PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
TERLUKA LAGI


__ADS_3

Malam telah berganti pagi. Mentari pun telah menampakkan sinarnya. Dengan berani sinar itu menyingkap jubah malam dan mengantinya dengan terangnya dunia yang gagah dan penuh keberanian.


Sayangnya, keberanian mentari tak di miliki oleh Stella. Saat ini, wanita ini telah berdiri tegak di depan pintu kamar di mana sang suami berada. Namun, Stella ragu. Ia ragu untuk mengetuk pintu itu. Apa lagi masuk. Stella benar-benar pengecut. Wanita ini sungguh takut. Belum apa-apa dia sudah merinding.


"Ketuklah Ste, jangan takut. Juan memang begitu! Dia suka menyendiri jika terjadi sesuatu," ucap Salsa. Yang tak lain adalah dokter yang dulu merawatnya. Dia juga sepupu Juan.


"Aku takut, Sa! Dia pasti marah padaku," ucap Stella.


"Ini adalah konsekuensi yang harus kamu terima, Ste. Seharusnya kamu kasih tahu dia, jangan seperti ini! Aku bukan menyalahkanmu, tapi aku hanya menyarankan. Bagaimana cara bersikap pada Juan. Dia benci kebohongan Ste," ucap Salsa mengingatkan.


"Aku tidak berbohong, Sa. Hanya saja aku masih bingung mencari kata yang pas untuk menyampaikan ini pada Juan!" jawab Stella jujur.


"Iya, aku paham. Sekarang ketuk saja pintu itu. Dan masuklah. Juan membutuhkan seseorang yang bisa mengerti hatinya. Mengerti perasaannya. Dia butuh kamu, Ste," ucap Salsa lagi.


Stella menghela napas dalam-dalam. Menguatkan hatinya untuk menghadapi kemarahan sang pemilik hati. Mau bagaimanapun ia bersalah. Benar kata Salsa. Bahwa ia harus menerima konsekuensi atas apa yang ia lakukan.


"Pi! ini Mami. Buka pintunya dong!" pinta Stella sembari mengetuk pelan pintu kamar itu.


Dari dalam, terdengar suara langkah kaki. Membuat Stella semakin gugup.


Benar saja, sedetik kemudian pintu itu terbuka dan Juan ada di sana. Dengan wajah serius. Tanpa senyum. Tidak seperti biasa.


"Mami boleh masuk?" tanya Stella.


Juan tidak menjawab. Pria ini hanya membuka lebar pintu itu. Pertanda mempersilakan sang istri untuk masuk.


Stella tak ingin kemaraham Juan semakin memuncak. Dengan cintanya ia pun langsung melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Juan. Menatap mata pria itu dengan kesungguhan hatinya.

__ADS_1


"Maaf!" ucap Stella dengan kesungguhan hatinya.


Juan masih diam. Masih bersikap dingin.


"Maafkan Mami, Pi. Maaf! Mami pikir Papi malah udah tahu dan pura-pura nggak tahu. Maafkan Mami, Pi!" ucap Stella sembari menjatuhkan wajahnya ke dada bidang Juan. Rasanya, hanya tempat itu yang pas untuknya. Untuk menumpahkan segala rasa yang ada di hatinya saat ini.


"Aku nggak sejahat itu, Ste," ucap Juan pelan. Masih belum mau bersikap hangat. Masih kekeh dengan rasa lain yang ia rasakan di hatinya.


"Maafkan Mami, Pi. Sebenarnya Mami tahu juga belum lama." Stella masih setia memeluk Juan.


"Apakah kamu tahu apa yang aku rasakan, Ste? Aku merasa seperti pria bodoh yang nggak tahu apa-apa. Dibohongi oleh wanita-wanita yang ia cinta. Safira, lalu kamu. Terus aku mesti gimana? Haruskah aku tetap mencintai kalian? Yang sama sekali tidak mencintaiku. Tidak menghargaiku," ucap Juan pelan. Dia memang tidak mengatakan itu semua dengan ekpresi marah. Namun, Stella tahu jika itu adalah ekpresi sakit hati yang Juan rasakan.


"Aku tidak bohong, Jun. Aku mencintaimu!" jawab Stella tegas.


"Mencintai tidak mempermainkan hati, Ste!" jawab Juan tak kalah kekeh.


"Tak akan terjadi apapun pada kalian, Ste. Kalian adalah tanggung jawabku. Aku bukan pria yang mudah menghianati. Aku bukan pria yang mudah mengingkari. Hanya saja, untuk kali ini kamu keterlaluan!" ucap Juan, kali ini pria ini malas berada di pelukan sang istri. Ia memilih melepaskan diri dari pelukan wanita cantik itu yang ia nikahi hampir dua tahun itu.


"Jun, aku mohon! Jangan perlakukan aku seperti ini!" pinta Stella dengan isak tangisnya.


"Terus aku harus gimana, Ste? Kamu pasti tahu betapa aku juga sakit. Aku pikir tak pernah ada rahasia di antara kita. Lalu kamu apa?" tanya Juan seolah mempertanyakan janji mereka untuk selalu terbuka.


"Sudah kubilang kan, bukan aku nggak mau berterus terang sama kamu, Jun. Tetapi aku pikir kamu sudah tahu dan menyembunyikan ini dariku. Aku pikir..." Melihat Juan menatapnya tajam, membuat Stella tak berani melanjutkan ucapannya.


"Maaf, Jun!" tambah wanita ayu ini.


"Itu artinya kamu nggak percaya padaku, Ste. Itu artinya kamu meragukan ketulusanku, kejujuranku. Aku bukan pemain yang curang, Ste. Aku tahu batasan," ucap Juan kembali menyuarakan isi hatinya.

__ADS_1


"Aku tahu itu, Jun. Itu sebabnya aku minta maaf," jawab Stella.


Kali ini wanita ini kembali memberanikan diri memeluk tubuh pria tampan ini. Sungguh, Stella tak ingin kehilangan Juan. Baginya Juan adalah hatinya, cintanya dan tak ingin ditukar oleh apa pun dan siapa pun.


Juan pun tak menolak. Ia membiarkan wanita yang ia nikahi ini memeluknya. Menumpahkan tangisnya di dada bidang miliknya. Meskipun ekpresinya masih sangat-sangat dingin. Ya, Juan memang dingin jika terjadi sesuatu pada hatinya.


"Pergilah, Ste! Tolong izinkan aku sendiri!" pinta Juan tiba-tiba.


"Nggak, Jun. Kamu boleh marah padaku. Tapi jangan suruh aku pergi. Kamu tahu aku nggak bisa tanpamu," jawab Stella yakin.


"Aku mohon, Ste. Pulanglah! Jangan menungguku marah." Juan memaksa Stella melepaskan pelukannya.


"Juan! Aku mohon!" pinta Stella memohon.


"Pergilah! Pulanglah! Kamu nggak usah sekhawatir itu. Aku bisa jaga diriku. Aku bukan anak kecil yang tidak bisa perpikir. Aku mohon, menjauhlag dariku. Aku nggak mau menyakitimu!" ucap Juan. Pria ini juga terus memohon. Agar jangan sampai ia mengeluarkan amarahnya. Sebab Juan memang sedang dalam emosi yang tidak stabil.


Sayangnya Stella masih belum bisa memahami Juan. Tak mengerti bagaimana pria ini jika marah. Juan kembali memperlihatkan emosinya.


"Sudah kubilang, pergi ya pergi. Pergi Stella!" ucap Juan sedikit tinggi. Membuat Stella terkejut takut. Namun masih bergeming di tempat. Sepertinya Juan lupa, jika Stella tak bisa mendengar suara keras.


"Stella, jangan menungguku menyakitimu. Pergi atau kamu akan melihat sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan!" ancam Juan penuh amarah. Juan juga menunjukkan jarinya tepat di depan mata Stella. Membuat wanita ini takut seketika.


Kali ini Stella tak bisa berbuat apa-apa selain pergi meninggalkan kamar ini. Rasa takut akan kemarahan Juan ternyata sanggup membuat pria ini kembali shock. Membuat Salsa dan Rehan yang ada di depan pintu kamar itu ikutan merinding.


"Ste! Bagaimana?" tanya Salsa.


Stella hanya menggeleng. Sebab ia sendiri juga tak bisa menjabarkan situasi yang ia alami saat ini. Stella tidak tahu apakah dia benar atau salah. Yang jelas ia ketakutan dengan amarah Juan yang tak pernah ia duga itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2