
Zein memeluk mesra sang istri, masih membiarkan wanita cantik yang ia cintai ini melepaskan rasa lelah dia rasakan. Zein juga tahu jika sang istri pasti merasakan sakit ketika ia tadi memaksa masuk ke dalam tempat rahasia wanita itu.
Beberapa kali Zein terlihat tersenyum senang. Sebab rasa indah yang diberikan oleh sang istri, menurutnya sangat luar biasa.
"Nanti malam sambung ya," pinta Zein sembari berbisik manja di telinga sang istri.
"Masih perih," jawab Zi, terdengar manja di telinga Zein dan Zein menyukai bisikan itu.
Zein tersenyum senang sembari mengelus lembut rambut wanita cantik yang saat ia sayangi ini.
"Mas!"
"Ya!"
"Mas udah kasih yang nafkah belum buat putri, Mas?" tanya Zizi, Tiba-tiba teringat jika sang suami punya tanggung jawab selain dirinya.
"Mas tidak diizinkan ikut campur dalam urusan membesarkannya. Tapi Mas udah menyisihkan rezeki untuk putri, Mas, itu. Nanti kalo dia udah dewasa, baru Mas, kasih ke dia langsung," jawab Zein jujur.
Zi jadi penasaran, sebesar apakah kesalahan sang suami, sehingga sang mantan istri tidak mengizinkannya bertemu dengan putri mereka.
"Apakah Mas marah kalo seandainya aku pengen tahu, alasan, mengapa mbak mantan dan suaminya tidak ngizinin, Mas, untuk ketemu putri, Mas?" tanya Zi pelan, karena ia tahu bahwa Zein bukanlah orang yang mudah terbuka.
Zein terlihat merapikan selimutnya. Mungkin itu juga cara dia bebenah pada hatinya. Mempersiapkan diri untuk terbuka pada sang istri. Zein pasrah, apapun keputusan Zi pada hubungan mereka, yang penting... sesuai dengan perjanjian mereka, bahwa tidak boleh ada rahasia di antara mereka.
"Mereka tidak salah dan aku juga tidak mau menyalahkan. Karena di sini yang salah aku. Yang biadab aku. Mereka memaafkan perbuatan bodohku juga itu sudah syukur." Zein menatap nanar ke arah langit-langit kamarnya. Lalu, ia pun kembali melanjutkan ucapannya. Sedangkan Zi tetap dengan setia menunggu apa yang hendak suaminya ucapkan.
"Aku melakukan kesalahan yang teramat sangat fatal." Zein menghentikan ucapannya. Menghirup napas dalam-dalam. Lalu mengembuskankannya lagi. Dan ia melakukan itu berkali-kali.
Zi yang tahu betapa sesaknya rasa yang dirasakan oleh sang suami, tentu saja ia tak mau memaksa.
"Kalo belum siap cerita sekarang, kapan-kapan aja. Aku siap menunggu. Sudah jangan dipaksakan," ucap Zi, berusaha membuat tenang hati yang suami. Yang saat ini sedang bergemuruh tak karuan.
__ADS_1
"Tidak istriku, kamu harus tahu kebodohanku. Agar kedepannya kamu bisa mengingatkan aku, setidaknya kamu bisa mengendalikan aku. Aku suka sekali susah mengontrol emosiku. Terkadang aku suka mengikuti sesuatu yang kurang masuk akal," jawab Zein jujur. Sebab itulah yang sering ia rasakan dalam dirinya.
Zi mengelus lembut dada sang suami. Agar sang suami bisa mengerti, bahwa dia sudah siap dengan segala resiko dari sifat Zein yang kadang memang tidak masuk di akal.
Sesuai dengan apa yang dia janjikan, Zein pun menceritakan detail, kenapa, mengapa dan bagaimana dia bisa berpisah dengan sang mantan istri.
Dari sana, tampak jelas, bahwa Zein bukan pria yang tidak bertanggung jawab. Hanya saja kesalahan yang ia lakukan teramat sangat fatal. Sehingga tidak mungkin seorang wanita yang diragukan mau kembali lagi.
Zi juga tidak menyalahkan mengapa pihak mantan tidak menginginkan tanggung jawab Zein. Karena mereka menganggap Zein telah membuang bayi itu. Padahal jika ditelusuri lagi, Zein bukan membuang. Tetapi lebih tidak tahu bahwa ia telah menjadi seorang ayah.
"Yang penting sekarang, Mas, kan udah niat. Jadi nggak apa-apa. Semoga kedepannya Mas bisa jadi pribadi yang lebih baik. Agar nggak kehilangan lagi." Zi mengelus pipi sang suami, lalu menciumnya manja. Agar sang suami paham. Bahwa dia sangat mencintai dan ingin rumah tangga ini langgeng sampai kakek nenek. Sampai ajal memisahkan.
"Makasih atas pengertianmu, Sayang. Aku sangat beruntung memiliki iostri sebaik kamu. Kamu begitu pengertian dan tidak menghakimi aku."Zein kembali memeluk erat sang istri. Dan sungguh, ketika ia memeluk wanita itu, dalam hati pria tampan ini sama sekali tidak ingin jika Zi sampai meninggalkannya.
***
Keesokan harinya...
Zein keluar kamar dengan pakaian yang bisa dibilang tidak seperti biasa.
Kali ini lebih santai namun terlihat modis dan mewah. Sepertinya jiwa modis pria tampan ini sudah kembali. Ia tak lagi memakai kaos oblong dan celana kolor jika di rumah.
"Wiisss, pengantin baru ni ... gimana, Bang. Udah gool belum?" canda Lutfi seperti biasa jika bertemu dengan Zein.
"Dasar gila!" umpat Zien kesal.
"Dih, gila gimana? Surga dunia, Bang, masak gila," balas Lutfi masih semangat menggoda sang kakak ipar.
"Udah jangan banyak ngedongeng lu, coba mana laporan hasil kerja elu. Adek gue udah lu kasih nafkah batin belum?" balas Zein, asal. Padahal awalnya dia marah, serius, lalu di akhir dia malah becanda, tentu saja suasana yang awalnya tegang menjadi penuh canda dan tawa.
"Kalo itu, asal ada kesempatan langsung cuskan, Bang," jawab Lutfi dengan candaan yang mungkin bisa bikin telinga panas jika sampai Safira mendengarnya.
__ADS_1
"Dasar gila!" Zein terkekeh sembari memukul paha sang adik ipar dengan map yang kini sedang ia pegang.
Zein membuka map sekaligus mensingkronkan hasil kerja sang adik ipar dengan email yang sudah ia terima beberapa hari yang lalu. Masih fokus dengan pekerjaan tersebut, tiba-tiba Lutfi teringat dengan kondisi suami Vita.
Tak punya maksud apapun, Lutfi pun dengan santai menyampaikan kabar tak bahagia itu pada Zein. Lutfi pikir, saat ini Zein sudah move on. Karena telah memiliki orang lain dalam hidupnya.
"Bang! Masih inget nggak sama sahabat Safira yang itu?" pancing Lutfi.
"Sahabat Safira yang mana?" Zein melirik sekilas pada adik iparnya.
"Itu loh, yang mantan bebeb," jawab Lutfi, sedikit bercanda. Agar tidak tegang.
Zein kembali menatap Lutfi, heran. "Siapa sih, Ste?" tebak Zein.
"Bukan, adiknya!" jawab Lutfi spontan.
"Ohhhh," jawab Zein singkat, bukan apa. Ia hanya tidak ingin membahas wanita itu. Karena baginya, Vita dan dirinya sudah memiliki kehidupan masing-masing. Jadi tidak perlu lagi saling bersabar ataupun saling dikaitkan.
"Kok oh doang, Bang? Nggak pengen denger kabarnya? Kita kemarin habis dari Singapur lo, Bang." Lutfi menatap sang kakak ipar. Namun, dari sana, Lutfi bisa menangkap ketidaknyamanan Zein mendengar nama itu. Wajahnya seketika berubah masam.
"Ya buat apa aku tahu. Aneh kamu," jawab Zein, terdengar pedas. Namun Lutfi yakin kalau Zein pasti penasaran dengan kabar wanita yang mungkin masih tersimpan rapi di sudut hati Zein yang terdalam.
"Ya nggak sih, kan saya tahu kalo suaminya mbak yang itu mantan bosnya, Abang. Aku sih cuma menyarankan, alangkah baiknya kalo Abang jenguk beliau di Singapura. Berliau sekarang kritis, Bang!" jawab Lutfi, sesuai dengan kenyataan yang ada saat ini.
Zein diam, walaupun jujur ia amat sangat terkejut dengan kabar itu. Zein tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan adik ipar akan membahas perihal wanita itu. Wanita yang dengan susah payah ia lupakan.
Tak dipungkiri bahwa mendengar kabar menyedihkan itu, ada desiran aneh yang mengalir dalam hati pria tampan ini. Entah desiran apa itu. Yang jelas saat ini Zein di kepung dilema. Antara ingin pergi menjenguk mantan bosnya itu. Atau berdiam diri pura-pura tak tahu.
Sekali lagi, Zein sangat kesulitan memilih. Baginya, Luis sudah seperti saudaranya sendiri. Tapi istrinya, wanita itu adalah wanita yang telah mengubah seluruh hidupnya. Pernah mematahkan hatinya. Pernah membuatnya terluka.
Entah Zein sadari atau tidak, ternyata Vita masih memiliki tempat istimewa di dalam hatinya. Buktinya saat ini, hatinya bergejolak hebat. Keinginan antara pergi dan tidak berperang dalam hatinya. Zein resah. Zein gelisah. Zein gamang. Rasanya ia makin bingung dengan rasa hati yang saat ini ia rasakan.
__ADS_1
Bersambung...