PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 49


__ADS_3

Kesepakatan yang diambil Zein dan juga Vita, ternyata bukan main-main. Di samping mereka akan berusaha mendapatkan restu dari keluarga, setelah masa idah wanita itu selesai, maka Zein berniat untuk melamar Vita.


Perihal Zi, Zein berjanji pada dirinya sendiri akan mengutarakan niatnya ini kepada wanita itu. Di saat yang tepat tentunya.


Zein tidak peduli, Zi akan setuju atau tidak. Zi akan menerimanya atau tidak. Yang jelas, yang ia pikirkan saat ini hanyalah bisa hidup bersama dengan wanita yang ia cintai. Itu saja titik. Zein tidak mau di ganggu gugat oleh apapun. Termasuk pendapat Zi nantinya.


Keseriusan Zein terbukti, besok dia dan sang pemilik hati berjanji untuk makan siang bersama. Tentu saja ini untuk membahas keseriusan hubungan mereka.


Zein dan Vita sepakat untuk tidak pacaran. Tetapi mereka ingin langsung melangsungkan pernikahan. Mereka ingin langsung menjalani hubungan yang halal. Agar mereka merasa tenang ketika hendak mengekspresikan apa yang mereka rasakan.


Senyum merekah indah di bibir Zein ketika sang kekasih menjawab iya atas permintaannya bertemu. Sedangkan Vita sendiri juga tersenyum malu-malu ketika Zein memintanya untuk datang ke kantor.


Mereka terlihat seperti Anak baru gede yang baru merasakan jatuh cinta. Menjengkelkan sekali.


"Besok abang tunggu di depan kantor di jam makan siang ya," tulis Zein dalam pesan singkat nya.


"Oke, Sayang," balas Vita bahagia.


"I love you, Beib," tulis Zein lagi, dibarengi dengan emoji hati berwarna merah menyala.


"I love you more," balas Vita, wanita cantik ini juga membalasnya dengan emoji hati dan stiker pertanda memberi ciuman cinta yang sangat banyak. Membuat si penerima jadi gemas dan tak sabar ingin segera bertemu.


"Oke, sampai ketemu besok, Honey. Malam ini abang mau terbang ke Makassar. Sampai ketemu besok siang ya," tulis Zein lagi, berpamitan.


"Mau ngapain ke sana?" Vita terlihat cemberut.


"Besok pagi, bos dari Malaysia mau mampir ke gudang, Abang. Mau lihat model-model tas yang kita punya. Do'ain ya dia banyak suka dan bisa belanja banyak di toko kita. Buat modal kawin," jawab Zein, sedikit bercanda.


"Hilih, modal kawin konon. Duit abang banyak, ngapain modal kawin aja nunggu laku tas banyak. Tapi Vita tetap mengamini doa abang. Semoga usaha abang makin sukses," jawab Vita dengan senyum bahagianya.


"Gitu dong! Itu baru namanya calon istri yang baik," balas Zein lagi.

__ADS_1


Mereka berdua terlihat tertawa di tempat mereka masing-masing. Ya, Vita dan Zein sedang merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Mereka benar-benar tak malu lagi mengekspresikan apa yang terjadi pada diri mereka. Mereka tidak sungkan lagi mengakui bahwa cinta itu memang ada di antara mereka.


***


Di sisi lain, Zi sedang merasakan tak nyaman di sekujur tubuhnya. Tiba-tiba saja ia merasa mengigil, tetapi suhu tubuhnya tidak tinggi atau pun dingin. Zi merasakan suhu tubuhnya baik-baik saja.


Rasa mengingil itu juga dibarengi rasa mual yang luar biasa. Pandangannya berkunang-kunang, sampai melihat sekeliling pun tak jelas.


Zi terpaksa meminta bantuan rekan kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan dirinya meminta izin untuk beristirahat sebentar.


"Ya Tuhan, aku ini kenapa?" tanya Zi pada sang Pemilik Hidupnya. Sebab baru kali ini rasanya ia merasakan penyakit super aneh seperti ini.


Padahal, seingatnya dia sudah makan pagi. Sudah minum vitamin sebelum berangkat kerja. Sudah minum air putih yang banyak dan beberapa cemilan juga ia lahab. Lalu, apa ini? Apa yang terjadi padanya. Astaga!


Zi mencoba memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur. Siapa tahu setelah tidur nanti, kondisinya akan membaik.


Berberapa menit kemudian, Zi pun akhirnya tertidur pulas. Namun, kali ini ia kembali merasakan keanehan.


Di dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu ibu seorang wanita bercadar. Dan wanita tersebut terlihat menggendong dua bayi. Tanpa meminta persetujuan darinya, wanita itu lansung memberikan dua bayi tersebut untuk ia jaga.


Yang anehnya lagi, wanita bercadar itu juga bercerita pada Zi, bahwa anak-anak yang sedang ia gendong itu membutuhkan seorang ibu yang baik, kuat dan sabar. Dan wanita itu percaya bahwa Zi adalah ibu yang pantas untuk mereka.


Zi yang saat itu sedang tersenyum dalam tidurnya, tentu saja tingkah aneh Zi pin mengundang sang teman untuk membangunkannya.


"Zi... Zi... bangun! Dih ngapain tidur senyum-senyum begitu. Aneh!" ucap sang sahabat sembari menggoyang-goyangkan tubuh Zi.


"Eemmmm, ada apa sih?" tanya Zi, tetapi matanya masih merem.


"Zi bangun, kamu ngigau ni," ucap sang sahabat lagi.


Lalu, Zi yang merasa tidurnya terusik, tentu saja memutuskan untuk bangun saja. Rasanya kesal saja jika asik mimpi tiba-tiba di bangunkan.

__ADS_1


"Apa sih.... Ganggu aja!" gerutu Zi kesal.


"Dih, dia kesal. Harusnya you terima kasih sama I. Karena I udah bawa you kembali ke dunia nyata. Tidur cengar-cengir nggak jelas. Itu pertanda you lagi di senengin setan," jawab Teman Zi, sewot.


"Aduh bestie, you dapat isu aneh itu dari mane, Hari gini masih percaya dengan hal yang nggak jelas begitu. Udah ah, aku mau balik kerja. Bye!" ucap Zi seraya beranjak dari pembaringannya.


Namun, ketika baru beberapa langkah meninggalkan tempat di mana ia melepaskan penatnya, Zi tiba-tiba kembali merasakan hal yang sama seperti sebelum dia tidur tadi.


Pusing, kunang-kunang dan rasanya mual. Ingin pingsan. Ahhh, entahlah... rasanya nano-nano saja.


"Zi... elu kenapa? Elu sakit?" tanya Sahabat Zi, langsung kembali membantu Zi kembali ke tempat semula.


"Entah, Nad. Beberapa hari ini aku sering pusing. Tapi ini yang paling parah," jawab Zi jujur.


"Jangan-jangan tekanan darah lu menurun, Say. Elu masih suka begadang kah?" tanya sang sahabat lagi.


"Iya sih, kadang-kadang. Kalo pas lagi nulis," jawab Zi jujur.


"Udah gini aja, elu istirahat lagi. Soal kerjaan elu, biar gue yang ngerjain. Elu tenang aja beib," ucap sahabat baik Zi.


Tak ada perbincangan lagi, sahabat Zi tersebut langsung kembali berkerja. Sedangkan Zi malah melamun.


Memikirkan tentang wanita bercadar yang memberinya dua bayi itu. Lalu, ia berpikir, bagaimana seandainya dia hamil. Zi rasa, hamil itu adalah anugerah yang ditunggu oleh setiap wanita yang sudah menikah. Dan apa salahnya hamil.


Justru Zi sangat berharap bahwa dirinya hamil. Agar sang suami bisa kembali hangat lagi setelah tahu dia hamil.


Namun, semua itu belum bisa dipaksakan apakah itu pasti atau tidak. Karena seharusnya ia memastikan dulu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.


Bisa saja dia tidak hamil, tetapi hanya masuk angin biasa.


"Ahhhh, dari pada aku galau nggak jelas seperti ini sebaiknya aku test aja nanti. Setelah di rumah." ucap Zi dalam hati.

__ADS_1


Lalu semenit kemudian ia pun memilih kembali tidur. Dan harapannya tetap sama. Setelah tidur nanti, Zi ingin dia kembali fresh dan bisa kembali bekerja seperti sedia kala.


Bersambung...


__ADS_2