ia bisa memadamkan api hari ini. Belum tentu api ini tak datang kembali. Juan takut, jika api yang datang akan lebih besar. Itu sebabnya ia harus bergerak cepat. Sebelum semua terlambat dan menghancurkan bisnisnya. Sebab, ia sudah terlanjur banyak mengeluarkan dana untuk anggaran proyek ini. Jika gagal maka tamatlah riwayatnya.
Juan tersadar dari lamunannya, ketika terdengar seseorang mengetuk pintu.
__ADS_1
"Masuk!" pinta Juan.
Seseorang yang mengetuk pintu pun masuk. "Ngelamun aja calon bapak, napa sih? ada masalah?" tanya tamu Juan.
"Hay, apa kabar, dateng sama siapa?" tanya Juan pada sahabatnya.
"Sendiri, bos lagi ke Jepang. Makanya aku yang ke sini. Apa kabar? istri sehat?" tanya Rehan sembari mengulurkan tangan dan Juan pun menyambut uluran tangan itu dengan bahagia.
"Istri sehat, aku tahu dia ke Jepang. Ngapain lagi sih, bukankah hari itu dia udah pergi ya?" tanya Juan.
"Udah, tapi gitulah, kayak nggak kenal bos Zein aja. Dia mana mau puas sekali lirik, harus dipelototin bener-bener baru dia oke." Rehan terkekeh sedangkan Juan hanya tersenyum.
Rehan yang heran dengan gelagat sang sahabat tentu saja langsung bertanya. "Ada masalah?" tanya Rehan.
"Iya, tadi sempat ada isu saham anjlok. Padahal pas dicek ulang enggak. Semua aman. Keuangan juga stabil. Entahlah siapa yang lagi masang jebakan. Pusing aku," jawab Juan jujur.
"Sabar, jangan gegabah. Ditelaah satu persatu. Coba sini aku bantu ngecek. Siapa tahu bagian keuanganmu ada yang nakal," ucap Rehan. Juan diam, ia pun menyerahkan laptopnya pada Rehan. Tentu saja sambil ikut meneliti, siapa tahu dia yang kurang teliti.
Juan dan Rehan terus saja fokus pada laptop mereka. Sampai Stella mengetuk pintu beberapa kali, mereka tak dengar. Akhirnya Stella pun membuka pintu dan melongokkan kepalanya, ia sendiri pun takut. Takut jika Juan sedang ada tamu penting.
"Assalamualaikum!" ucap Stella.
Serempak Juan dan Rehan pun menengok ke arah suara. Sedangkan Stella hanya fokus pada sang suami, sayangnya tidak dengan Rehan. Ia menatap tak menyangka pada Stella. Seseorang yang ia hindari kini tepat ada di depan matanya. Rehan tertegun. Entah apa yang harus ia lakukan. Sungguh ia tak menyangka jika pertemuan yang belum ia inginkan harus terjadi.
Bersambung...
__ADS_1
Apa yang harus Rehat lakukan dan Bagaimana sikap Stella? Jangan lupa like dan komen kalian aku tunggu. Yang punya ide buat nama babynya Stella juga boleh♥♥