PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Mengertilah


__ADS_3

Tak ada yang tercipta di dunia ini dengan sia-sia. Apa lagi itu menyangkut rasa.


Zein ... seorang pria yang pernah melakukan kesalahan terfatal dalam hidupnya, kini banyak menerima hujatan. Sekalipun ia telah melakukan banyak kebaikan. Sekalipun ia telah banyak mengubah cara pandangannya.


Menerima kehilangan, mengikhlaskan kepergian, bahkan sesuatu yang seharusnya menjadi haknya pun terpaksa ia relakan. Demi menebus kesalahan yang pernah ia lakukan.


Menyesal, sudah pasti. Itu sebabnya, Zein tak ingin melakukan kesalahan yang sama. Seperti saat ini, ia pun memilih pergi jauh dari cinta keduanya. Karena rasa yang datang untuk kedua kalinya itu, bisa saja menyakiti banyak pihak. Termasuk sang mantan istri. Keluarga mereka. Mungkin perihal cinta ini juga bisa saja menyakiti putrinya kelak.


Bukan Zein tidak mau memperjuangkan cinta itu. Namun, sekali lagi, gadis yang ia cintai kali ini, bukanlah gadis yang bebas tanpa ikatan. Gadis itu juga telah memiliki ikatan dengan seseorang. Yang tak lain adalah mantan bosnya dan juga sahabatnya. Zein mana mungkin berani melangkah sejauh itu. Pendiriannya tetap sama, tidak ingin menyakiti hati orang-orang yang dekat dengannya. Tak ingin membuat mereka kecewa dengan keegoisannya.


Zein, pria tampan yang kecewa untuk kesekian kalinya karena cinta, memutuskan untuk menutup rapat hatinya. Ia tak ingin kembali terusik tentang rasa yang sebenarnya indah itu. Bukan tidak percaya, hanya saja, menurut pengalamannya rasa cinta itu malah menghadirkan rasa getir di dalam kehidupannya. Lagi-lagi ia harus menelan pil pahit karena mencintai. Lagi-lagi ia harus kecewa karena rasa cinta itu.


Zein tersentak dalam lamunan ketika ia menerima sebuah pesan singkat yang memberinya ucapan selamat ulang tahun. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sahabat yang telah lama menghilang darinya, kini mengiriminya pesan. Sebuah ucapan selamat ulang tahun dan doa terbaik untuk nya.


Pria tampan ini tersenyum bahagia. Ternyata, teman lamanya itu masih ingat kepadanya. Ia pun segera melakukan panggilan telpon untuk sekedar berucap terima kasih.


"Hallo, Brother... buset, yang udah sukses, lupa ama mantan asisten," canda Rehan ketika menerima panggilan telpon darinya.


"Ah, t*i lah lu... mentang-mentang gue udah nggak jadi bosnya. Lalu dilupakan. Diacuhkan. Kapan kawin?" balas Zein dengan candaan seperti biasa.


"Kawin ma udah sering, nikahnya yang belum. Hahahahha.... canda, Brother!" Rehan terkekeh.

__ADS_1


"Dasar gila! Kapan nikah? Serius ni!" tanya Zein lagi.


"Insya Allah bulan depan. Do'ain ya, dateng jangan lupa. Sekalian amplopnya yang tebel. Lagi butuh asupan dana ni!" canda Rehan lagi. Rasanya bisa kembali bersua dengan sahabatnya ini, sungguh membuat Rehan sangat bahagia.


"Iya, gampang soal itu. Nanti kabari aja, Insya Allah gue pasti dateng." Zein diam sejenak.


Rehan yang hafal dengan sifat Zein, langsung tahu bahwa pria yang saat ini sedang bercengkrama dengannya pasti sedang diliputi rasa sedih.


"Lagi ada masalah, Bro?" tanya Rehan langsung tanpa basa-basi.


"Nggak ada, Re. Aku baik-baik saja!" jawab Zein.


Sayangnya, Rehan bukanlah pria yang mudah ditipu. Rehan yakin jika saat ini Zein pasti sedang terbenam ke dalam kesedihan. Entah apa masalahnya, tapi Rehan yakin, jika sahabatnya ini pasti sedang diselimuti rasa itu.


Zein yang mendapat pertanyaan yang seakan mengintimidasinya, tentu saja langsung mengelak.


"Apa sih, Re? Emang apa hubunganku dengan mereka!" Zein berusaha mengelak.


Rehan tersenyum, lalu ia pun kembali mengeluarkan pancingannya. "Aku tahu kamu telah jatuh cinta pada Vita, Zein. Aku juga tahu alasanmu menyerah dengan cintamu. Jangan pikir aku nggak tahu apa-apa! Memangnya siapa yang menjagamu ketika kamu tidur panjang, ha? Aku dan Juan. Kami berdua tahu hampir setiap hari kamu mengigau. Menyebut nama Vita. Meminta mantan adik ipar itu untuk tidak meninggalkanmu. Mau, aku kirim videonya!" Kali ini, Rehan tidak mau kalah dengan sanggahan sanggahan Zein yang menurutnya tidak masuk akal itu.


"Kamu jangan macam-macam, Re!" ancam Zein kesal.

__ADS_1


"Aku dan Juan menunggumu berani mengakui isi hatimu, Zein. Tapi nyatanya kamu adalah pria pengecut yang berani menyakiti. Berani mencintai. Berani memberikan luka. Tapi tak berani mengobati. Kamu memang pecundang, Zein. Pecundang! Tahu nggak!" balas Rehan geram.


Entah mengapa, Rehan, sebagai sahabat tidak bisa terima begitu saja jika Zein terus berasa di dalam kubangan duka.


"Lebih baik kamu diam, Re. Kamu nggak tahu apa-apa soal aku!" Pinta Zein tegas.


Rehan malah tertawa. Sebab menurutnya, Zein sangatlah bodoh jika ingin berbohong dan menutupi apa yang ia rasakan kepadanya.


"Zein ... Zein ... sampai kapan kamu akan jadi manusia tukang ngalah ha? Kamu lihat, pria yang kamu hormati yang kamu anggap sebagai ayah, dengan tega menjerumuskanmu ke dalam neraka. Lalu ibumu, wanita itu sama sekali tidak menyayangimu. Soal Stella, oke, aku nggak akan bahas, karena itu salahmu. Apa lagi Berliana, kamu memang tidak berhak. Tapi soal Vita, ini lain Zein. Harusnya kamu juga paham. Harusnya kamu bisa peka. Bahwa gadis itu juga menyayangimu. Kamu memang pecundang, Zein. Aku nggak habis pikir sama kamu!" ucap Rehan mulai kesal.


"Sudah kubilang bahwa kamu nggak tahu apa-apa soal cintaku ke Vita. Cinta kami dewasa, Re. Kami bukan remaja yang tak bisa berpikir baik buruknya tentang rasa yang kami miliki. Aku telah menyakiti kakaknya. Menghancurkan kakaknya. Mana mungkin aku boleh menyentuhnya, Re. Katakan, apakah aku masih memiliki hak untuk mengejar cintaku. Sedangkan keluarganya pernah hancur karenaku?" Zein tak kalah kesal.


Rehan menghela napas dalam-dalam. Berusaha melepaskan kekecewaan yang ia rasakan terhadap sang sahabat.


"Jika kamu begini terus, kapan kamu akan bahagia, Zein. Kapan kamu berani memulai kehidupanmu lagi. Cinta itu indah Zein. Tolong, jangan menghindarinya!" pinta Rehan, memohon.


"Kamu nggak usah mengkhawatirkan aku perihal hati, Re. Aku tahu maksudmu baik. Tapi tolong, jangan pancing aku untuk melakukan hal gila. Setengah mati aku berusaha melupakan cintaku pada gadis itu. Tolong, jangan bangunkan lagi. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Bukankah kamu juga tahu, bahwa tahap mencintai paling tinggi adalah merelakan. Saat ini aku sedang berjuang untuk itu, Re. Tolong mengertilah," jawab Zein tegas.


Sungguh, Zein tidak ingin jiwa pejuangnya akan cinta tumbuh lagi. Yang nantinya jiwa itu malah akan mendatangkan kesengsaraan bagi keluarga gadis yang ia cintai. Sebab ia pernah meninggalkan luka. Sebab ia pernah menorehkan derita.


Bagi Zein cukup. Cukup dia yang saat ini berada di dalam lubang nestapa. Zein hanya yakin jika matahari akan hadir ketika gelap telah usai.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2