PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
DATANGNYA MALA PETAKA


__ADS_3

Perjalanan hidup adalah proses. Proses menjadi baik ataupun sebaliknya.


Seperti yang terjadi pada Stella saat ini. Meski ia memaksakan hati untuk tidak peduli, apa lagi memikirkan kedatangan Zein. Tetap saja, ada kekhawatiran yang melanda sudut hatinya. Terlebih, ia belum mengungkapkan siapa sebenarnya sang mantan pada suaminya saat ini. Padahal, Rehan sudah memperingatkannya, sehari setelah ia melahirkan.


Bukan Stella tak ingin, tetapi hanya tak tega pada Juan. Saat ini sang suami sedang merayakan kebahagiaannya memiliki buah hati. Stella, hanya ingin menunggu waktu yang tepat saja.


"Terserah kamu saja, Ste. Aku hanya berharap kamu dan Juan baik-baik saja. Bisa menghadapi badai yang mungkin tidak lama lagi akan menghadang kalian," ucap Rehan kala itu.


"Aku belum menemukan waktu yang tepat, Re. Kamu lihat sendiri kan Re, dia begitu bahagia memiliki Berliana," jawab Stella dengan senyum manisnya.


"Aku tahu, Ste. Tapi mau nggak mau kamu harus segera memberitahu dia. Agar, Zein tidak memanfaatkan waktumu untuk menghasut Juan," tambah Rehan.


Stella paham dengan maksud sahabatnya ini. Mengerti dengan apa yang Rehan sampaikan. Namun, sekali lagi... melihat senyuman Juan, hati Stella serasa tercabik. Tak sanggup rasanya jika harus menghapus senyum itu. Rasa takut kehilangan yang tertancap di hati Stella sangat tinggi, hingga memunculkan rasa tak ingin menyakiti.


Rehan paham dengan itu. Sebab, ia juga bisa merasakan bahwa cinta Stella dan Juan nyata adanya. Cinta itu sudah tubuh subur di hati keduanya dan Rehan berharap, cinta itu akan selalu kuat meskipun badai menerjang.


"Kamu tahu bagaimana Zein, Ste. Aku yakin saat ini dia pasti sudah mencari tahu kebenaran tentang anakmu. Bersiap-siaplah menghadapinya! Jangan anggap remeh dia! Kamu tahu bagaimana Zein, Ste!" tambah Rehan lagi, suara pria ini terdengar getir. Seperti sedang menyimpan kekhawatiran yang teramat sangat.


Stella tersenyum kecut. Lalu ia pun menjawab, "Nggak pa-pa, Re. Aku dan Juan pasti bisa menghadapi dia. Aku yakin cinta kami kuat. Kami tulus saling mencintai. Entahlah, aku hanya yakin saja, jika Zein tak akan mampu memisahkan kami. Apapun alasannya, aku tak akan berpaling dari Juan," jawab Stella yakin.

__ADS_1


Rehan sedikit lega dengan jawaban Stella. Meskipun ada sedikit kekhawatiran melanda hatinya.


"Aku hanya hawatir saja, Ste. Hubungi aku jika kamu membutuhkan bantuan. Aku tak takut kehilangan pekerjaan. Dan aku sudah berjanji pada hatiku, jika dia bikin ulah, maka lebih baik aku mundur dari pekerjaan ini, Ste. Aku tak sanggup bertahan dengan pria egois seperti dia." Rehan menatap kosong pada lantai yang ia pijak. Mengisyaratkan bahwa ia sebenarnya sayang pada persahabatan mereka. Hanya saja, sikap egois Zein sulit untuk Rehan terima.


"Aku baik-baik saja, Re. Meskipun dia tahu bahwa Berliana adalah anak kandungnya, tapi secara hukum dia tetap anak Juan. Bukan hanya hukum, secara hati ia juga putri Juan. Dia yang menjaga Berliana selama ini dan aku yakin Juan bukan orang bodoh yang akan menyerahkan putrinya pada pria egois seperti Zein," balas Stella. Senyum mengembang begitu manis di bibir Stella. Sebab, ia yakin dengan apa yang ia ucapkan.


Bukan hanya Stella yang tersenyum, Rehan pun ikut tersenyum. Tampak jelas, bahwa Stella telah jatuh cinta pada Juan.


"Apa hatimu milik Juan sekarang, Ste?" pancing Rehan.


Stella mengangguk dan tersenyum.


"Terima kasih, Re. Terima kasih banyak atas doanya." Stella meremas slimut yang menutup kakinya.


"Jika kamu butuh bantuan untuk meluruskan masalah ini, aku siap membantumu, Ste. Hubungi saja aku, kapanpun kamu membutunkanku. Jangan sungkan!" tambah Rehan tulus.


"Terima kasih atas kebaikan hati dan juga pengertianmu akan posisiku. Aku di pihak yang benar dan aku yakin aku pasti bisa menang melawan pria itu," jawab Stella yakin. Senyum mengembang di antara bibir dua sahabat ini. Kemudian, setelah Juan datang dari ruangan bayi, Rehan pun berpamitan untuk kembali ke Jakarta.


***

__ADS_1


Suasana di tempat kerja Rehan mulai berasa tak nyaman. Zein mendiamkan pria ini. Bahkan, Rehan seperti tak dianggap ada oleh pria ini. Zein lebih memilih menyuruh atau meminta bantuan pada sekertaris barunya. Tentu saja ini membuat Rehan merasa diremehkan.


Pagi ini, seperti biasa. Rehan sedang mengecek jadwal Zein. Merapikan berkas yang harus di tanda tangani oleh Zein. Dengan sikap profesionalnya, Rehan pun beranjak dari ruang kerjanya dan berjalan menuju ruangan Zein.


Namun sayang, langkahnya terhenti oleh senyuman sinis Ardi, asisten baru Zein.


"Bos ada?" tanya Rehan santai.


"Katanya asisten lama, kok bosnya pergi nggak tahu. Aneh!" jawab Ardi sinis.


Pergi? Pergi ke mana? Astaga, Jangan-jangan, tebak Rehan dalam hati. Ekpresi Rehan di luar ekspetasi Ardi. Pria ini langsung mencengkeram kerah baju pria penjilat ini.


"Brengsek! Katakan ke mana pria itu pergi?" tanya Rehan penuh amarah.


"Santai, Bro santai. Elu tahu kan, bos udah nggak butuhin elu lagi. Mending elu cabut deh! Nggak peka banget sih!" balas Ardi, santai namun sangat menusuk hati.


Rehan melepaskan kasar tubuh Ardi dari cengramannya, lalu ia pun membalas, "Tanpa elu minta, gue juga bakalan hengkang dari tempat bangsat ini. Elu nggak tahu apa-apa, jadi jangan sok tahu," jawab Rehan. Tanpa menunggu balasan dari Ardi, Rehan pun beranjak dari tempat panas ini dan memilih kembali ke ruangannya. Untuk mencari tahu ke mana Zein pergi.


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih buat para fans setia Stella dan Juan. Semoga Juan nggak kehasut ama Zein ya gaes. Like like like n komen jangan lupa, biar Emak rajin update🥰🥰🥰🥰


__ADS_2