
Rasa syukur kini Juan dan Rehan ucapkan. Sebab sahabat mereka telah selamat dari maut. Zein berhasil keluar dari ruang operasi. Juan dan Rehan begitu bahagia. Mereka berpelukan seolah habis mendapatkan hadiah yang luar biasa. Ya mereka memang telah mendapatkan hadiah itu. Sebuah kabar gembira, yaitu teman mereka, sahabat mereka, telah berhasil keluar dari ruang operasi tersebut.
Terlihat beberapa luka lebab di wajah pria itu. Sampai membuat keempat orang yang menjaganya ikut merinding.
"Ya Tuhan!" ucap Vita sambil menutup rapat mulutnya. Ketika tubuh Zein sampai di depannya. Entah mengapa? Gadis ini tiba-tiba saja tek tega melihat bos sekaligus mantan kakak iparnya itu terluka hingga sedemikian rupa.
Wajah tampa. pria itu sampai tak terlihat. Yang ada hanyalah luka memar dan beberapa goresan, baik di wajah maupun di lengan. Bahkan Vita juga melihat di dada Zein ada luka yang di perban. Bukan hanya itu kedua mata pria ini juga iterlihat bengkak.
"Ya Tuhan, bang Zein!" ucap Vita lagi, tak terasa air matanya jatuh begitu aja. Rasa kasihan dan tak tega pun kembali menghantui wanita ini. Apa lagi ketika mengikuti langkah para petugas medis yang sedang membawa tubuh Zein untuk dipindahkan ke ruang rawat. Hati Vita serasa terkoyak.
"Vita, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rehan.
"Entahlah, Bang! Kenapa aku jadi nggak tega gini. Sepertinya aku lebih memilih dia marah padaku, Bang. Dari pada lihat dia tertidur dengan keadaan seperti itu," ucap Vita.
Rehan dan Juan saling menatap. Heran saja dengan apa yang Vita sampaikan. Sepertinya gadis itu tidak menyadari apa yang sedang ia ucapkan. Bisa saja, yang mendengar ucapannya, menganggap bahwa dia menyukai Zein. Kalau hanya sekadar sekertaris atau pekerja, rasanya tidak sampai segitunya.
"Percayalah, dia pasti akan sembuh dan pulih seperti sedia kala," ucap Rehan menguatkan.
"Semoga aja, Bang. Vita hanya kasihan saja," jawab gadis ini lagi.
__ADS_1
Rehan sengaja tidak ingin memperpanjang atau lebih tepatnya mencari tahu apa yang sebenarnya Vita rasakan terhadap Zein. Toh itu adalah hak mereka berdua. Kalau pun ada sesuatu di antara mereka, bukankah itu sah-sah saja. Vita lanjang dan Zein duda. Mereka berhak memilih, pikir Rehan.
Vita mengikuti langkah kedua suster itu masuk ke dalam ruang inap Zein. Sedangkan Rehan, Renata dan juga Juan, mereka menunggu di luar. Sebab hanya satu orang yang boleh masuk ke dalam ruangan rawat tersebut.
"Penasaran, siapa yang melakukan ini padanya?" bisik Juan pada Rehan tiba-tiba.
"Kita bisa tahu ini dari daftar partner bisnis Zein dan juga yang berhubungan dengan Agus," jawab Rehan.
"Kalo itu aku juga tahu, Re. Maksudku pastinya?" tambah Juan lagi.
"Kita kan udah di wanti-wanti ama om yang tadi. Sebaiknya kita diam saja, Jun. Kita percayakan kasus Zein pada pria ititu. Yang penting kita jaga dia, jangan sampai ada yang nyentuh dia lagi. Kalo nggak, maka kita bakalan end. Apa lah lgi elu kan kenal ama tu om-om," ucap Rehan mengingatkan.
"Aku tahu kamu resah, Bro. Tapi mau bagaimana lagi? Suratan takdir kalian memang demikian! Sabar saja, semua pasti baik-baik saja," ucap Rehan menguatkan.
"Entahlah, Re. Aku bingung," ucap Juan, ada sedikit penyesalan yang tak ia pahami. Namun, jika jujur Juan sangat takut. Takut pada kenyataan yang kini sedang ia hadapi.
***
Keesokan harinya...
__ADS_1
Safira tak sanggup menahan hatinya lagi. Ia ingin tetap mendapatkan jawaban atas apa yang orang tuanya lakukan padanya. Tak ingin menunda lagi, hari ini juga, Safira pun memilih pulang ke Batam. Ke kampung halamannya.
Safira tak peduli, meskipun mama dan papanya akan mencekik lehernya. Yang jelas ia ingin sebuah kejujuran. Kejujuran tentang fakta yang selama ini mereka sembunyikan.
Di dalam pesawat yang membawanya ke Batam kali ini, Safira kembali memantapkan niatnya. Tak akan kembali sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Apa yang ingin dia ketahui.
Wanita ini tidak berpikir macam-macam karena tujuannya hanya satu. Mendapatkan kepastian. Mendengarkan kejujuran mereka. Hanya itu, tidak lebih dan tidak kurang.
***
Di sisi lain, Orang suruhan Laskar yang ditugaskan untuk mengawasi Safira, melaporkan bahwa dia kecolongan. Ternyata Safira telah pergi dari Sydney. Tentu saja kenyataan ini membuat Laskar murka.
"Cari gadis bodoh itu, jangan sampai dia bertemu dengan ibunya. Jika sampai dia bertemu denga Luna, maka habis lah kita!" ucap Laskar memberikan perintah.
Tentu saja, tak ada satupun yang berani membatah apa yang orang tua itu perintahkan.
Laskar begitu ketakutan mendengar Safira tidak ada di tempat. Apa yang sebenarnya Laskar takutkan?
Bersambung...
__ADS_1