PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Feeling


__ADS_3

Perbincangan Stella dan Vita tak sengaja didengar langsung oleh Juan. Yang saat itu sedang menuruni anak tangga untuk makan malam. Tetapi, Juan tak ingin terlalu ikut campur urusan para wanita.


Dengan santainya ia pun menghampiri kedua kakak beradik itu dan menyapanya.


"Malam!" sapa Juan.


"Malam juga, Bang. Abang kapan datang?" tanya Vita bingung.


"Abangmu udah di rumah dari siang, Vita. Tadi siang dia kurang enak badan," jawab Stella sembari tersenyum manis untuk kedua orang yang sangat ia sayangi itu.


"Ohhh! Sorry, Vita nggak tahu, Bang." Vita terkekeh.


"Iya, ni. Sejak kakakmu mengandung, abang sering ngrasa nggak enak badan. Kata si Gani, Abang ni kena sindrom kehamilan. Atau apalah itu, intinya abang yang ngidam. Jadi cepet capek, suka mual tiba-tiba kalo bau-bau parfum, sabun sampo. Jangan tersinggung ya kalo abang pakek masker," jawab Juan sedikit terdengar parau. Sepertinya dia memang tidak pura-pura dengan apa yang ia rasakan.


Vita tertawa lirih. Karena ini memang sesuatu yang baru baginya. Lucu saja.


"Seru kan punya suami begini. Hamil pun dia nyang teler!" Stella ikutan terkekeh.


"Kejam kalian! Astaga!" Juan melipat kedua tangannya dan menjadikan tangan itu sebagai bantal.


"Eh tunggu! Pantesan aku nggak pernah lihat kakak mabuk. Ternyata, Abang to yang teler," ucap Vita, kali ini ia tak lagi tersenyum. Tetapi langsung tertawa lepas. Membuat Stella mendekati sang suami dan mengelus kepalanya, sayang. Sedangkan Juan langsung memeluk perut sang istri dan menyandarkan kepalanya di sana. Terlihat sangat manja. Membuat siapapun yang melihatnya menjadi iri.


"Papi mau makan apa?" tanya Stella lembut.


"Papi lagi nggak pengen apa-apa, Mam. Pengen bobo terus ditemenin," jawab Juan manja.


Astaga! Terang saja jawaban itu membuat Stella malu. Terlihat jelas bahwa Juan sangat manja padanya. Membuat Vita cengar-cengir.


"Ya nggak boleh gitu lah, Pi. Kan harus makan. Nanti kalo papi sakit gimana? Siapa yang jagain Mami, Liana dan calon baby kita," bujuk Stella dengan kasih sayangnya. Masih setia mengelus kepala yang kini bersandar di perutnya.


"Baiklah, tapi dikit aja ya," nego Juan pasrah.

__ADS_1


"Oke!" jawab Stella enggan bersitegang.


Juan melepaskan tangannya dari tubuh sang istri, kemudian Stella pun segera menyiapkan makan untuknya.


Sembari menunggu sang kakak menyiapkan makan untuk suaminya, Vita pun mengajak Juan berbincang.


"Bang, Vita boleh tanya nggak?" ucap Vita membuka obrolan.


"Apa, tu!" jawab Juan singkat.


"Vita penasaran sama hubungan bang Zein dengan Safira deh, Bang. Vita nggak tahu sih sebenarnya, temen Vita cerita, tapi aneh aja menurut Vita," ucap Vita apa adanya.


Juan tersenyum lucu. Aneh saja, bukankah mereka pernah membicarakan perihal Zein waktu di Belanda. Kenapa Vita baru nanya masalah ini di Batam.


"Hari itu kita bahas Zein, kamu nggak nanya. Kok sekarang tiba-tiba kepo?" pancing Juan lucu.


"Vita baru dapat beritanya pas nyampek sini, Bang. Teman-teman Vita yang sekantor dulu pada bilang kalo Zein sekarang ikut orang, terus katanya udah ketemu sama keluarga kandungnya. Kepo banget ya mereka," jawab Vita sembari menggerutu kesal.


"Dih! Abang. Vita kan cuma mau memperjelas jelas kabar yang Vita dengar. Biar nggak simpang siur. Kan abang sahabatnya, ye kan!" Vita mencebikkan bibirnya kesal.


"Iya, Zein sekarang ikut sama orang. Dia nggak mau terikat dengan perusahaan keluarganya. Intinya dia mau mandiri. Begitu! Soal hubungan Zein dan Safira, mereka saudara kembar," jawab Juan tanpa menutupi apapun.


"Apa!" pekik Vita dan Stella bersamaan.


Terang saja, Vita dan Stella terkejut. Ternyata mereka banyak sekali ketinggalan berita.


"Papi serius?" tanya Stella.


"Abang jangan fitnah, Bang! Ini masalah serius, Bang. Please jangan becanda!" ucap Vita sedikit kesal. Ia pikir Juan bercanda dan candaan ini menurutnya sangat Keterlaluan.


Juan mengerutkan kening aneh. Menurutnya dia wanita yang kini menyerangnyalah yang aneh.

__ADS_1


"Kalian ini, dibilangin malah nuduh macem-macem. Kalo nggak percaya tanya aja sama Zein, kalo nggak sama Fira. Kan kamu temenan ama dia," jawab Juan kesal.


Vita dan Stella kembali saling menatap. Tentu saja ini adalah kabar yang sangat membingungkan buat mereka berdua. Kenapa bisa sekebetulan ini. Menurut mereka ini sangat-sangat tidak lucu.


"Dunia ini ternyata sempit ya, Kak," ucap Vita heran.


Stella duduk dan menatap sang suami heran. Kenapa baru sekarang ia cerita hal sepenting ini.


"Kenapa Mami ngliatin Papi kek gitu, ada yang salah?" tanya Juan.


Stella menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti sedang berusaha mengerti kenyataan aneh yang sedang ia hadapi.


"Kok Papi diam aja sih, Mami jadi merasa bodoh ini, Pi," ucap Stella.


"Ngapain ngerasa bodoh, bukankah Mami sendiri tadi yang bilang, nggak mau kepoin mantan. Papi adalah prioritas Mami saat ini. Kok sekarang bilang begitu?" sekak Juan.


"Bukan begitu maksud Mami, Pi. Tapi kalo kita tahu setidaknya kita kan hati-hati." Stella menatap Vita, berusaha mencari dukungan akan pemikirannya.


"Iya, Bang. Kan Abang tahu, kalo Vita sahabatan sama Fira. Kalo tiba-tiba Vita keceplosan, ngomongin si Zein ama dia, gimana? Kan jadinya masalah nanti, Bang. Bener kata kakak, kalo kita tahu jadinya kita bisa hati-hati," tambah Vita.


Juan malah tersenyum. Sebab baginya, kedua wanita yang ada di depannya ini sama-sama aneh. Tadi bilangnya nggak mau kepo soal Zein. Sekarang antusias.


"Iya, terserah kalian aja. Sekarang kan udah tahu. Jadi jangan tanya-tanya lagi. Kalo mau lebih jelasnya, tanya ama Zein apa ama Firanya sendiri. Abang kan orangnya diam, tampan, nggak mau ikut campur urusan orang. Kan!" Juan tersenyum meledek. Meledek kedua wanita yang terlihat masih bingung dengan kenyataan yang ada.


"Udahlah, Papi makan aja. Mami temenin. Vita mau makan nggak?" Stella menyerahkan sepiring nasi dan lauk untuk sang suami.


"Nggak, Kak. Vita jadi nggak napsu gini. Ahhh, entahlah. Pusing Vita dengan kenyataan ini," jawab Vita setengah tak nyaman.


Juan tertawa, malas meladeni kekonyolan adik iparnya. Tapi, Juan mengerti. Sebab feeling Juan mengatakan pasti ada sesuatu antara adik ipar dengan sahabatnya itu. Entah Vita sadari atau tidak.


Bersambung...

__ADS_1


Makasih atas like komen dan kesetiaan kalian🥰🥰🥰


__ADS_2