PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 7 (Lutfi n Safira)


__ADS_3

Bersyukur, setelah hampir empat bulan ia pindah ke Jakarta, akhirnya Novita pun bisa menginjakkan kakinya kembali ke kota di mana saudari dan juga sang ibu tinggal.


Meskipun belum ada perkembangan yang berarti atas kesehatan sang ibu, tapi Vita dan Stella tak diam saja. Mereka selalu memberikan dukungan terbaik untuk ibu mereka. Seperti mencarinya psikolog terbaik untuk wanita yang telah banyak berkorban untuk mereka.


"Kok kamu ke sini, Luis gimana? Siapa yang ngrawat?" tanya Stella khawatir.


"Ada suster dari rumah sakit, Kak. Aku minta mereka kerja, selama aku nggak di rumah. Dia udah biasa kok jaga Luis kalo aku pas rapat atau ada kepentingan di luar," jawab Vita, jujur dan apa adanya.


"Syukurlah, yang penting Luis nyaman, seneng, biar cepet sembuh," jawab Stella.


"Iya, Kakak bener. Abang ke mana Kak. Kok nggak kelihatan?" tanya Vita.


"Abangmu masih di Singapura. Ada seminar atau apa gitu katanya," ucap Stella sembari menyiapkan jus mangga untuk sang adik.


"Oh.... Vita mau ketemuan ni kak sama Fira. Kakak mau nitip apa? Boleh nggak Vita pinjam mobil?" tanya Vita. Bukan bermaksud mencari masalah, hanya saja, Vita rindu pada sahabat karibnya itu. Dan mereka memang sudah lama tak bertemu.


"Boleh, pakek saja. Emang kamu nggak takut sama keluarganya?" tanya Stella mengingatkan.


"Niat Vita baik, Kak. Mau sambung silaturahim. Insya Allah di terima. Lagian om sama tante nggak ada di rumah ini Jadi boleh lah kami ketemuan." Vita tersenyum sembari menyeruput jus mangga yang di sediakan oleh sang kakak.


"Oke, yang penting pertemuan kalian tidak membuatmu oleng. Ingat si mantan kakak ipar," canda Stella. Ya sekarang Stella bisa bercanda, karena memang dia sendiri sudah tak memiliki rasa pada Zein.


"Hisssttt..., nggak lah, Kak. Insya Allah hati Vita sudah aman." Vita tersenyum, meskipun tak dipungkiri bahwa di sudut hatinya yang paling dalam, tetap mengkhawatirkan pria itu. Pria yang telah kelaka karenanya.


"Ya udah, Vita jalan dulu ya kak. Soalnya malam nanti Vita harus balik. Vita nggak bisa lama-lama ninggalin Uis. Kasihan Kak," ucap Vita, sembari beranjak dari tempat duduk nya. Sedangkan Stella meminta asisten rumah tangganya untuk mengambilkan kunci mobil untuk sang adik.


"Makasih loh hadiahnya, buat Liana juga, buat Ibu juga. Pokoknya makasih banyak. Sampaikan pada Uis, Kakak sukam Pilihan dia terbaik," ucap Stella dengan senyuman bahagianya.


"Iya, nanti Vita sampaikan. Makasih banyak Kak. Vita pakek dulu mobilnya. Tadi Vita udah bilang sama ibu kalo Vita hendak jalan. Ibu senyum Kak, Vita seneng banget!" ucap Vita senang. Karena kesehatan sang ibu sudah mulai berkembang. Anti sudah mau merespon setiap kata yang terucap.

__ADS_1


Setelah melambaikan tangan Vita pun mulai meninggalkan halaman rumah Stella untuk menemui sang sahabat tersayangnya.


***


Di sisi lain, si neng tukang merajuk masih saja meringkuk di ranjang miliknya. Sedih... Karena Lutfi tak kunjung memberinya kabar. Tak membalas peran yang ia kirim. Tak mengangkat panggilan telponnya. Membuat Safira frustasi.


Meskipun pengasuh Naya selalu membalas pesan yang ia kirim. Tetap saja, Safira masih merasa kurang. Ia menginginkan Lutfi yang membalas pesan chat darinya. Ia ingin Lutfi yang menyambut telpon darinya.


Terkadang, terbesit tanya dalam batin wanita aneh ini. Mungkinkah Lutfi sudah tak mau lagi dengannya? Mungkinkah Lutfi sudah muak dengannya? Ataukah Lutfi memang sengaja membiarkannya tenggelam dalam dilema.


Di saat semua pemikiran-pemikiran bodoh itu membelenggu nya, ponselnya berdering. Seseorang mencarinya, Safita tersenyum. Sebab ia yakin, bahwa yang menghubunginya pasti sang suami.


Dengan cepat Safira pun beranjak dari pembaringan dan menyambut panggilan itu segera.


"Mas!" sambut Safira.


Tentu saja, seseorang yang kini sedang menyimak suaranya, merasa aneh.


"Astaga, Vit. Aku lupa. Kepalaku serasa pening. Kamu ke rumahku aja ya!" pinta Safira.


"Entar nyak babe lu marah," jawab Vita.


"Nggak, mereka kan lagi pegi."


"Ya tapi nggak enak juga, Ra. Ya udah kita ngobrol by phone aja. Soalnya aku juga nggak bisa lama-lama di sini. Kapan -kapan aja kita ketemunya ya. Aku belok deh, nyari oleh-oleh buat ayangku tercinta aja." Vita kembali fokus pada kemudinya, sedangkan Safira hanya diam sambil mengusap pelan wajahnya. Lalu kembali merebahkan tubuhnya untuk kembali membuang rasa lelahnya.


Merasa ada yang lain dengan sang sahabat, Vita pun memanggil wanita itu.


"Ra!"

__ADS_1


"Ya, Vit! Ada apa?" tanya Safira malas.


"Heyyy, tumben aku telpon malas. Suaranya lemes gitu. Bukanya paksu pulang. Emang udah digempur berapa ronde sampek lemes begitu?" canda Vita dengan tawa renyah seperti biasa.


"Jangan ketawa, Vit! Aku sudah melakukan dosa besar." Terdengar suara tangisan Safira.


Tentu saja, tangisan itu membuat Vita terkejut. "Ra, kamu kenapa? Kamu selingkuh?" tabak Vita asal.


"Bukan, Vit, mana ada aku selingkuh. Aku mencintai pernikahan ini. Aku menyayangi pernikahan ini. Bahkan aku berharap, bahwa pernikahan ini adalah pernikahan pertama dan terakhirku. Tapi kenapa pikiran dan bahasa tubuhku takut disentuh oleh suamiku, Vit. Kenapa?" tangisan Safira kembali pecah. Karena ia merasa sangat-sangat bodoh.


"Kok bisa, Ra. Kamu takut sama Lutfi. Emangnya Lutfi kasar?"


"Nggak! Lutfi mana kasar sih, Vit. Dia begitu lembut, baik, sama sekali nggak pernah ngegas. Bahkan bicarapun jarang manggil nama aku. Dia selalu menanggil aku bunda. Bundanya Naya, kadang juga honey, kadang sayang, pokoknya jarang sekali memanggil nama. Dia sangat lembut, Vit." Masih terdengar suara tangisan Safira.


"Terus apa masalahnya, Ra. Kamu nggak percaya sama Lutfi? Atau kamu nggak cinta? atau bagaimana?" Vita malah dibuat bingung oleh sahabat anehnya itu.


"Entahlah, Vit. Tiba-tiba pas aku diituin sama dia, aku takut hamil, Vit. Aku takut kecelakaan. Aku takut di buang. Aku takut diasingkan. Aku takut melewati masa kelam itu lagi. Aku takut sekali, Vit," jawab Safira jujur.


"Astaghfirullah... Ra, ya beda. Kasus kamu sana lelaki pertamamu itu beda. Jangan disamain. Kan ini udah nikah sah, direstui pula. Udah jangan takut lagi, kalo Lutfi memang seperti yang kamu bilang, aku yakin dia pasti jagain kamu kok. Percayalah!" jawab Vita serius.


"Aku seperti anak kecil ya, Vit?" tanya Safira.


"Bukan anak kecil lagi, Ra. Kamu manja tapi salah tempat. Salah waktu. Nggak boleh begitu. Namanya laki-laki, apa lagi punya istri, otaknya pasti minta direfres. Luis yang keadaannya kek gitu aja napsu lihat gue. Masak Lutfi yang normal nggak. Gila lu Ra, kalo sampai nggak kasih, tega tahu nggak. Aku aja suka sengajain, kalo pas lagi berduaan sama Luis, aku pakek aja sragam tugas. Biar dia semangat, semangat buat sembuh maksudnya. Kejam lu Ra kalo sampai nggak mau disentuh ama Lutfi, Dosa tahu Ra," ucap Vita mengingatkan.


"Aku tahu, Ra. Aku memang jahat. Terus aku mesti gimana?" tanya Safira.


"Astaga, Neng. Itu ma pertanyaan bodoh. Ya udah, sekarang kamu mandi. Pakek baju terbaik, lalu minta maaf ama paksu. Buktikan kalo kamu menyesal dan mau jadi istri yang baik. Ntar kalo paksu dilirik cewek lain, gimana? Mau?" jawab Vita, kesal juga mendengar kebodohan Aang sahabat.


"Dia lagi nggak di rumah Vit, dia di Ujung Pandang. Lagi kerja. Dia marah. Lalu mutusin buat pergi kerja. Terus aku masti gimana?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan bodoh itu, tentu saja membuat Vita kesal. Ia pun memilih memutuskan panggilan teleponnya dan putar balik untuk pergi ke rumah sahabat anehnya itu.


Bersambung...


__ADS_2