
Stella diam sejenak, lalu ia memutuskan keluar rumah. Berdiam diri halaman rumahnya. Menikmati dinginnya malam, siapa tahu dingin ini bisa meredam panas yang bersarang di dalam otaknya. Stella menatap langit yang sedikit mendung. Tak ada satupun bintang yang terlihat. Wanita ini menghela napas dalam-dalam.
Mengingat kembali perjuangan Juan membangkitkan semangatnya untuk memulai hidup baru. Mengingat kembali bagaimana Juan menjaga dirinya selama ini. Mengingat betapa Juan sangat mencintai Berliana, meskipun gadis cilik itu bukan anak kandungnya. Lalu, ingatan itu sampai pada titik di mana mereka mengikat janji suci. Mereka pernah berjanji akan selalu menjaga dan saling setia hingga maut memisahkan. Bahkan janji yang mereka ukir diiringi dengan ciuman penuh gairah pertanda mereka mengakui bahwa ada cinta di antara mereka.
Hubungan yang mereka jalin terasa begitu suci dan sakral. Rasanya mustahil jika Juan berbuat seperti ini. Pasti ada yang salah. "Ya, pasti ada yang salah," gumam Stella.
Seiring dengan ingatnya tentang bagaimana Juan memperjuangkannya. Tak sengaja senyuman sinis Zein melintas dalam bayangan. Ancaman Zein, yang ingin membuat Juan hancur. Kemudian janji Zein untuk memisahkan dirinya dengan Juan. Semuanya merundungnya sekarang. Seketika Stella sadar, jangan-jangan ini adalah rencana Zein.
"Astaga, kenapa aku bodoh sekali, mungkinkah ini rencana Zein!" ucap Stella. Matanya terbelalak seketika. Kemudian, jiwa Stella meronta. Tak rela suaminya disentuh oleh wanita lain.
Dengan cepat ia pun berlari masuk ke dalam rumah. Mengambil sapu, untuk menghajar dua sejoli yang hendak menodai pernikahannya. Tak sabar lagi, Stella pun menggedor pintu kamar itu. Kamar di mana sang suami dan wanita seksi jahanam itu berada.
"Keluar kalian!" teriak Stella. Tak ada jawaban, kemudian wanita ini pun membuka kasar pintu itu. Beruntung tidak dikunci. Dengan membabi buta Stella langsung menukul punggung wanita itu, menghajar wanita yang memeluk sang suami.
__ADS_1
Tentu saja Stella tak terima ada wanita lain ya g berani bercanda dan bermanja- manja penuh tawa dengan sang suami. Bukan hanya itu, sang wanita terlihat nyaman meskipun hanya bercengkrama biasa dengan Juan.
Panas, itulah yang dirasakan oleh hati dan pikiran Stella saat ini. Harusnya dia yang menemani pria itu. Harusnya hanya dia yang boleh bersikap manis-manis dengan Juan. Bukan wanita dengan baju kurang bahan, atau lebih tepatnya baju super seksi itu. "Dasar penggoda!" teriak Stella.
Mendapat serangan dadakan dari Stella. Spontan wanita seksi itu kalang kabut, gugup, bingung bagaimana caranya melawan. Dia belum siap. Dia hanya berusaha menghindar.
Melihat sang rival kewalahan, Stella kembali menyerangnya. Tanpa berpikir panjang Ia pun langsung mengangkat sapu dan memukul wanita itu. Terang saja serangan dadakan yang ia lakukan, sukses memporak-porandakan pertahankan wanita itu. Sedangkan Juan berusaha mencegah Stella. Memeluk erat perut Stella. Mengingatkan sang istri agar jangan berbuat anarkis.
Namun sayang Stella yang terlanjur emosi memanfaatkan pelukan Juan. Tak bisa menyerang dengan tangan, maka ia pun menggunakan kedua kakinya untuk menyerang. Seketika wanita yang belum menyiapkan diri itu tersungkur.
"Dasar wanita gila!" umpat wanita seksi itu.
"Aku memang wanita gila! Masalah denganmu ha! Brengsek! keluar kamu dari sini. Jangan berani menyentuh suamiku lagi! Keluar!" Suara Stella terdengar menggema. Tentu saja, sebab emosi wanita ini telah sampai pada puncaknya.
__ADS_1
Stella masih meronta, membuat Juan kewalahan. "Lepasin Pi, lepas. Akan kubunuh wanita jahanam itu!" ancam Stella dengan napas tersegal karena kesal.
"Udah, Mi. Udah! Dia luka nanti!" ucap Juan mengingatkan. Juan sendiri pun oleng, rasanya sudah tak sanggup menjaga raganya. Kantuk menyerangnya. Lelah juga mendekapnya. Juan hanya bisa menaruh kepalanya di punggung sang istri. Kini Stella tak mungkin melepaskan sang suami, Juan bisa satu kalau dia menghindar.
"Heh, denger ya. Aku lebih dulu mengenal Juan. Dia milikku, milikku!" tantang wanita seksi itu tak mau kalah.
Mendengar ucapan sang wanita, Hati Stella kembali memanas. "Aku tidak peduli, mau kamu kenal dia dulu atau kalian pacaran sekalipun, aku tidak peduli. Yang jelas saat ini dia adalah suamiku, milikku secara agama dan hukum. Jadi akulah yang berhak atasnya. Jangan mimpi kamu bisa menyentuhnya!" balas Stella tak kalah sengit.
Wanita itu terlihat masih kesakitan, namun ia juga tetap kekeh pada tujuannya. "Aku pun tak peduli, Juan adalah milikku. Kita lihat saja nanti, aku pasti bisa membawanya kembali ke ranjangku. Karena Juan mencintaiku, bukan kamu. Paham!" balas wanita itu, setelah itu ia pun menyaut tasnya dan beranjak meninggalkan kamar ini.
"Sini kamu brengsek, urusan kita belum selesai!" teriak Stella lagi. Namun sayang wanita itu enggan berbalik. Dengan amarah dan dendam wanita itu memilih keluar dan meninggalkan kediaman Juan. Namun, dalam hati ia berjanji akan merebut Juan dari Stella, apapun yang terjadi.
Kini tinggallah Juan yang masih memeluk Stella dari belakang. Ia merasakan lelah yang teramat sangat. Sepertinya berada di punggung Stella adalah tempat yang paling nyaman. Kenyamanan itu membuat pria tampan ini memejamkan mata. Juan hilang kesadaran. Pria ini telah terlelap, mungkin disamping dia lelah. Ini pasti pengaruh alkohol yang ia minum.
__ADS_1
Bersambung.....