
Zizi termenung dalam guyuran shower yang membasahi tubuhnya. Tak dipungkiri bahwa saat ini hatinya terasa teramat sangat sakit.
Jawaban yang Zein berikan kepadanya, nyatanya tidak sesuai harapan. Zein seperti tidak bisa menangkap apa yang ia inginkan. Zein seperti acuh dan tak mau mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya.
Zi menghela napas dalam-dalam. Merasakan betapa ia ingin mengurai benang kusut yang saat ini sedang mengikat kuat belenggu ketidakjujuran dalam hubungan antara dirinya dan sang suami.
Namun, Zi kesulitan. Sebab Zein sendiri tidak mau terbuka dengan masalah yang tampak di depan mata. Zein terkesan membiarkan dirinya berada di dalam kubangan dilema.
Sakit, bingung, sedih dan gelisah... seperti itulah rasa yang saat ini membelenggu hati Zizi. Ingin rasanya ia bercerita, namun pada siapa. Ingin rasanya ia berkeluh kesah, namun dengan siapa.
Saudara tak punya, suami seperti ini. Zi hanya bisa diam dan mengigit perih egonya.
***
Keesokan harinya...
Seluruh keluarga dan kerabat mengiring jenazah Luis sampai ke tempat peristirahatannta yang terakhir.
Di sana tampak Juan dan Stella memeluk Vita yang beberapa kali pingsan. Di belakang mereka ada Safira dan juga suami. Serta Rehan dan juga Renata juga datang ke pemakaman tersebut. Tak ketinggalan Zein, pria itu kini berdiri di tegak samping Stella. Ingin rasanya ia memeluk wanita yang kini sedang menangis itu. Menenangkannya. Andai saja, pihak keluarganya tak ada di sana.
Egois, ya... Zein memang egois. Ia ingin menunjukkan pada keluarga Vita, bahwa ia sanggup membuat wanita itu tenang. Ia sanggup membuat wanita itu bahagia. Dan ia juga sanggup membuat wanita itu tersenyum lagi.
Tak ada perbincangan di antara mereka. Namun, suasana tegang tetap Zein rasakan di sini. Sebab Safira terus menatapnya. Safira memerhatikan setiap Gerak-geriknya. Membuat Zein merasa terintimidasi.
Semua pelayat sudah mulai melangkah pergi. Meninggalkan pemakaman ini. Semua sudah perpamitan pada Vita, pada Juan dan pada Stella. Tanpa terkecuali Zein, pria itu juga sudah berpamitan. Namun, dalam hatinya berjanji akan kembali. Kembali untuk membuat kekasih hatinya itu tersenyum.
Zein melangkahkan kakinya menuju mobil, namun dengan cepat Safira menghadangnya.
"Abang, tunggu... bisa kita bicara?" tanya Safira dengan nada super serius.
Zein menghentikan langkahnya. Ia juga terlihat mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Sorry, Bang. Maaf kalo peringatan ini sedikit menekan abang, tapi Fira mohon, jangan melakukan kesalahan yang sama," ucap Safira memperingatkan.
"Kesalahan yang sama, maksudnya?" tanya Zein, tak kalah serius.
"Aku tahu selama lima hari ini abang ke mana? Abang jangan main api, Bang. Kasihan Kak Zi," jawab Safira, kali ini dengan nada lembut. Selembut seorang ibu ketika berbicara dengan putranya.
Zein menyunggingkan senyumnya sekilas, lalu dengan keegoisannya ia pun menjawab. "Kamu tidak tahu apa-apa soal hatiku, maka nggak usah ikut campur!" jawab Zein seraya melangkah hendak masuk ke dalam mobil.
"Abang sudah memilih, maka abang harus tetap pada komitmen itu. Aku tekankan sekali lagi, jangan macam-macam, Bang. Aku mohon pikirkanlah sekali lagi," ucap Safira serius. Sebab ia tahu, abangnya pasti memiliki niat terselubung di balik kepergiannya ke Singapura untuk menjeguk suami sahabatnya tersebut.
"Maaf, Ra. Kali ini abang tidak mau mengalah lagi. Sudah cukup abang berkorban untuk orang-orang yang pada akhirnya tidak mau mengerti tentang cinta yang kami miliki. Tentang cinta yang ada antara kami. Aku lelah mengalah, jadi jangan paksa aku untuk mengalah lagi," jawab Zein tegas.
"Bagaimana dengan Kak Zi? dia nggak tahu apa-apa, Bang. Mungkin kah abang juga akan memaksakan cinta abang yang bulshit ini?" tanya Safira kesal.
"Cinta abang ke Vita tulus, asal kamu tahu itu!" jawab Zein penuh emosi.
"Cinta tulus macam apa yang menyakiti hati yang lain? Cinta tulus macam apa yang di dalamnya masih ada keegoisan? Cinta tulus bagaimana yang hendak abang tunjukkan pada kami. Heh, anda terlalu serakah, Bang!" balas Safira tanpa mau mengalah.
"Terserah... terserah kalian mau bilang apa. Yang jelas, kali ini aku tidak mau mengalah dengan alasan apapun. Aku mau bersama Vita, titik. Soal Zi, kalo dia mau terima itu lebih baik. Jika tidak maka aku juga tak akan melarangnya untuk pergi," jawab Zein, masih bertahan dengan keegoisan yang tinggi.
Masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat menjengkelkan baginya ini.
Ya, Zein sudah memantapkan pilihan. Ia tak mau peduli lagi dengan nasehat orang lain yang menurutnya menentang perasaannya itu. Menentang keinginannya. Padahal, jika di pikir, keinginannya tidak berat kok. Hanya ingin bersama orang yang ia cintai. Lalu salahnya di mana?
Ya, begitulah virus cinta nan buta, jika sudah menyerang. Baik buruknya pun susah untuk di mengerti.
***
Selepas pembicaranya dengan sang abang, Safira terlihat diam, namun kesal. Sangat-sangat kesal. Bukan hanya kesal, tapi juga sakit hati. Bagaimana tidak? Pria itu begitu keras kepala dan menjengkelakan. Safira juga takut, sebab yang ia takutkan telah terjadi.
Zein telah buta. Zein telah hilang kendali. Sifat keras kepalanya dan keegoisannya telah kembali. Safira takut harus bagaimana mengingatkan pria itu, agar jangan sampai menyakiti hati wanita yang benar-benar tulus mencintainya.
__ADS_1
"Bun, hay.... " ucap Lutfi, sedikit mengejutkan.
"Yah.... sorry," jawab Safira dengan wajah murung.
"Yuk jalan, semua orang udah pada masuk ke mobil. Bunda oke?" Lutfi meraih tangan sang istri dan mengajaknya meninggalkan tempat ini.
Sekilas, Lutfi memerhatikan sang istri. Terbesit tanya di dalam pikiran pria gagah ini. Mungkinkah?
"Bunda tadi berdebat dengan abang?" tanya Lutfi, mencoba menyuarakan kecurigaannya.
"Ya... entahlah, Mas. Sepertinya abang sudah hilang kendali. Pria egois itu telah kembali menjadi pria keras kepala yang nggak berperasaan." Safira terlihat bersedih.
"Sabar, Bun. Kita harus sabar dan selalu nasehatin abang pelan-pelan," jawab Lutfi mencoba menjadi penengah antara abang dan adik itu.
"Bagaimana aku bisa tenang ngadepi pria nggak punya hati begitu? gimana kalo Kak Zi tahu, bahwa di hati suaminya ada wanita lain?" tanya Safira, kembali kesal dan kesal.
"Ya, aku tahu. Yuk kita masuk mobil dulu. Tenangkan dirimu," pinta Lutfi sembari membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Safira masuk ke dalam mobil. Lalu ia pun menyenderkan tubuhnya di sisi kursi penumpang. Tak ada ketenangan di sana, yang ada hanya rasa gelisah dan takut. Meskipun saat ini ada Lutfi di sampingnya.
"Kita awasi terus saja abang, Bun. Kalo memang dia berani melangkah lebih jauh, terpaksa kita kasih tahu Vita nya. Siapa tahu Vita bisa mengendalikan abang," jawab Lutfi mencoba memberikan solusi untuk masalah merek a.
"Coba kita lihat, apakah mereka berdua masih memiliki hati. Takutnya, cinta mereka menghalalkan segala cara. Mengingat Vita juga cinta sama abang," jawab Safira takut.
"Mereka aneh, hatinya bisa terbagi begitu," ucap Lutfi bingung.
"Karena cinta itu tercipta sebelum pasangan mereka saat ini hadir, Mas. Cinta mereka tak sampai karena suatu hal yang bukan bersumber dari mereka sendiri. Ibarat kata, mereka masih penasaran dengan rasa itu," jawab Safira memperjelas apa yang sebenarnya Zein dan Vita rasakan saat ini.
"Ya, walau pun begitu... tetap saja, namanya sudah berkomitmen dengan yang lain, harusnya tetap dijaga. Meskipun ada hati lain yang menunggu. Tetap tidak boleh itu," jawab Lutfi sembari menginjak pedal gasnya dan mulai melajukan kendaraannya.
"Entahlah, Mas. Memikirkan mereka aku jadi mual. Hah, izinkan aku tidur, Mas Aku pusing," ucap Safira sembari menyenderkan tubuhnya dan memejamkan mata. Sedangkan Lutfi hanya tersenyum sambil membiarkan sang istri melakukan apapun yang dia mau.
__ADS_1
Agar sang istri lebih nyaman dengan tidurnya, Lutfi pun mengelus kening wanita itu. Supaya Safira merasa nyaman dan merasa terlindungi dalam tidurnya.
Bersambung....