PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
KABAR BURUK


__ADS_3

Apa yang di katakan Juan tentu saja membuat Safira marah. Dengan tegas wanita ini pun menolak apa yang Juan katakan. Ia masih kekeh dan yakin jika Juan masih memiliki rasa padanya.


"Kamu bohong, Jun. Aku yakin kamu masih cinta sama aku." Safira kembali mengeluarkan air matanya.


"Untuk apa aku berbohong? Kamu jauh mengenalku, Ra. Apa aku pernah menipumu? Katakan! Apa aku pernah bertingkah demikian. Justru kamu dan keluargamu yang menyakitiku." Juan menghentikan ucapannya. Ingin rasanya ia mengeluarkan semua sesal yang menderanya. Ingin rasanya, ia mengungkapkan semua sumpah serapah keluarga Safira untuknya dulu.


Namun, sekali lagi, bagi Juan itu tidak berguna. Baginya yang terpenting saat ini hanyalah menemukan Stella. Menemukan Berliana. Dua wanita yang ia rindukan saat ini.


"Kamu salah paham, Jun. Mereka hanya ingin melindungiku," jawab Safira, berusah membela kedua orang tuanya.


"Ingin melindungimu dari siapa? Dari aku?" tangkas Juan. Terlihat pria ini tersenyum meremehkan.


"Bukan Jun, mereka melindungiku dari pap tiriku," jawab Safira. Suaranya terdengar melemah.


"Drama apa lagi ini ha? Aku tidak peduli mereka hendak melindungimu dari siapa. Nyatanya mereka tidak percaya padaku, Ra. Jadi untuk apa kita bertahan. Untuk apa kita paksakan hubungan tidak sehat itu. Aku sudah terima hinaan mereka, aku kehilangan bayiku. Itu karena siapa? karena mereka Ra, mereka!" Juan mulai tak bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


Safira diam. Ingin dia menjelaskan apa yang terjadi lebih detail. Tetapi, sepertinya Juan tidak menginginkan ini.


"Jun, maafkan orang tuaku. Mereka hanya ingin melindungiku. Sungguh!" Safira mulai kehabisan kata untuk menghadapi Juan.


"Sudahlah, Ra. Jangan memperkeruh suasana. Kita sudah memilih jalan masing-masing. Bagiku, kamu dan segala kenangan tentang kita telah mati. Bersama kabar yang diberikan oleh orang tuamu. Maafkan aku, aku rasa ini hanya akal-akalan mereka, kalo alasanya adalah untuk melindungimu dari siapa tadi, maaf aku tidak percaya. Kalo pun benar, masak selama ini, baru mereka mengizinkanmu kembali. Memangnya sebesar apa masalahnya sampai kamu kembali. Sepertinya nggak logis," ucap Juan lagi.


Tentu saja ucapan Juan kali ini sukses membuat Safira menangis kesal. Tanpa izin wanita ini pun memaksa memeluk dan mencium Juan. Ia hanya ingin membuktikan pada Juan bahwa dia sangat mencintai pria itu.


"Apa-apa sih, Ra?" tolak Juan sembari mendorong kasar wanita itu.


"Cinta tidak seperti ini, Ra." Juan mulai kesal ia pun menarik tangan Safira dan memaksa wanita itu keluar apartemennya.


"Nggak Juan, Nggak, aku nggak mau keluar!" ucap Safira memohon. Sayangnya Juan tidak mau mendengarkan permohonannya. Pria itu tetap kekeh mengusirnya dari tempatnya berada. Membuat Safira marah dan mengecam pria itu.


***

__ADS_1


Merasa kasihan dengan sang putri, Sera pun berinisiatif menemui Juan. Tentu saja, ia ingin memastikan apa yang sebenarnya pria itu inginkan dari putrinya. Kebersamaan atau perpisahan.


Sebenarnya, jika boleh jujur, Sera menyayangkan keputusan Stella meninggalkan Juan. Apa lagi keputusannya itu bermaksud agar Juan memilih, antara dirinya atau wanita lain.


Apapun alasannya, bagi Sera tetap tidak etis jika seorang istri meninggalkan sang suami dan merelakannya untuk wanita lain. Harusnya, sebagai seorang istri, Apapun yang terjadi harus tetap mendampingi. Terlebih saat ini sang suami sedang dalam keadaan labil. Alangkaaaaaaaaah baiknya menunggu sedikit lagi. Jangan langsung memutuskan untuk pergi seperti ini. Kecuali, jika keputusan sudah finis. Maka tak ada lagi keraguan yang menganggu. Sebab semuanya sudah jelas.


Beruntung, saat ini Sera berada di Jakarta. Semalam ia tiba, karena rencananya hari ini dia juga harus terbang Bangkok untuk bertemu dengan klient bisnisnya.


Sayangnya, ketika turun dari mobil ponsel Sera berdering. Salah satu orang kepercayaannya menghubunginya. Yang mengabarkan bahwa Stella kecelakaan.


Putrinya itu mengalami kecelakaan mobil. Mau tak mau Sera pun mengurungkan niatnya untuk menemui Juan.


Wanita ini pun putar haluan dan memilih meminta asisten pribadinya untuk memesan tiket ke Belanda. Tak mungkin bagi Sera membiarkan sang putri menghadapi masa sulitnya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2