PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Kenapa Harus Selalu Terhubung Dengannya?


__ADS_3

Hati ... jangan rapuh


Hati ... jangan menangis


Hati ... jangan biarkan dirimu terpuruk dalam labirin cinta yang semu


Hati ... tersenyumlah


Hati ... mengertilah


Dia bukan untukmu. Jangan paksa dirimu menunggunya.


Marilah pulang...


Ada seseorang yang kini menunggumu dengan cintanya.


Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam jurang penantian yang semu.


Lupakan tentangnya yang tak mampu kau genggem.


Hapus dia yang tak ditakdirkan untukmu.


Ayo, mari melangkah hati, jangan menunggu dia yang tak pasti.


Vita menghentikan tarian penanya. Karena terdengar seseorang mengetuk pintu. Dengan cepat Vita pun menutup bukunya dan membukakan pintu untuk seseorang yang mengetuk pintu tersebu


"Ya," sambut Vita pada sang pengetuk pintu. Yang tak lain adalah Stella. Kakak kandungnya.


"Ini ponselmu ketinggalan di mobil," ucap Stella santai.

__ADS_1


"Oh, terima kasih!" jawab Vita sembari mengambil ponsel itu dari tangan sang kakak.


"Sama-sama. Boleh kakak masuk!" pinta Stella pada sang adik.


Vita tak mungkin menolak, meskipun jika boleh jujur, hatinya masih terluka oleh ucapan dan anggapan Stella yang menyakitkan itu.


"Kakak mau minta maaf soal tadi!" ucap Stella sembari duduk di ranjang sang adik. Sedangkan Vita kembali ke meja kecil biasa ia menghabiskan waktunya untuk menulis dan nonton drama kesukaanya.


"Vita udah maafkan, Kak. Tenang aja," jawab Vita lemas.


"Maaf jika Kakak tadi agak keras. Jujur kakak shock dengan kenyataan yang ada. Untung tadi abangmu ngingetin Kakak. Maaf ya Vit. Sunggu Kakak minta maaf," ucap Stella lagi.


Vita hanya menunduk, sebab ia tak tahu bagaimana menjelaskan cinta dan luka yang kini telah mengorek perih di dalam hatinya.


"Sudahlah, Kak. Jangan dibahas lagi. Toh aku sama abang juga nggak melakukan apapun. Tak ada pembicaraan apapun antara kami perihal hati. Jadi Kakak nggak usah khawatir. Abang juga nggak tahu kok, kalo Vita suka sama dia. Dan .... ya udah. Percayalah, cinta itu pasti akan luntur. Kan bentar lagi Vita juga mau nikah. Besok tunangan. Ya kan!" jawab Vita santai.


Sepeninggal Stella, Vita kembali melanjutkan kegiatan yang ia suka. Yaitu meluapkan perasaan lewat tulisan. Lewat bait-bait puisi, lumayan, kegiatan seperti itu biasanya bisa sedikit melonggarkan isi kepalanya.


Sayangnya, dalam bait berikutnya, hati Vita kembali tersentuh. Ingatannya langsung tertuju pada ponselnya. Ia pun segera membuka aplikasi di ponselnya. Mengecek satu persatu apa yang ada di dalam ponsel tersebut. Takutnya, Zein melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan.


Vita tersenyum karena tak ada yang mencurigakan. Semua baik-baik saja. Tidak seperti apa yang membuatnya curiga.


Untuk meredakan kegelisahan dalam hatinya. Vita kembali meraih penanya. Menuangkan kembali apa yang saat ini sedang membelenggu pikiranya.


Namun, ketika di titik tertentu, hatinya kembali menangis. Mengingat betapa kejamnya dunia, karena telah menghadirkan cinta yang tak mampu ia miliki. Vita kesal. Ia pun melempar pena yang sejak tadi ada di dalam genggaman tangannya. Agar berhenti menulis barisan-barisan kata yang semakin membuatnya masuk ke dalam duka. Air mata sebagai wujud ungkapan perasaanya itu kini kembali meluncur deras.


Awalnya ia ingin menasehati hatinya sendiri yang kini telah terpuruk karena cinta. Awalanya Vita ingin mengurai pikiran yang semrawut oleh hujatan yang sang kakak lontarkan.


Namun, semakin ia berusaha, semakin sakit rasanya. Akhirnya Vita pun menghubungi Luis agar pria itu mau mendengar keinginannya.

__ADS_1


"Kapan kamu datang?" tanya Vita lembut.


"Udah kangen ya!" canda Luis.


"Hemmm!" Vita mengelap air matanya.


"Ikut asistenku saja ke sini. Malam ini dia terbang ke Jakarta." usul Luis.


Astaga, kenapa harus dia? Kenapa dia lagi dia lagi. Tak ada yang lain kah? Batin Vita mulai kesal.


Niatnya menghubungi sang kekasih adalah agar hatinya terhibur. Agar hatinya mau berhenti menanyakan pria itu. Lalu sekarang apa, sang kekasih sendiri juga menyebut nama pria itu. Lama-lama Vita bisa gila jika begini.


"Kok diam, Honey? Kenapa? Jadi nggak ikut Zein ke sini. Aku minta dia pesan ***** sekalian ya. Mau?" tanya Luis lagi.


"Nggak mau, nanti kamu nakal," jawab Vita manja.


"Nakal apa? Aku kan pria yang baik," jawab Luis dengan tawa renyahnya.


"Heemmm, nggak ah. Ntar Kakakku marah kalo belum apa-apa kita sering ketemu. Oiya, ngomong-ngomong makasih gaunnya. Cantik! Aku suka!" ucap Vita bahagia.


"Sama-sama, sebenarnya itu yang pilih Zein. Kamu suka? Berarti seleramu dengannya sama. Kalian memang aneh. Aku pilihin yang sedikit seksi, kata Zein, kurang anggun! Eh, coba pilihan dia yang tertutup begitu, kamu malah suka. Sepertinya aku harus belajar banyak dari Zein buat ngadepin cewek, " ucap Luis sembari terkekeh.


Vita diam, diam seribu bahasa. Hatinya kembali beku. Pikirannya seperti teremas kaku. Sungguh, apakah ini harus dikatakan kebetulan. Atau?


Sudah Tuhan, aku menyerah! jerit Vita dalam hati. Kembali ia menangis dalam diam. Otaknya serasa mau meledak sekarang. Agar Luis tak menyadari tanggisnya, Vita pun mengigit jari-jarinya.


Kenyataan yang tertulis dalam hal-hal kecil yang mengisi waktunya, nyatanya tak luput dari pria itu. Vita harus bagaimana? Haruskah dia memaki Zein, agar segera pergi dari kehidupannya. Sekarang juga kalau perlu. Vita geram.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2