
Pagi yang cerah, matahari telah hadir di tengah-tengah mereka. Cahaya mulai masuk ke dalam kamar di mana dua sejoli yang masih terlelap, tak menyadari jika hari sudah menjelang siang. Mereka masih saja terlena oleh kehangatan masing-masing.
Stella masih memeluk manja pria yang berhasil membuatnya resah itu. Masih terlelap dalam dekapan Juan. Menikmati aroma khas sang suami yang keluar dari dada Juan. Sejak sang suami datang dan memeluknya, Stella sama sekali tak berpindah posisi. Ia merasa cukup nyaman dengan posisi awal. Yaitu berada dalam pelukan pria yang ia rindukan.
Ketukan pintu akhirnya membangunkan mereka. Stella membuka mata terlebih dahulu. Kemudian Juan. Mereka saling menatap dan menyadari jika posisi mereka tidak seharusnya. Seketika Stella langsung menutup kerah bajunya yang sedikit terbuka dan menunjukkan keindahan dadanya. Dada yang tak sengaja Juan lihat tadi malam.
Melihat sang istri kurang nyaman dengan posisi mereka. Juan pun mengerti. Pria ini langsung beranjak dari ranjang sang istri, tanpa berkata apapun. Bermaksud agar Stella tak malu. Anti bagi Juan untuk mengungkit yang telah terjadi antara mereka. Entah itu mereka sengaja atau tidak.
Juan langsung melangkah menuju pintu. Membukakan pintu untuk seseorang ya g berani mengetuk pintunya.
"Ada apa?" tanya Juan pada pria yang berdiri rapi di depan pintu kamarnya itu.
"Maaf, Bos. Kita harus berada di kantor pagi ini. Perwakilan dari Jakarta sudah sampai dan menunggu Bos," ucap seseorang itu, yang di ketahui adalah asisten pribadi Juan.
"Kenapa nggak telepon?" tanya Juan kesal.
"Maaf, Bos. Ponsel Bos nggak bisa dihubungi!" jawab pria itu lagi sambil menilik kamar Juan.
"Jangan melihat ke dalam, Bodoh. Istriku masih tidur," hardik Juan.
__ADS_1
Sang asisten tersenyum, sambil menahan tawa. Paham, jika Juan tak akan mengizinkan siapapun memandang wajah polos istrinya. Hanya dia yang berhak dan sang asisten malah meledek.
"Tunggu tiga puluh menit, bilang mbaknya sarapan untuk kami tolong bawa ke atas aja. Sepertinya istriku sedang tak enak badan!" ucap Juan. Tanpa menungu jawaban, Juan pun langsung menutup kembali pintunya. Kemudian ia kembali menghampiri Stella yang masih belum mau beranjak dari pembaringan.
Duduk di sisi sang istri dan dengan penuh kasih sayang pria ini pun mengelus perut buncit Stella.
"Ada yang dirasa tak nyaman, nggak?" tanya Juan. Bukannya menjawab, Stella malah kembali mengeluarkan air matanya. Mendiamkan sang suami. Memunggunginya, sepertinya masih marah.
Astaga, wanita ini. Ditanya salah, didiemin apa lagi, batin Juan bingung. Pria ini pun kembali merebahkan tubuhnya dan memeluk serta menempelkan wajahnya di punggung sang istri.
"Kenapa sih maminya baby hemm?" tanya Juan dengan sikap manisnya.
"Kok, Papi didiemin. Salah Papi apa, hemm?" tambah Juan, seraya menaruh dagunya di lengan wanita hobi ngambek tersebut.
"Kalau nggak jawab, Papi gigit ni lengannya!" ancam Juan manja. Benar saja beberapa kali Juan mengigit manja lengan kurus Stella. Stella masih diam. Wanita ini sama sekali tak mengaduh. Karena gigitan itu memang tak terasa sakit sedikitpun.
"Mam, coba bilang. Kenapa Mami ngambek gini? Kan Papi nggak ngerti kesalahan Papi di mana? Kasih tahulah!" rayu Juan, sambil menciumi manja punggung sang istri.
Stella membalikkan tubuhnya. Terlentang menghadap sang suami. Sedangkan Juan masih miring sembari memeluk tubuh wanita cantik ini.
__ADS_1
"Coba bilang, maminya baby kenapa ngambek?" tanya Juan. Stella menatap Juan, pun sebaliknya. Juan mengelus pipi sang istri berharap wanita ini mau mengungkapkan apa yang ia rasakan.
"Jangan pulang malam! nggak boleh!" pinta Stella pelan, namun Juan masih bisa mendengar dengan jelas ucapan itu.
Seketika pria ini pun tersenyum, melirik manja sang istri. " Maaf, semalam temen Papi datang dari Jakarta. Hari itu pas dia nikah, Papi nggak sempat dateng. Masak dia udah jauh-jauh datang Papi nggak jamu," ucap Juan jujur.
"Setidaknya telepon dulu," sanggah Stella.
"Udah, Papi udah kasih tahu mbaknya. Suruh bilang Mami kalau Papi pulang malam," tambah Juan.
"Tapi mbaknya nggak bilang, Mana aku tahu," balas Stella.
"Kata mbak, Mami nggak keluar kamar. Dia tahunya Mami dah tidur. Makanya Mami mau dipegangin handphone, biar kalau ada apa-apa, Papi gampang ngabarin. Begitupun sebaliknya. Kalau ada apa-apa sama Mami juga gampang ngabarin, Papi. Mau ya Papi beliin handphone ya!" tawar Juan.
"Iya deh!" jawab Stella sembari menghapus sisa air matanya.
Sekarang Juan paham, kenapa wanitanya merajuk. Kenapa wanita yang susah mengungkapkan isi pikirannya ini marah. Sebab semalam Juan pulang malam dan tak memberinya kabar.
Selesai menenangkan sang istri, Juan pun bersiap. Hari ini ada rapat penting. Semalam sahabatnya datang, ingin mengajaknya membangun bisnis bersama.
__ADS_1
Bersambung...