
Tiga hari berlalu sejak pertemuan pertama mereka di restoran itu. Zein memilih menyewa hotel di Singapura. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan, ia ingin melihat kekasih pujaan hati setiap hari. Setiap waktu. Setiap menit. Setiap detik yang ia inginkan.
Zein begitu bodoh karena cinta. Zein begitu tuli karena rasa. Bayangkan, demi seseorang yang tidak mungkin ia miliki, dia rela menghabiskan uangnya hanya untuk menuruti kata hatinya yang sebenarnya malah menjerumuskannya ke lubang neraka.
Zein sama sekali tidak menyadari kebodohannya. Nyatanya, wanita yang ia kejar itu masih sah milik orang lain.
Anehnya, ketika ada yang bertanya... apa yang sedang ia lakukan? Maka ia hanya menjawab, aku hanya ingin melihat senyumnya, itu saja. Dan ini semua orang yang membaca ceritanya, pasti akan mengatakan bahwa Zein sudah gila. Tidak waras dan plin plan.
Bagaimana tidak? Dia lupa, siapa yang ada di sampingnya ketika dia terpuruk. Siapa yang membantunya kembali berjalan ketika ia berjuang untuk bisa kembali menginjak bumi? Zein lupa, pada wanita yang setia mengelap peluhnya ketika dia merasakan sakit saat terapi itu. Ya, Zein memang lupa.
Apakah ini karena cinta? Entahlah... Hanya Zein sendiri yang bisa menjabarkan apa yang sebenarnya ia inginkan. Yang jelas, saat ini ia hanya ingin melihat wanita yang terus ditanyakan oleh hatinya itu tersenyum. Wanita yang diinginkan oleh hatinya itu bahagia. Ya, kebahagiaan untuk wanita itu, itu kata hati seorang Zein.
Bukankah ini aneh, mereka hanya bertemu, namun sudah bisa menghapus rindu. Hanya bertatap mata, namun bisa menghapus segala luka. Hanya saling bertegur sapa, namun bisa menghempaskan seluruh derita. Seperti itulah yang saat ini dirasakan oleh Zein dan Vita.
Ya, Zein dan Vita tidak menungkiri, bahwa saat ini mereka bahagia dipertemu lagi. Walau pun secara raga mereka masih bisa menjaga batasan. Namun, hati ... mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang menyukut api.
Terbukti, saat ini mereka sedang duduk berdua di taman rumah sakit di mana Luis dirawat.
Beberapa kali mereka saling lirik. Lalu tersenyum. Vita lupa, bahwa ada Luis yang tersiksa di sana. Zein lupa bahwa ada wanita yang kini sedang gelisah menunggunya pulang. Menunggunya memberi kabar. Menunggunya memberi kepastian.
"Abang kok tahu Uis dirawat di sini? Fira ya cerita?" tanya Vita basa-basi.
"Bukan! Lutfi yang kasih tahu. Kenal kan ama suami Fira?" Zein kembali melirik wanita pujaan hati.
__ADS_1
"Oh, iya. Kenal sih. Dia asisten, Abang, kan?" tanya Vita lagi.
"Bukan juga sih sebenarnya, aku bukan bos besar kek dulu. Aku dan dia, kami lebih seperti membangun bisnis bersama. Bisnis keluarga," jawab Zein merendah.
"Bukan bos besar konon, Vita tahu, Bang, brand Abang sekarang udah masuk kancah internasional ... Ilih, merendah. Ntar rezekinya diambil lagi sama Allah tahu rasa, Abang!" jawab Vita sembari tersenyum manja.
"Weh, kalo bisa ya jangan dong. Masih banyak yang butuh rezeki itu kok," jawab Zein santai.
Vita kembali melirik pria tampan di sebelahnya, rasanya adem saja melihat pria dengan lesung pipit yang tampan ini. Kalau boleh berkata jujur, Vita sedikit merasakan kejanggalan akan sikap Zein kali ini. Pria ini lebih banyak tersenyum. Tidak seperti biasa. Yang akuh dan bermulut pedas. Zein yang Vita temui sekarang lebih lembut dan suka tertawa. Entahlah, mungkin ini hanya perasaan Vita saja.
Setali tiga uang dengan Vita, Zein juga merasakan hal yang sama. Zein menangkap penampilan Vita berubah dibanding pertemuan pertama mereka di restoran. Saat itu, Vita terlihat lebih kurus dan pucat. Sekarang lebih segar dan entahlah, mungkin ini hanya perasaan Zein saja. Atau, memang itu kenyataannya.
"Abang kok lama di sini, emang belum selesai eventnya?" tanya Vita, sebab pertama kali bertemu, Zein memang mengatakan pada Vita bahwa dia harus menghadiri beberapa Event dan juga beberapa partner kerjanya.
"Suasana baru? emang Jakarta ama Singapur apa bedanya. Lampu-lampunya sama kan?" jawab Vita sedikit meledek.
"Sama sih, tapi di Jakarta nggak ada sesuatu yang aku cari. Adanya malah di Singapur," jawab Zein, kali ini dia jujur. Sejujur-jujurnya.
Namun, jawaban itu tentu saja tidak langsung bisa ditangkap oleh Vita. Sebab menurutnya Zein aneh.
"Abang lagi cari model?" tanya Vita.
"Bisa dikatakan begitu." Zein menatap pada bunga-bunga yang kini dihinggapi beberapa kupu itu.
__ADS_1
"Cowok tampan ma seleranya lain ya, ck ck ck.... dah ah. Sorry, Vita nggak bisa lama-lama nemenin, Abang. Vita mesti masuk ke dalam. Takut Luis sadar, terus nyariin Vita," ucap Vita berpamitan. Ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Oke! Abang juga mesti ketemu orang. Kamu baik-baik ya, salam buat Juan atau Ste kalau ke sini," jawab Zein. Basa-basi, sebenarnya ia enggan ditinggal oleh wanita itu. Namun, ia juga tak mungkin mencegah. Mau bagaimanapun, Luis lebih berhak atas Vita di banding dirinya.
Sekali lagi, Zein sadar bahwa dia hanya diperbolehkan mengagumi. Tidak boleh memiliki.
Zein terus menatap kepergian sang kekasih hati sampai wanita itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Zein masih terdiam membisu di tempatnya semula. Merasakan sesuatu yang aneh. Merasakan ada yang kurang dari dirinya. Entahlah, rasanya gelisah saja. Padahal ketika ia bersama Vita tadi, semua terasa aman. Semua terasa sempurna.
Namun, ketika wanita itu hilang dari pandangannya, rasa hambar pun menyerang. Zein kembali merasa kesepian. Zein kembali merasa hidupnya teremas oleh kesedihan. Entahlah, Zein hanya tahu, bahwa saat ini dia sedang berada di atas jembatan keraguan.
Sedetik kemudian, ia merasakan ponselnya bergetar. Dengan cepat, ia pun segera merogoh ponsel itu. Siapa tahu yang menghubunginya Vita lagi. Mau meminta bantuan mungkin. Namun, harapan pemikirannya itu ternyata salah. Yang menghubunginya adalah Zi. Wanita yang kini sedang ia hindari, tetapi tidak bisa juga ia lepaskan.
***
Di sudut ruang yang lain, Zizi sedang merasakan kegelisahan yang luar biasa.
Entah mengapa ia merasa ada yang aneh dalam kehidupan rumah tangganya. Zein jarang sekali memberi kabar. Paling hanya menjawab sepatah dua patah kata ketika ia mengirim pesan untuknya.
Tak jarang, pria itu juga hanya membaca pesan yang ia kirim. Tentu saja perangai ini membuat Zizi merasa di abaikan.
Beberapa hari ini, Zein juga tidak pulang ke rumah. Walaupun dia bilang bahwa saat ini sedang di apartemen, Zi merasa bahwa Zein berbohong padanya. Entahlah, mengapa tiba-tiba saja ia merasa bahwa Zein tidak jujur padanya.
Untuk menuntaskan rasa penasarannya, selepas kerja nanti, Zi pun berniat untuk pergi ke apartemen milik suaminya itu. Zi hanya ingin memastikan apakah Zein memang ada di sana. Atau, Jangan-jangan feelingnya benar. Zi tak mau menerka-nerka. Ia harus memastikan sendiri, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria yang menikahinya itu?
__ADS_1
Bersambung...