PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
TAK ADA PILIHAN LAIN


__ADS_3

Siang telah berganti sore. Vita memantapkan hati untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Tanpa di minta ia pun segera membereskan barang-barangnya. Tak peduli meskipun nantinya Zein akan marah dan mungkin mengancamnya.


Vita mengetuk pintu ruang kerja itu. Setelah diizinkan masuk dia pun masuk. Seperti biasa, jika jam kerja usai maka permusuhan antara mereka pun timbul kembali.


"Masuk!" terdengar seseorang berucap demikian.


Vita pun membuka pintu ruang kerja itu. Lalu dia pun masuk. Tanpa banyak bicara, Vita pun mengarahkan amplop berwarna putih itu.


"Apa ini?" tanya Zein.


"Baca saja, itu surat pengunduran diriku," jawab Vita sedikit ketus.


Zein masih bersikap tenang. Lalu meraih amplop berwarna putih itu. Membukanya, setelah itu membaca baris demi baris kata yang sengaja Vita susun sebagai perwakilan keinginannya untuk berhenti bekerja di perusahaan ini.


Zein tersenyum sinis. Kemudian ia pun menatap wajah cantik gadis itu.


"Silakan tanda tangan, aku harap anda tidak mempersulit saya!" ucap Vita, tanpa memedulikan ekpresi Zein sama sekali.


"Kamu itu bodoh, oon atau gimana?" tanya Zein, sebenernya pertanyaan tersebut bukan lah pertanyaan tetapi lebih keledekan.


"Tidak, aku baik-baik saja!" jawab Vita mulai kesal.


"Bisa baca kan?" tanya Zein santai.


"Tentu saja!" Vita menatap Zein. Begitupun sebaiknya.


Zein menghela napas dalam-dalam. Lalu ia pun membuka laci meja kerjanya. Dikeluarkannya map berwarna biru tua yang ia simpan rapi di sana. Diambilnya amplop itu, kemudian melemparnya tepat di depan Vita.


"Silakan kamu baca surat perjanjian yang sudah kamu tanda tangani! Kalau kamu mau membayar denda ya silakan," ucap Zein. Masih mode santai seperti biasa.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku sudah tahu isinya!" tolak Vita.


Zein menatap gadis itu. Lalu ia pun menyenderkan tubuhnya di sisi kursi di mana dia duduk. "Kalau sudah tahu isinya, kenapa mengajukan surat pengunduran diri?" Zein masih menatap intens wajah ayu itu.


"Aku nggak mau bekerja denganmu. Pokoknya aku mau berhenti! Titik!" ucap Vita mulai kesal.


"Silakan kalau mau berhenti! Kamu pikir aku akan melarangmu, begitu! Heh! Kamu pikir sepenting apa dirimu di sini!" Zein mulai mengeluarkan sisi lain dari dirinya. Meremehkan seperti biasa.


"Justru aku tidak penting makanya aku mau berhenti dari perusahaanmu ini," balas Vita sengit.


"Kamu sudah besar, Nona. Pasti bisa kan berpikir baik dan buruk konsekuensi yang harus kamu terima dari setiap keputusan yang kamu ambil. Silakan keluar jika kamu mampu membayar denda. Jika tidak, maka nikmati saja pekerjaanmu," balas Zein santai. Pria ini berdiri dan mendekati Vita dengan senyum liciknya.


"Dasar pria serakah! Aku membencimu. Apa kau tahu?" Vita menatap penuh permusuhan pasa Zein. Sedangkan Zein malah tertawa geli.


"Aku sudah tahu kamu benci padaku. Tapi sayangnya aku malah tertarik padamu. Tertarik ingin selalu membuatmu marah," balas Zein. Terang saja, mendengar balasan konyol itu, emosi Vita langsung meledak.


"Aku tidak akan memaafkanmu Zein! Sampai kapanpun!" jawab Vita. Menatap nanar pada pria yang telah menghancurkan keluarganya.


"Kenapa sih kamu jadi orang jahat banget?" tanya Vita mulai tak bisa mengontrol emosinya.


"Masak? Emang aku pernah ngapain kamu?" balas Zein, masih santai.


"Jangan pura-pura bodoh Zein. Karena kamulah keluarga ku hancur." Vita membalas tatapan Zein dengan penuh keberanian.


"Setiap manusia pasti melakukan kesalahan Vita. Baik itu dia sengaja atau tidak. Aku sudah menerima hukuman ku. Aku telah kehilangan dia dan juga bukti cinta kami. Kurang apa lagi?" tanya Zein dengan suara melemah.


"Seharusnya kamu mati!" jawab Vita dengan suara meninggi.


Zein tak menyangka jika kebencian Vita begitu dalam padanya. Namun, Zein adalah laki-laki. Bukankah laki-laki harus kuat berhadapan dengan badai. Vita adalah salah satu badai itu.

__ADS_1


Zein tersenyum. Berusaha menutupi tamparan kata yang ia terima dari Vita. Pria ini tetap berusaha menunjukkan wibawanya.


"Tenang saja, Nona. Hidup matiku sudah ada yang mengatur. Lebih baik kamu pikirkan saja denda yang harus kamu bayar. Jika tidak mampu, maka silakan kembali ke ruang kerjamu dan segera pesan tiket untuk kita. Besok kita harus terbang ke Flores. Dan sebaiknya jangan banyak protes. Semakin kamu banyak protes, maka kamu akan sering menghadapi hari yang sulit. Percayalah!" ucap Zein memperingatkan.


Tak ada jalan lain bagi Vita jika begini. Vita hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya kesal. Denda yang tertera di dalam surat perjanjian tersebut sangat besar. Mana mungkin dia punya uang sebanyak itu. Jangankan uang sebanyak itu, satu persen dari nominal yang tertulis saja dia tidak punya. Vita hanya bisa tertunduk lesu dan terpaksa kembali ke ruang h kerja untuk melanjutkan pekerjaan yang diberikan oleh sang atasan.


***


Di sudut ruang yang lain ada Rehan yang hanya bisa pasrah. Ketika emaknya memintanya untuk bersiap.


Malam ini, ia akan diajak ke rumah seorang gadis yang hendak dijodohkan dengannya. Nyatanya ancaman sang emak memang sanggup membuatnya tak berkutik.


Ingin rasanya ia kabur. Namun, melihat wajah sang putri, tentu saja membuat Rehan tak kuat hati.


Di dalam kegalauannya, Rehan pun menghubungi Juan. Tentu saja untuk meminta pendapat sang sahabat.


"Aku bisa gila kalau begini ceritanya, Jun!" ucap Rehan memelas.


"Jangan begitu, Re Lihat dulu gadisnya. Siapa tahu dia sayang sama Kania. Sekarang kamu cari istri tujuannya bukan untuk kesenanganmu saja kan. Tetapi yang paling utama kan bisa menerima Kania sebagai putrinya sendiri. Iya kan?" jawab Juan mengingatkan.


Sebenarnya Rehan membenarkan ucapan sang sahabat. Namun dalam hatinya sendiri masih belum bisa melupakan bagaimana sang mantan istrinya menghinanya dulu. Menjatuhkan harga dirinya dulu. Dan memilih pergi bersama pria lain.


"Ste sama anak gadismu apa kabar, Jun?" tanya Rehan.


" Mereka baik, hanya saja aku masih belum bisa mengatakan semua kebenaran yang aku ketahui, Re. Rasanya sulit sekali ketika hendak berucap. Terlebih ibu kandungnya Ste masih mewanti-wanti aku supaya jangan berbicara apapun tentang masalah ini. Aku takut jika nantinya Ste malah salah paham padaku," jawab Juan jujur. Mengutarakan apa yang menjadi ganjalan di hatinya selama ini.


"Sebaiknya kamu bicarakan ini kembali pada Ste, Jun Takutnya dia malah dengar dari orang lain. Bukan apa-apa sih, kamu kan tahu bagaimana rapuhnya istrimu," balas Rehan.


"Kamu benar, Re. Aku akan coba membicarakan ini pada ibu kandung, Ste," jawab Juan serius. Sayangnya tanpa mereka sadari, Stella telah mendengar separo obrolan mereka. Wanita ini hanya bisa diam terpaku. Pikirannya langsung tertuju pada kata 'ibu kandung Ste!'. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? tanya Stella dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


Like n komen kalian semangatku😊😊


__ADS_2