PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
GELISAH


__ADS_3

Stella menatap ponsel yang kini ada di gengamannya. Ingin sekali ia menulis sebuah pesan kepada sang suami. Ingin rasanya ia sudah tak menyampaikan kabar ini. Stella tak sabar ingin melihat reaksi Juan ketika bertemu dengan wanita itu. Wanita yang pernah ia simpan rapi di dalam hatinya. Bahkan wanita itu juga masih muncul di dalam ingatan Juan, ketika pertama Stella masuk ke dalam ke dalam kehidupan pria itu.


Namun, rasa ragu tak mau ketinggalan eksistensinya. Dia terus saja menyerang Stella. Dengan ungkapan dan kata-kata yang tak sanggup membuatnya dilema.


Bagaimana jika ternyata, Juan sudah mengetahui ini? Tetapi menyembunyikan kenyataan ini darinya. Bisa saja sekarang mereka sudah bertemu. Lalu diam-diam kembali menjalin sebuah hubungan. Jika begitu, dia bisa apa?


"Ah, tidak, tidak. Juan bukan pria seperti itu," gumam Stella berusaha menepis prasnagka yang menganggunya.


"Bagaimana jika itu benar, Ste? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Stella pada dirinya sendiri.


Stella adalah wanita yang tidak bisa hidup di tengah-tengah belenggu ketidakjujuran. Sungguh, wanita ini sangat tidak menyukai kebohongan. Stella juga tidak mencintai kehilangan. Namun, jika di suruh memilih, ia yakin akan memilih kehilangan. Sebab baginya, kebohongan adalah suatu penyakit yang tidak ada obatnya. Terlebih dalam sebuah ikatan pernikahan, Stella sama sekali tidak menginginkan itu.


Malam semakin larut. Angin berembus begitu lembut menyentuh kulit. Namun, itu sama sekali mata Stella belum jua terpejam. Wanita ini masih mondar-mandie di dalam kamarnya, gelisah. Gelisah memikirkan kenyataan yang kini ia hadapi.


Jujur, Stella tak menyangka jika ia akan berhadapan dengan situasi yang sangat sulit seperti ini. Berada di tengah-tengah kedua orang yang masih memiliki sebuah ikatan yang belum usai. Bagaimana jadinya jika mereka masih menginginkan hubungan itu? Bagaimana jika pada kenyataannya cinta yang Juan miliki nantinya akan goyah? Ah entahlah!


Stella tersadar dari lamunan ketika Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Ya masuk!" jawab Stella.


Seseorang yang mengetuk pintu kamarnya tersebut pun masuk. Yang tak lain adalah Vita. Adik kesayangannya.


Mata Vita terlihat memerah. Seperti habis menangis.


"Ada apa? Kenapa nangis?" tanya Stella.


Vita belum bisa menjawab, gadis ini menghambur kepelukkan sang kakak. Kembali menumpahkan segala sesak yang ia rasakan. Membuat Stella bingung.


"Ada apa? Kenapa nangis?" tanya Stella.


"Apa aku salah, Kak. Jika aku mencintai pekerjaanku. Meskipun aku benci bosku?" tanya Vita dalam isak tangisnya.


"Mencintai pekerjaanmu? Tapi benci bosmu! Gimana maksudnya?" tanya Stella bingung.

__ADS_1


Vita melepaskan pelukkannya. Lalu menghapus air matanya. Gadis cantik ini menatap lekat pada sang kakak. Hatinya jadi ragu, antara harus menceritakan ini pada Stella atau memendamnya sendiri.


Vita baru sadar, bahwa Stella tidak suka jika ada orang yang membicarakan Zein di depannya. Dan Vita tahu alasan kenapa Stella bersikap demikian.


"Coba jelaskan, kenapa Vita bilang begitu?" desak Stella.


"Ini soal pria itu, Kak. Apakah nggak masalah jika Vita cerita tentang dia?" tanya Vita ragu.


"Kamu, nangis, untuk dia? Wah, gila!" ucap Stella kesal.


Tu kan, bener, batin Vita.


Gadis ini terpaksa diam seketika. Karena Vita menyadari bahwa dia salah orang jika ingin menceritakan pasal Zein. Belum apa-apa Stella sudah naik darah.


"Bukan itu masalahnya, Kak. Dah ah, nggak jadi Vita mau cerita, bye." Vita pun memilih beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Stella begitu saja.


Sedangkan Stella jadi bimbang. Antara meminta Vita untuk tinggal dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi atau tetap membiarkan sang adik masuk ke dalam dilema yang ia hadapi.


"Ah, kenapa aku jadi seperti ini? Bisa gila aku lama-lama!" gumam Stella.


Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat dengan penuh amarah Vita memasukkan seluruh bajunya ke dalam koper yang ia bawa.


"Tunggu-tunggu! Sebenarnya kamu ini kenapa dih?" tanya Stella lembut.


Vita membanting baju-bajunya dan kembali menangis. Rasanya kesal saja dengan orang-orang jahat itu. Kenapa ada orang tua yang begitu tega menghancurkan masa depan anaknya. Meruntuhkan usaha anaknya. Tidak adalah pekerjaan lain selain itu.


"Kenapa sih? Coba cerita?" tanya Stella lagi.


"Nggak nanti kakak marah," jawab Vita jujur.


"Aku marah apa nggak itu urusan nanti. Coba cerita dulu, sebenarnya ada apa?" tanya Stella lagi.


Vita menatap Stella. Lalu berusaha membangkitkan keberanian yang ia miliki untuk mengungkapkan masalah yang sedang ia sesali saat ini.

__ADS_1


"Tadi bang Zein telpon," ucap Vita memulai perbincangan mereka.


"Ya, lalu?" Stella berusaha menjadi pendengar yang baik.


"Dia bilang, Vita nggak usah kerja masuk kerja lagi!" jawab gadis ini pelan.


Stella malah tersenyum senang. "Ya baguslah, berarti kamu bebas sekarang," jawab Stella.


Tangis Vita diam seketika. Ternyata sang kakak masih belum bisa mengerti perasaanya. Ia begitu khawatir tentang nasibnya. Ia begitu sedih memikirkan bagaimana sekarang mantan bosnya itu. Apakah dia baik-baik saja? Mau bagaimanapun Zein tidak pernah jahat padanya. Secara personal Zein tidak pernah menyakitinya. Tak mungkin jika Vita harus senang dengan penderitaan Zein saat ini.


"Kok Kakak gitu, sih? Kakak nggak punya perasaan! Udah ah!" Vita kembali merajuk.


"Astaga Vita! Kamu ini kenapa sih? Ya bagus dong kamu nggak perlu susah-sudah resign dan kena denda. Duh aneh!" balas Stella tak mau kalah dengan pemikirannya.


"Jadi gini kak!" Vita menghela napas dalam-dalam. Bukan menyalahkan kakaknya juga, Vita menyadari dan tidak menyalahkan jika Stella belum bisa memaafkan Zein. Tetapi tidakkah ada sedikit rasa empati jika seandainya ia tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Zein.


"Ya! Aku dengerin!" jawab Stella lembut.


"Bang Zein bangkrut, Kak. Seluruh asetnya digadaikan oleh ayahnya. Perusahaannya pun. Jadi bang Zein nggak punya apa-apa sekarang," ucap Vita langsung pada intinya, ia enggan bertele-tele. Sebab ia tahu, Stella tak mungkin mau mendengarkan ceritanya sampai habis.


Namun, reaksi Stella tak seperti yang Vita kira. Vita pikir Stella akan tertawa. Stella akan berucap syukur. Ini sungguh berbeda. Sang kakak terlihat terkejut dan juga khawatirkan


"Hah? Kamu serius?" kejut Stella.


"Ya, Kak. Orang tua bang Zein juga kena kasus," jawab Vita lagi.


"Ya ampun, lalu?" tanya Stella lagi.


"Sepertinya Vita harus kembali ke Jakarta, Kak. Karena Vita yang menyimpan arsip-arsip bang Zein. Sepertinya bang Zein butuh Vita," ucap Vita meminta izin.


Stella tahu, yang dilakukan sang adik bukan atas dasar kasihan semata. Tetapi bentuk dari tanggung jawab sebagai pekerja Zein. Mau bagaimanapun pria itu telah menerimanya bekerja dengan baik. Maka semuanya harus berakhir baik-baik.


Bersambung....

__ADS_1


Makasih buat like n komennya. Cus habis ini kita lihat reaksi bang Juan ketemu Safira๐Ÿ˜


__ADS_2