PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
KEBENARAN MEMANG MENYAKITKAN


__ADS_3

Pesawat yang membawa Safira akhirnya sampai juga di Batam. Wanita ini langsung menaiki taksi yang ia pesan, lima menit setelah ia turun dari pesawat.


Safira tak ingin mengulur waktu lagi. Ia tak peduli, kalaupun ayahnya akan mengurungnya kembali. Akan marah padanya. Atau mungkin malah melemparnya jauh ke luar negeri lagi. Dia tak peduli. Yang penting saat ini baginya adalah mendapatkan jawaban atas apa yang mereka lakukan terhadapnya.


Safira terlihat menghela napas dalam-dalam. Mempersiapkan hati dan mentalnya untuk menghadapi ayah yang keras kepala dan penuh perhitungan itu.


Kini, kakinya telah mendarat rumah di mana ia di besarkan. Dengan tekat dan keyakinan yang kuat, akhirnya Safira pun masuk ke dalam rumah tersebut.


"Non Fira!" ucap salah satu asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdikan diri bekerja pada pada keluarganya.


"Papa mana, Bi?" tanya Safira.


Belum sempat asisten rumah tangga itu menjawab pertanyaan Safira. Seorang wanita paruh baya menyaut, langsung menjawab pertanyaan itu tanpa basa basi.


"Eh, ada anak nggak tahu diri. Masih berani kamu datang ke sini!" saut wanita itu.


Terang saja jawaban itu sukses membuat Safira bingung. Bukan hanya bingung, kata-kata tersebut juga sukses menyakiti hati wanita cantik ini.


"Apa maksud, Mama?" tanya Safira.


"Maksud? Aku nggak ada maksud. Sebaiknya kamu pergi, susul bapakmu yang nggak tahu diri juga itu. Ini bukan rumahmu lagi! dan jangan pernah injakkan kakimu ke sini lagi. Karena aku dan bapakmu sudah nggak ada hubungan lagi!" ucap wanita itu menggebu-gebu.

__ADS_1


"Maksud Mama apa sih? Mana papa?" tanya Safira, masih berusaha sabar dengan kelegaan hatinya.


"Asal kamu tahu ya, aku bukan mamamu. Pergi sana!" usir wanita sembari menarik tangan Safira untuk keluar dari rumah di mana ia di besarkan itu.


"Tunggu Ma, tunggu. Jelasin ke Fira dulu apa maksud semua ini. Kenapa kalian ninggalin Fira sendiri di Sydney? Kenapa kalian juga bilang sama Juan kalo Fira udah mati? Kenapa Ma? Kenapa?" tanya Safira sambil berusaha menahan tubuhnya agar tidak keluar terlebih dahulu dari rumah tersebut.


"Karena aku muak denganmu! aku muak dengan ibumu! aku muak dengan bapakmu! aku muak dengan semuanya!" teriak wanita itu, tanpa memikirkan kebingungan yang Safira rasakan saat ini.


"Bapakku? Ibuku? Maksud Mama apa sih?" tanya Safira lagi.


"Bertahun-tahun aku merawatmu. Membesarkanmu dengan cintaku. Meskipun kamu bukanlah putriku sendiri. Aku memberikan kemewahan padamu, pada ayahmu. Mencukupi kebutuhan kalian. Karena aku mencintai kalian. Lalu, bapak biadapmu itu! dia! dia menghancurkan segalanya. Nyatanya dia masih bermain di belakangku dengan ibumu. Dengan wanita laknat itu! Sekarang pergi! Pergi! Jangan pernah tunjukkan wajahmu dihadapanku lagi. Aku muak!" ucap wanita paruh baya itu lagi. Mulai tak sanggup mengontrol emosinya.


Terbesit rasa iba di hati Safira. Meskipun dia sendiri masih belum bisa memahami kenyataan yang sebenarnya terjadi. Safira mendekati wanita itu dan bersimpuh memohon ampun. Meminta maaf atas segala yang terjadi. Sehingga membuat wanita itu terluka.


"Maafin Fira, Ma. Sungguh Fira nggak tahu apa-apa," ucap Safira sambil menaruh kepalanya dipangkuan wanita yang telah membesarkannya ini.


Laila tak tega juga hendak menolak gadis yang selama ini ia anggap anaknya sendiri. Lalila pun tetap membiarkan Safira memeluk kedua kakinya dan menangis di pangkuannya.


Beberapa kali Safira juga meminta ampun pada sang ibu. Mau bagaimanapun ia juga pernah membuat Laila kecewa, dengan hamil di luar nikah.


"Maafkan Fira, Ma. Ampuni Fira! Maaf, Ma, maaf," ucap wanita cantik ini dalam isak tangisnya.

__ADS_1


"Aku benci papamu, Fira. Dia jahat!" ucap Laila, wanita ini kembali menangis. Namun lebih tenang. Ia tidak lagi hiteris.


Tidak lagi menolak Safira.


"Fira sayang sama Mama.Fira sayang Ma! Jangan usir Fira lagi!" ucap Safira memohon. Gadis cantik ini terus memohon dan memeluk kaki wanita yang telah membesarkannya ini.


Sedangkan Laila sendiri tak kuasa menahan air matanya. Mau bagaimanapun, Safira adalah gadis cilik yang selama ini ia asuh, ia besarkan dengan cintanya. Yang ia benci adalah ibu dari gadis itu. Yang membuatnya terluka adalah ayah gadis itu. Gadis ini tak tahu apa-apa. Tak seharusnya ia menyalahkan gadis ini. Karena dia memang tak tahu apa-apa.


"Bi, tolong ambilkan mama minum," pinta Safira lembut pada salah satu asisten rumah tangganya. Dengan cepat wanita tersebut pun mengambilkan apa yang Safira minta.


"Makasih, Bi," ucap Safira pada wanita tua yang mengambilkan minum untuk ibunya.


"Minum dulu, Ma!" pinta Safira pada wanita yang terlihat menderita itu.


"Sekali lagi Fira minta maaf ya, Ma!" pinta Safira lembut. Sedangkan Laila hanya diam, tanpa berucap sepatah katapun.


"Apakah yang Fira dengar tadi adalah suatu kebenaran, Ma?" tanya Safira lembut. Berusaha menjaga hati wanita yang sangat ia sayangi ini.


Laila kembali menangis. Sepertinya ia menyesal telah mengucapkan kata-kata itu pada Safira. Sebab, aku bagaimanapun selama ini, ia telah menganggap Safira adalah putrinya sendiri. Andai saja Laskar tidak bermain api di belakangnya. Mungkin Laila tidak akan menyakiti Safira.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2