PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Pilihan Terbaik (end)


__ADS_3

Vita dan Safira sepakat untuk tidak larut dalam masalah yang saat ini sedang terjadi antara keluarga mereka. Vita dan Safira berjanji untuk selalu berkirim kabar antara mereka. Mereka berjanji tidak akan mencampurandukkan masalah yang terjadi antara keluarga dengan masalah pribadi antara mereka.


Namun mereka juga membatasi apa yang harusnya boleh mereka bicarakan dan mana yang tidak boleh membicarakan. Sebab, Vita sendiri ingin menjaga batasannya perihal pria lain. Saat ini dan seterusnya ia hanya ingin mengabdi pada Luis. Pada pria yang telah memperjuangkannya.


Vita tak mau lagi menjadi wanita jahat yang menyimpan nama pria lain di dalam singgasana hatinya. Luis sudah banyak berkorban untungnya. Sampai dia rela, masuk ke dalam keadaan antara hidup dan mati.


Sedangkan Safira sendiri juga tak ingin menyakiti hati kedua orang tuanya. Wanita ayu yang kini sedang dimabuk asmara itu juga, tetap berhati-hati menjaga sikap. Hati-hati menjaga bicara. Jangan sampai menyinggung keluarga Vita. Karena dia tahu, kedua orang tuanya tidak menyukai itu dan dia tidak bisa memaksa orang lain jika tidak suka.


"Pokoknya anggap saja kita masih di Sydney, Wak!" ajak Safira sambil terkekeh senang.


"Kayaknya begitu lebih baik, Wak. Meskipun sekarang jarak memisahkan kita, tapi aku nggak akan nglupain kamu, Wak. Aku minta maaf ya, udah bikin abang kamu jadi kayak gitu. Kalo butuh bantuan, kamu kabarin aku aja, Wak!" jawab Vita serius.


"Sudah, kamu nggak usah mikirin abang aku. Dia begitu karena pilihannya sendiri. Kamu do'ain aja semoga abang segera sembuh. Dan bisa bertemu dengan jodohnya," balas Safira sesuai harapan yang ia inginkan.


"Pasti, Wak. Mau bagaimanapun abang kan udah kek abangku sendiri. Cuma... entahlah Wak, aku sendiri juga nggak ngerti. Kenapa jadi suka sama abang. Aneh aku kan ya? Padahal, udah tahu abang itu mantan ipar. Ah, sudahlah, Wak. Sekarang ada Luis yang butuh aku. Aku nggak mau ngecewain dia. Dia juga pria super baik yang Tuhan kirim untukku." Vita mencoba tidak menangis. Tapi jika mengingat dua pria itu, rasanya Vita susan sekali memilih.


"Sabar, Wak! Semoga laki lu cepet pulih juga. Biar kalian cepat dapet momongan. Sebenarnya kita sama lagi, Wak. Biar punya laki, aku juga tetap aja tidur sendiri. Lu kan tahu, laki gue nemenin abang di ono. Kecut Wak hidup gue, kecut," jawab Safira sedikit kesal.


Vita tersenyum. Karena sang sahabat sudah tak malu-malu lagi menunjukkan bahwa dirinya membutuhkan sang suami yang sempat ia tolak.


"Perjalanan hidup kita lucu ya, Wak. Ahhh, semoga setelah ini hidup kita lebih baik. Semua bisa kembali sehat seperti sedia kala!" ucap Vita berharap.

__ADS_1


"Iya, biarin aja lah, Wak. Yang penting kita nggak menyalahi aturan. Kita ikhlasin aja. Ntar juga ada aja jalan!" Safira tersenyum. Vita pun sama.


Sebenarnya mereka masih mau bercengkrama. Namun, terdengar suara tangis Naya mencari ibunya. Mau tak mau, Safira harus mengakhiri panggilan teleponnya. Begitupun Vita. Ia harus kembali ke kamar untuk melihat apakah sang suami membutuhkan sesuatu atau tidak.


***


Stella dan Juan tersenyum bahagia. Karena kabar yang ia terima hari ini adalah kabar yang telah lama mereka nanti. Kedua orang tua Zein telah memutuskan untuk mencabut tuntutan mereka agar Stella dan Juan mau melakukan tes DNA atas Berliana.


Dengan senyum yang masih mengembang sempurna, Stella pun memeluk dan mencium sang suami.


"Mami nggak tahu mesti bilang apa sama Papi. Tapi Mami bahagia bisa menjadi istrimu, Pi!" ucap Stella dengan senyum termanisnya.


"Papi juga. Papi juga bahagia bisa menikah denganmu, Mam. Papi merasa hidup Papi jadi lengkap, karena ada kamu, Jangan tinggalin, Papi lagi ya, Mam!" pinta Juan sembari memeluk erat sang istri.


"Pi,"


"Hemm!"


"Kita udah ada anak ya, Pi!" Stella tertawa pelan.


"Mau nambah lagi, Mi?" Juan terkekeh.

__ADS_1


"Dih! bukan! Bekas operasi aja masih berasa, Pi. Masak iya suruh hamil lagi. Jangan gitu lah, Pi!" Stella cemberut.


"Loh, Papi kan cuma nanya. Kalo mau, boleh banget. Papi siap siang malam, pokoknya. Kapan aja Mami mau, Papi siap," ucap Juan dengan wajah meledek tanpa dosa.


"Astaghfirullah, Papi. Anda luar biasa sekali. Papi tu gesrek banget sih jadi orang. Ngeselin tahu nggak! Mami tu tadinya mau ngajak Papi mengenang masa lalu kita. Pengen inget-inget lagi perjalanan cinta kita. Dari pertama kita ketemu. Dari Papi paksa Mami menikah. Lalu, pas Mami hamil Liana suka pakek baju, Papi. Suka barang-barang Papi. Dari baju, bantal, guling, parfum Papi, bau keringat Papi. Pokoknya semua barang yang berbau, Papi. Mami suka," ucap Stella sembari menatap langit-langit kamarnya. Dengan ekpresi sumringah.


Sedangkan Juan hanya tersenyum sembari memerhatikan sang istri menunjukkan ekpresi kebahagiannya.


"Ih, Papi. Napa cuma senyum doang?" tanya Stella kesel.


"Habis Papi suruh ngapain? Mami kan suka kalo Papi cuma dengerin. Ini udah dengerin," jawab Juan santai.


Senang dengan jawaban sang suami. Stella pun langsung memeluk dan menciumi seluruh wajah pria yang selalu memberinya kebahagiaan ini. Sungguh, Stella tidak menyesal terjerumus ke dalam penjara cinta milik Juan. Sungguh Stella bahagia berada di dalam penjara cinta tersebut. Karena di dalam penjara itu, dia dimanja, dia dicintai, dia disayang. Bahkan diratukan.


Sungguh, jodoh adalah sebaik-baiknya teman yang bisa mengayomi. Mencintai. Melindungi. Dan tak akan pernah meyakiti. Sekalipun dia dalam keadaan susah.


End


Hay teman-teman yang baik nan budiman, Terima kasih banyak udah mau mengikuti kisah cinta Stella n Juan yes... Terima kasih yang udah suka. Cerita mereka aku tutup sampai di sini ya geng🥰🥰🥰 Maaf kalo cerita Juan n Stella tak sesuai dengan ekspetasi kalian. Masih banyak typo bertebaran dan yang lainnya. Pokoknya kalian semua terbaik😘😘😘


Eith.... jangan beranjak dulu, karena Emak yang cantik nan baik ini akan memberikan bonus chap yang menceritakan tentang Lutfi n Safira Dan juga cinta segitiga antara Vita, Kuis n Zein... Semoga kalian suka😘😘😘

__ADS_1


Stay Tune🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳


__ADS_2