PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
TUNGGU AKU


__ADS_3

"Aku tahu kamu juga mencintaiku Renata Aprilia dan aku tak akan melepaskanmu. Apapun yang terjadi!" bisik Rehan tepat di telinga gadis cantik berambut panjang ini. Membuatnya merinding. Membuatnya tak kuasa mengendalikan diri. Diam-diam Renata bahagia. Sebab, pria yang ia taksir, ternyata juga memiliki rasa yang sama dengannya.


"Aku nggak tahu harus gimana, Re. Kamu kan tahu jika calon istrimu adalah adikku," jawab Renata takut.


"Aku akan memikirkan cara agar pernikahan ini tidak akan terjadi, Ta. Asalkan kamu mau berjuang bersama!" pinta Rehan serius.


"Kita sudah terlambat Rehan. Kamu kan juga udah menyetujui perjodohan itu dan Isabela... Isabela juga menyukaimu. Aku nggak mau nyakitin dia, Re! Mengertilah!" balas Renata. Gadis ini kembali mengeluarkan air mata pertanda ia merasakan sakit yang teramat sangat di ulu hatinya. Rasa tak rela kini meremas jantung hatinya. Dilema juga sedang mencabik-cabik perasaannya.


"Aku tidak peduli. Aku mencintaimu, Ta. Bukan dia!" balas Rehan egois.


Kali ini bukan hanya Renata yang menangis, tetapi juga Rehan. Pada kenyataannya pria ini juga merasakan apa yang pemilik hatinya rasakan. Hatinya juga teremas kuat. Teriris perih. Entahlah, Rehan seperti sedang berperang dengan nasib cintanya.


"Kamu boleh tidak peduli, tapi aku tidak Re. Maafkan aku jika sudah menyerah sebelum kita memulai. Maafkan aku tak sanggup melawan keadaan ini. Tolong ikhlaskan semuanya, aku mohon!" pinta Renata lagi. Masih bertahan di dalam dekapan Rehan, sebab pada kenyataannya hatinya juga tak bisa melepaskan pria ini. Meskipun setengah mati ia berusaha. Rehan tetap saja, adalah pria yang dia inginkan.


"Terserah kamu, Ta. Yang penting mulai detik ini aku akan memperjuangkanmu. Memperjuangkan cinta kita. Lihat saja nanti, nama yang akan kuucapkan di ijab qobul itu adalah namamu. Yang akan aku ikat adalah kamu, bukan Isabela ataupun siapapun. Dan aku peringatkan sekali kali, jangan pernah melarikan diri lagi dariku. Karena jika itu sampai terjadi, maka selamanya kamu tidak akan pernah melihatku menikah. Kamu dengar itu Renata!" ancam Rehan. Tatapan tajam pun ia persembahkan untuk gadis hobi kabur ini.


Renata tak sanggup menjawab. Gadis ini diam, bergeming tanpa kata. Rasanya percuma melawan. Sebab ia tahu bagaimana Rehan.


Susana kembali hening. Renata hanya bisa menatap mata pria yang dia cintai ini. Berharap Rehan tidak sungguh-sungguh dalam ucapannya. Berharap Rehan tetap menerima perjodohan ini. Berharap Rehan tidak mengecewakan keluarga besarnya. Terlebih untuk Isabela. Renata tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai Rehan berani mematahkan hati gadis itu.

__ADS_1


"Pulanglah Re! Demi Tuhan, jangan lakukan itu!" pinta Renata lirih. Terdengat lembut dan dalam.


"Aku akan pulang, tapi berjanjilah ... jangan pergi lagi, Ta. Aku mohon! Aku rapuh tanpamu, Sayang!" ucap Rehan. Kembali pria ini mengeratkan pelukannya. Memeluk pemilik hatinya ini dengan cinta.


Begitupun dengan Renata. Gadis ini juga membalas pelukan itu. Membenamkan wajahnya di dada pria yang selama ini ia nantikan.


"Apakah kamu tahu, Ta. Aku sangat rindu padamu. Aku rindu senyumanmu. Aku rindu omelanmu. Aku rindu kepedulianmu padaku. Aku rindu perhatianmu. Aku rindu apapun yang ada di dirimu. Lalu setelah kita bertemu, kenapa aku harus menyerah? Tidak akan Ta, aku tidak selemah itu. Kamu milikku, begitupun denganku. Aku juga milikmi karena hati kita diam-diam telah saling mencintai. Dan itu artinya kita harus sama-sama berjuang untuk hati kita. Jangan larang aku untuk memperjuangkanmu, Ta. Aku mohon! " Pinta Rehan memohon.


Renata tak bisa berkata apapun. Berkali-kali ia telah mencegah, namun berkali-kali pula Rehan menolak larangan Renata. Akhirnya mau tak mau wanita ini pun pasrah. Ia hanya bisa berdoa bahwa Tuhan menunjukkan jalan terbaik untuk cinta mereka.


"Aku pulang ya, jaga diri baik-baik. Tetaplah di tempatmu. Tunggu aku menjembutmu. Aku mencintaimu Renata, sungguh!" ucap Rehan sebelum pergi.


Renata tersenyum dalam sedihnya. Gadis ini tak menyangka bahwa di dalam kesedihannya ternayat ada setitik kebahagiaan yang Tuhan kirim untuknya. Meskipun ia tahu bahwa kebahagiaan ini, mungkin juga akan menambah luka yang kini ia rasakan.


"Ya, dia memang rindu padaku. Aku tahu itu. Baiklah, aku balik dulu ya. Mana ponsel kamu?" Rehan melepaskan dekapannya, kemudian Renata pun mengambil ponsel miliknya.


Rehan meminta ponsel itu. Memasukkan nomer ponsel miliknya. Lalu, ia pun mengembalikan ponsel itu. Tak lupa sebelum pergi, Rehan juga meninggalkan sebuah kecupan penuh cinta di kening sangat kekasih. Sedangkan Renata telihat meresapi kecupan itu.


***

__ADS_1


Berbeda dengan pasangan Renata dan Rehan yang sepakat untuk memperjuangkan cinta mereka. Di sini ada pasangan Zein dan Vita yang sedang berdebat soal kamar hotel yang salah Vita reservasi.


Seingat Vita, ia sudah memesan dua kamar untuk mereka. Ternyata oleh pihak hotel hanya dicatat satu. Alhasil mau tidak mau untuk malam ini mereka terpaksa berbagi kamar.


"Aku nggak mau sekamar sama pria gila kek kamu, ini kan ekonomi class. Harusnya memang untukku!" ucap Vita kesal.


"Mana bisa begitu, kamu kan pekerjaku, bahwahanku. Siapa yang harusnya mengalah!" balas Zein tak mau kalah.


"Dasar pria nggak punya hati, aku kan cewek. Mana mungkin tidur depan pintu," Vita kembali mengencangkan urat lehernya. Tetap tak mau kalah dengan Zein.


"Bodo amat! Mau elu cewek apa cowok, yang namanya bos di mana-mana ma menang. Udah sana keluar. Dari pada aku apa-apa. Nggak takut kamu!" balas Zein. Seperti biasa, menggoda Vita. Membuat gadis ini marah di setiap kesempatan telah menjadi prioritas pria ini.


"Dasar! Kamu pikir aku takut sama kamu. Jika kamu bermain macam-macam denganku, lihat saja! Akan ku patahkan tulang-tulangmu!" Tangkas gadis ayu ini.


Bukannya kesal, Zein malah semakin suka menggoda Vita. Ia pun langsung merebahkan tubuhnya di ranjang kamar tersebut. Terang saja keisengannya ini semakin menyulut emosi gadis ini.


"Ya Tuhan, kenapa Engkau pertemukan dengan pria tak punya hati seperti dia?" gerutu Vita kesal. Ia pun segera merapikan barang-barangnya dan bersiap keluar dari kamar itu. Sedangkan Zein yang menyadari apa yang di lakukan Vita. Langsung beranjak dari pembaringan.


Berjalan menuju pintu. Tanpa kata pria ini pun kembali melancarkan keisengannya. Di kuncinya pintu kamar tersebut. Lalu menyembunyikan kunci itu di kantong celananya. Agar Vita tak bisa keluar dari kamar ini. Sebab jika itu terjadi, maka dia sendiri yang akan kerepotan. Zein hanya tak mau mengurusi sesuatu yang tidak penting seperti itu.

__ADS_1


Bersambung...


makasih atas like komen dan votenya🥰


__ADS_2