
Berada di antara dua hati memang sangat sulit. Diam, kita pun salah. Jika berani bertindak, konsekuensi yang harus dihadapi juga tak main-main. Akan ada banyak hati yang terluka ketika berani memilih.
Vita sadar bahwa, jika keinginan hatinya adalah sesuatu yang pasti, yang akan melukai hati-hati para wanita yang ada di dalam keluarganya.
Itu sebabnya, ia berjanji akan berusaha memantapkan pilihannya pada Luis. Pria yang mencintainya dengan segenap jiwa dan raga. Yang mau menerima kekurangan dan kelebihan yang ia miliki.
***
Siang itu, Zein datang ke rumah Stella untuk mengantarkan gaun yang harus Vita pakai untuk acara pertunangan yang akan dilaksanakan minggu depan.
Kebetulan yang membukakan pintu adalah Stella. Sebenarnya Stella ingin mengacuhkan kedatangan pria itu. Tetapi ia langsung teringat oleh nasehat sang suami, bahwa kita tidak boleh terus-terusan menghakimi seseorang hanya karena satu kesalahan.
"Ya, cari siapa?" tanya Stella pada Zein.
"Em, Vit... ta-nya ada?" tanya Zein sedikit terbata, sebab matanya menangkap seorang gadis mungkin yang sedang berlarian ke arah sofa.
"Kamu cari Vita atau cari siapa? Kenapa matanya ke arah putriku?" tanya Stella agak ketus.
"Ihhhh, dia menggemaskan sekali." Zein tersenyum sembari menyerahkan kotak berwarna merah marun pada Stella.
Kali ini ia tak peduli. Walaupun Stella akan mengusirnya, akan memukulnya, atau melaporkannya kepada polisi sekalipun Stella tak peduli.
Pria ini langsung duduk jongkok di depan Berliana, yang saat itu sedang bermain di ruang tamu.
"Eh eh apa lihat-lihat putriku. Siapa yang ngijinin kamu deket-deket sama dia?" tanya Stella sembari meletakkan kotak yang Zein berikan padanya.
"Cuma lihat doang, Ste. Ya Tuhan, pelit amat. Dia lucu, ihhh ... ih," ucap Zein gemas. Seakan lupa dengan tugas yang diberikan Luis untuknya. Zein semakin sibuk memerhatikan Berliana yang saat itu sedang memakan potongan buah apel.
"Lihat doang, awas pegang-pegang. Jauh cinta nanti sama putriku!" ucap Stella mewanti-wanti.
"Nggak Ste Nggak. Aku cuma lihat doang. Ternyata dia aslinya cantik sekali. Menggemaskan. Ehhhh, ngences. Lucu sekali. Dia ngences Ste, aaah." Zein tertawa lucu, sedangkan Stella hanya melirik kesal.
__ADS_1
"Udah sana, ngapain sih, ih. Kamu tadi di sini mau ngapain? Disuruh ngapain? Nanti dimarah bosmu loh!" ucap Stella berusaha mengalihkan perhatian Zein.
"Ste, boleh nggak aku fotoin dia. Satu aja!" pinta Zein memohon.
Tentu saja permintaan Zein membuat Stella tak suka. Ste hanya takut, Zein akan kembali berniat merebut Berliana darinya dan Juan.
"Enak aja, dia putriku. Nggak boleh!" jawab Stella ketus.
"Ya Tuhan pelitnya, janji nggak ku sebar. Ku simpan rapi-rapi. Boleh ya!" ucap Zein memohon.
Belum sempat Stella menjawab, Juan datang beruntung ia mendengar semua perdebatan antara sang istri dan sahabatnya itu sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman baru antara dirinya dan sang istri.
"Zein! Kapan datang," sapa Juan sembari meletakkan tas kerjanya.
Stella dan Zein pun menoleh ke arah suara.
"Eh Jun, belum lama. Baru beberapa menit yang lalu. Istri lu pelit bener. Aku minta foto putri lu aja nggak boleh. Dasar wanita pelit!" umpat Zein sedikit memusuhi Stella.
Sedangkan Juan hanya tertawa melihat tingkah ke kanak-kanakan mereka.
"Sudah-sudah. Mami jangan gitu lah, kasih lah omnya fotoin. Masak Mami masih dendam begitu. Nggak boleh lo, Mam. Apa lagi buat ibu hamil," rayu Juan sembari memeluk manja sang istri.
"Nanti dia ambil putri kita, Pi!" jawab Stella serius.
"Nggak akan! Atas dasar apa dia berani mengambil putri kita. Dia nggak ada hak Mam, baik secara hukum atau apapun itu. Udah Zein, foto aja. Kalo kamu mau peluk-peluk aja. Cium juga boleh. Yang penting bayar pajak!" jawab Juan dengan candaan seperti biasa. Juan paham jika Zein dan Berliana, secara batin memiliki hak untuk dekat dan mengenal satu sama lain. Juan tidak akan seegois itu untuk memisahkan mereka. Masalah Stella, Juan akan memberinya pengertian nanti.
"Papi!" bentak Stella pelan, bermaksud protes.
"Jangan egois, Mam. Ingat Berliana juga punya hak untuk tahu siapa ayah kandungnya. Aku ikhlas, Mam. Aku sudah memaafkan Zein. Zein juga manusia biasa Mam. Jangan terlalu keras padanya," jawab Juan lembut. Berharap sang istri mau berdamai dengan keadaan yang saat ini sedang mereka hadapi. Tidak menyimpan dendam berlarut-larut.
"Serius, Jun. Aku boleh gendong putri kamu?" tanya Zein memastikan.
__ADS_1
"Iya, peluk aja. Cium aja. Gendong juga boleh. Tapi itu tadi jangan lupa bayar pajak. Anak mahal itu," jawab Juan masih bertahan dengan candaannya.
"Ste, izin ya, Ste. Jangan marah!" balas Zein sedikit meledek.
Mendengar ledekan Zein, Stella ingin membalas. Namun, Juan dengan cepat memberikan pelukan dan kecupan di pipi. Agar sang istri tidak lagi kesal.
Setelah mendapatkan izin dari kedua orang tua Berliana. Zein pun memberanikan diri mendekati gadis cilik itu. Mengajaknya berkenalan. Lalu Zein mulai membuka suara dan mengajak bocah cantik itu bercengkrama.
"Nama adek canti siapa, boleh nggak kenalan?" tanya Zein pada Berliana yang saat itu masih sibuk dengan buah apel kesukaannya.
"Na..." jawab Bocah cantik ini.
"Wah, anakmu pinter, Jun. Gemes!" ucap Zein sembari terkekeh.
"Enak banget, itu apaan?" tanya Zein lagi sambil menunjuk buah apel yang ada di tangan mungil Berliana.
"Pen," jawabnya lugu.
"Apaan Jun, pen?" tanya Zein bingung.
"Apel, apen. Dia belum bisa bilang L." Juan terkekeh. Sedangkan Stella masih merajuk kesal.
"Oh iya iya, Om paham sekarang. Ih, menggemaskan. Pengen rasanya om gigit kamu," ucap Zein seraya mengelap air liur Berliana dengan tisu.
***
Canda dan tawa mereka terdengar oleh seorang wanita yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di kamar. Siapa lagi kalau bukan Vita.
Rasa penasaran gadis itu pun mengantarkannya untuk keluar kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat pria itu. Lagi-lagi dia. Lagi-lagi dia. Membuat Vita geram dengan pikirannya sendiri.
Bersambung....
__ADS_1