
Mencintai tanpa dicintai. Menunggu tanpa ditunggu. Berharap tanpa diharapkan. Itulah barisan kalimat yang pas untuk menggambarkan apa yang Zein rasakan saat ini. Namun, sekali lagi... bagaimanapun kita berharap, mau bagaimanapun kita berusaha, jika jodoh tak berbicara makan percuma. Semua akn sia-sia. Sayangnya hal ini tak berlaku bagi pria ini. Ia tetap bersikeras untuk memiliki wanita yang ia ingin kan saat ini.
Sifat egois Zein seakan membuatnya lupa bahwa ia telah membuang sesuatu yang sekarang ia inginkan. Sesuatu yang telah ia buang, tak bisa ia ambil kembali. Sebab, sesuatu itu telah ia buang tersebut telah menjadi milik orang lain. Terlebih orang yang memiliki sesuatu itu adalah sahabatnya. Sungguh inilah sakit tak berdarah itu.
Zein menghela napas panjang. Menahan sakit perih yang menggerogoti sanubarinya. Ingin rasanya ia memecahkan kaca penyekat antara dirinya dengan wanita yang mampu merobek jantungnya itu. Selembar gorden yang menemani kaca penyekat itu juga tak luput dari umpatan Zein. Andai Rehan tak terus mencegahnya, menjaganya, mungkin Zein sudah nekat menerobos masuk. Ingin ikut menenangkan Stella. Ingin ikut menjadi merengkuh wanita itu dalam dekapannya. Terlebih, Stella terlihat terus menangis kesakitan. Hati Zein serasa ikut merasakan apa yang wanita itu rasakan. Hati itu serasa teriris melihat wanita yang dicintainya itu mengeluarkan air mata.
Bukan hanya itu yang membuat Zein memanas. Sikap Juan yang seakan Stella hanya miliknya seorang juga menjadi alasan Zein untuk menerobos ke dalam dan menghajar pria itu. Rasa persahabatan sepertinya sudah luntur dalam jiwa pria ini. Yang ada hanya ingin memenangkan pertarungan batin ini. Zein ingin melempar Juan dari ruangan itu dan menggantikannya. Andai Rehan tidak terus mengancamnya.
__ADS_1
Kepalan tangan, serta remasan tangan Zein menjadi bukti bahwa pria ini menahan amarah. Amarah kecemburuan yang ingin segera ia lampiaskan.
"Aku peringatkan padamu sekali lagi, Zein. Jangan membuat keributan di sini. Jangan coba-coba menyentuh Juan dan Stella!" acam Rehan, masih berusaha menjaga emosi pria ini.
Zein melirik penuh permusuhan pada Rehan. Baginya Rehan sama saja dengan Juan. Dua pria yang ingin memisahkan dia dan cintanya. Dua pria yang tak mengerti luka batin yang ia rasakan.
"Baik, untuk sekarang aku turuti apa maumu. Tapi besok, setelah anakku lahir, jangan harap aku akan mengalah dengan keadaan. Akan kurebut anak dan juga bidadariku. Tak akan kuizinkan siapapun memilikinya, karena dia hanya milikku. Milikku! apa kamu mengerti!" balas Zein serius. Tatapan matanya terlihat tajam. Sangat tajam. Seakan ia tak main-main dengan ancamannya.
__ADS_1
Baru beberapa langkah Zein hendak beranjak meninggalkan tempat itu, langkahnya terhenti. Terdengar suara bayi menangis. Bayi itu telah lahir. Bersiap menatap dunia yang akuh. Bersiap menghadapi masalah yang sama sekali ia tak tahu dari mana akarnya.
Rehan membalikan badannya, menatap Zein yang masih belum pergi dari tempat itu. Rehan pikir, Zein akan membalikkan badan dan kembali. Bersiap melihat buah hatinya yang telah lahir ke dunia. Nyatanya Rehan salah, Zein bukan berniat kembali. Pria ini hanya mendengarkan suara bayinya sekilas, lalu melanjutkan langkahnya. Dan Rehan tidak peduli, karena baginya Zein adalah pria yang tak punya hati.
"Pria seperti itu mau jadi bapak, mati aja kamu. Jangan bermimpi mau merebut Ste dari Jun. Karena masih ada aku, jangan lupakan itu bangsat! " gumam Rehan penuh amarah.
Jangan ditanya lagi bagaimana sakit hatinya Rehan pada Zein. Bukan sekali dua kali pria itu melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang. Rehan lelah, sepertinya ia akan menyerah bekerja pada pria seperti itu. Baginya Zein tak bisa menghargai jerih payah orang lain. Ia hanya memikirkan apa yang terpenting buat dirinya. Tanpa memikirkan apakah itu haknya atau bukan.
__ADS_1
Like Like jan lupa... Terima kasih yang sudah sukak🥰🥰🥰
Bersambung....