PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Kabar Buruk


__ADS_3

Zein telah bangun dari tidur panjangnya. Namun, tidak ada kebahagiaan di raut wajah pria itu. Sebab ia mendengar, sang ayah tidak mengizinkan kedua sahabatnya menjenguknya. Dan Zein tahu, mereka pasti khawatir.


"Kenapa Papa tega tidak mengizinkan mereka masuk?" tanya Zein. Suaranya terdengar lemah, sebab ia memang masih sangat lemah.


"Tolong jangan ngajak Papa debat, Zein. Kamu masih sangat lemah. Papa hanya ingin kamu dihargai oleh mereka. Tidak terus dimanfaatkan," jawab Laskar enteng.


"Mereka nggak manfaatin, Zein, Pa. Kami memang seperti itu. Kami selalu bersama dalam susah maupun senang. Kami bersahabat, Pa," jawab Zein tak mau kalah.


"Oke, kalo mereka memang seperti itu, lalu kenapa mereka tidak menolongmu ketika terjadi sesuatu padamu. Kenapa mereka membuatkan kamu jatuh?" tanya Laskar tegas.


"Pa, bukan seperti itu. Astaga!" jawab Zein lagi. Lalu Zein pun memilih diam. Dia tak ingin mendebat sang ayah yang keras kepala ini. Tak ada gunanya. Karena dia pasti kalah. Laskar sangat teguh pada pendiriannya.


Merasa tubuhnya kurang nyaman, Zein pun berusaha bangun. Tapi sayang, ia tidak merasakan apapun pada kakinya.


Namun, ia tak putus asa. Zein tetap berusaha bangun. Sayangnya tidak bisa. Kaki Zein tidak berasa. Setelah hampir lima kali ia mencoba, barulah ia merasakan keanehan. Lalu ia pun bertanya pada papanya.


"Pa!" ucap Zein takut.


"Hemmm!" jawab Laskar. Masih sedikit kesal. Karena Zein berani melawannya.


"Kenapa Zein tidak merasakan sesuatu di kaki, Pa? Zein kenapa, Pa?" tanya Zein takut.


Laila yang saat itu ada di samping sang putra, langsung memeluk kepala Zein. Mencoba menenangkan sang putra.


"Sabar ya, Nak. Percayalah kamu pasti sembuh. Papamu sudah mencarikan dokter terbaik untukmu. Semangat ya, Nak," ucap Laila lembut.

__ADS_1


Dari jawaban sang ibu, Zein bisa menangkap bahwa telah terjadi sesuatu pada kakinya. Pikiran Zein langsung terpusat pada keluampuhan. Zein berpikir bahwa dia pasti lumpuh.


"Apakah Zein lumpuh, Pa, Ma?" tanya Zein gemetar.


"Tidak putraku, kata dokter kamu masih bisa sembuh," jawabannya Laila, bukan bermaskdub berbohong. Tetapi dia hanya mau, Zein tetap optimis pada kesehatan kakinya.


"Please, Ma. Tolong jangan berbohong. Tolong katakan yang sejujurnya. Zein mohon!" ucap Zein memohon.


"Ma .... janganlah Mama berbohong! Kta sudah tahu kenyataan itu sebelum putra kita bangun. Sudahlah ... katakan sejujurnya saja pada putra kita. Bahwa ini lah yang terjadi. Yang penting kita tetap berusaha supaya putra kita sehat kembali. Bisa berjalan kembali. Sekarang kamu paham kan Zein, kenapa Papa marah pada teman-temanmu?" tanya Laskar, serius.


Zein diam Mencoba mencerna setiap kata yang masuk ke dalam gendang telinganya. Namun sayangnya, semua kalimat itu serasa hambar, tidak bisa masuk sempurna ke dalam pikiran pria tampan ini.


Zein shock. Tidak menyangka bahwa Tuhan akan memberinya ujian seberat ini. Saat terjatuh, kenapa dia tidak mati saja. Karena, baginya lumpuh lebih menyakitkan di banding sebuah kematian. Setidaknya dia tidak akan dihina. Setidaknya dia tidak akan dipandang sebelah mata. Setidaknya dia tidak akan merepotkan orang lain.


"Kamu pasti bisa melewati ini, Sayang. Ada Mama, ada Papa, ada Fira, kami semua akan jagain kamu. Kamu nggak akan pernah ninggalin kamu sendirian, Sayang. Percayalah! Jadi kamu harus kuat ya," ucap Laila sembari mengusap rambut Zein dengan penuh kasih sayang.


Zein masih diam. Masih shock.


Masih belum bisa menjawab apapun yang orang lain katakan padanya. Zein masih sibuk dengan ketakutan dan pemikiran-pemikiran aneh yang kini menyerangnya.


Musibah yang ia alami kali ini adalah kabar terburuk yang pernah ia alami. Perjalanan hidup yang seperti rolerkoster tidak membuat Zein sepatah ini. Sungguh, ini adalah kabar buruk untuk bapak satu anak ini.


***


Di sisi lain, Vita kembali menangis ketika Juan mengatakan padanya bahwa kedua orang tua Zein tidak mengizinkan didinya dan juga Rehan untuk menemui Zein.

__ADS_1


Entah apa alasanya, yang jelas mereka tidak mengizinkannya.


"Sudah Vit, jangan menangis lagi. Jangan biarkan air matamu jatuh untuk pri lain. Ingat kamu sudah punya suami, bahkan sampai saat ini, suamimu juga masih koma. Belum sadarkan diri. Jahat kamu kalo kamu terus terusan memikirkan pria lain selain suamimu!" ucap Stella kesal.


"Aku menangis untuk abang bukan karena cinta, Kak. Aku menangisinya karena dia bodoh. Ngapain dia ikut pergi ke tempat itu. Seharusnya dia tidak datang. Bahkan, ke pernikahan pun sebenarnya Vita juga nggak ngundang dia. Karena Vita tau, ini sangat menyakitkan baginya. Kakak ngerti nggak sih?" Kali ini Vita tak ingin menerima nasehat. Karena menurutnya orang-orang hanya bisa menghakimi dirinya. Orang-orang hanya tahu menghakimi cintanya pada Zein. Tidak mau mengerti bahwa sebenarnya dia juga sudah berkorban. Sudah berusaha. Sudah mencoba melupakan.


Namun, apalah daya. Cinta itu seakan seperti udara baginya. Selalu mengikuti ke manapun ia pergi. Jika ditanya, Vita pun lelah harus terus berada di posisi seperti ini.


"Maafkan, Kakak, Vit. Kakak sama sekali nggak bermaksud menyudutkan ku. Kakak hanya nggak mau kamu durhaka terhadap Luis," jawab Stella mulai menurunkan nada bicaranya. Agar Vita juga menurunkan amarahnya.


"Aku durhaka dari mana Kak, aku nggak selingkuh. Toh aku juga merawat Luis. Aku mencintainya, Kak. Jangan pikir aku tidak mencintai Uis. Kalo aku tidak mencintai pria itu, sudah pasti aku sekarang terbang ke Singapura untuk bertemu dengan pria yang terus kalian hakimi itu," jawab Vita, tetap tak mau kalah. Sebab ia tak Terima jika ada orang yang mau menyudutkan Zein, perihal perasaan.


"Oke, Oke, fine! Serah kamu. Kamu udah dewasa. Pasti bisa berpikir baik dan buruk sebuah perbuatan. Kakak juga udah lelah Vit. Kakak lelah, sumpah!" ucap Stella sambil berlalu pergi. Malas saja berdebat dengan seseorang yang merasa dirinya benar. Padahal di mata orang lain dia salah.


***


Keesokan harinya...


Kabar buruk kembali diterima oleh Vita dan keluarganya. Oma Dena yang saat ini ada di rumah sakit jiwa, dinyatakan meninggal karena bunuh diri.


Wanita itu memilih mengakhiri hidupnya karena dihantui bayang-bayang rasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan terhadap sang cucu.


Sebelum mengakhiri hidupnya, Dena menulis sebuah pesan untuk Vita. Sebuah permintaan maaf yang tulus dari hati. Bukan hanya itu, Oma Dena juga berpesan pada Vita, agar tetap mendampingi Luis dalam suka maupun duka. Oma Dena juga memohon pada Vita, agar sudi merawat Luis sampai sembuh. Membantunya meneruskan perusahaan. Dan juga meminta pada Vita agar menghibahkan separo hartanya untuk orang-orang yang tidak mampu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2