
Terdengar bisikan yang sedikit membuat Vita agak ragu untuk melanjutkan pernikahannya dengan Luis. Namun, ia juga tak bisa membiarkan Luis masuk ke dalam lubang kesakitan. Apa yang telah Luis perjuangkan untuknya tak bisa di anggap sepele. Vita bukan manusia yang tak tahu balas budi.
Luis sudah banyak berkorban untuknya. Demi cinta, Luis rela menempuh perjalanan jauh dari Paris ke Belanda. Menunggu balasan cinta darinya lebih dari tiga tahun. Melawan keluarganya demi menikahinya. Lalu, haruskan Vita membalas itu semua dengan penolakan? Rasanya itu tidak mungkin. Vita tak tega.
Selepas pertemuan dengan sang calon suami hari ini, Vita pun memutuskan untuk tetap melanjutkan hubungan ini. Pernikahan ini. Membiarkan dirinya mencoba. Membiarkan dirinya berusaha. Meskipun nanti pada akhirnya ia gagal, Vita tak masalah. Tak mau terlalu memusingkan itu. Yang penting baginya, ia tidak melukai Luis untuk saat ini. Tidak membuat Luis kecewa. Tidak membuat pria itu hilang kepercayaan padanya. Sebab ia tahu, Luis pasti membutuhkan dorongan dan suport darinya. Untuk tetap bisa percaya pada kekuatan cinta dalam sebuah ketulusan. Vita berharap, bisa membalas apa yang Luis pernah lakukan untuknya.
Vita duduk termenung sambil melihat foto prewedding antara dirinya dan sang calon suami. Gadis ini mengamati foto tersebut dengan seksama.
Terlihat jelas, saat itu, jika Luis sedang dalam masalah. Senyumnya sangat dipaksakan. Vita akhirnya tak jadi marah. Sekarang malah berubah kasihan.
"Maafkan aku, Luis. Karena sempat berpray buruk terhadapmu. Maafkan aku," ucap Vita sambil mengusap lembut foto Luis yang ada di galeri ponselnya. Di sana Luis terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo yang menawan.
"Jangan menyerah, Luis! Aku yakin, kita pasti bisa meluluhkan hati oma. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mendukungmu. Seperti aku berjuang untuk mencintaimu," ucap Vita lagi.
Kini, tak terasa, air mata gadis ayu ini meluncur begitu saja. Karena ia tak menyangka bahwa pernikahan yang telah direncanakan itu, nyatanya telah nampak sebuah duri tanjam yang menancap pada hubungan yang belum di mulai ini. Namun, apapun yang terjadi, Vita sudah berjanji akan tetap menemani Luis sampai Luosy sendiri yang memintanya pergi.
***
__ADS_1
Di lain pihak, Zein marah besar ketika tahu apa yang telah dilakukan oleh keluarganya terhadap rumah tangga Stella dan Juan. Apa lagi saat ini Stella sedang hamil tua. Tentu saja ia tak ingin mantan istrinya sekaligus ibu dari putrinya itu stres dan akhirnya membuat kesehatannya terganggu.
Untuk menyelesaikan masalah ini, Zein pun memutuskan untuk terbang ke Batam. Zein ingin meluruskan masalah ini. Menjelaskan kepada kedua orang tuanya agar tidak mengusik keluarga itu. Karena, jika sampai terjadi sesuatu pada keluarga itu, maka yang kena imbas adalah putrinya.
Berliana pasti akan ikut merasakan sakit jika sampai kedua orang tuanya memiliki masalah. Karena bagi Zein, yang terpenting untuknya adalah kesehatan jiwa dan raga sang putri.
Kini Zein telah berada di rumah kedua orang tuanya. Tak menunggu waktu lagi, ia pun segera menemui mereka di ruang kerja sang ayah.
"Zein! Kapan kamu sampai? Kenapa nggak bilang kalo mau pulang?" tanya Laskar sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Oke, oke!" jawab Laskar. Kemudian ia pun memutuskan untuk kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Kamu belum jawab pertanyaan, Papa. Kapan kami datang? Kenapa nggak bilang-bilang kalo mau pulang? Zein sedang ada masalah kah?" tanya Laskar mengulang pertanyaan yang belum sempat Zein jawab.
"Zein baru saja sampai, Pa. Maaf kalo Zein nggak kasih kabar Papa atau mama terlebih dahulu. Tetapi, Zein yakin Papa pasti sudah tahu maksud kedatangan Zein kali ini," ucap Zein, kali ini sudah masuk dalam mode serius.
"Papa hanya ingin hak kamu, Zein," jawab Laskar. Karena ia sudah paham dengan apa yang dimaksud sang putra.
__ADS_1
"Papa nggak tahu apa-apa tentang aku dan mantan istriku. Zein harap, Papa tidak mengusik kehidupannya. Bukan Zein tidak mau bertanggung-jawab, Pa. Tetapi ada sesuatu yang harus Zein jaga. Jadi Zein mohon, tolong jangan usik mereka!" pinta Zein memohon.
Sayangnya, permintaan Zein kali ini malah membuat jiwa keingintahuan Laskar meronta. Tentu saja alasan yang Zein utarakan tidak masuk akal. Bukankah perceraian itu biasa. Lalu apa salahnya jika ia atau Zein menjenguk anggota keluarga mereka. Darah daging mereka. Pemilik silsilah yang sah.
"Tunggu Zein! Kenapa kamu bilang, jangan mengusik mereka! Apakah mereka mengancammu atau menekanmu? Apakah mereka akan menyakiti putrimu, jika kamu melakukan sesuatu atau memaksa bertemu dengannya, ha? Coba katakan, kenapa mereka nggak mengizinkanmu bertemu dengan anakmu itu?" cecar Laskar.
Zein mengerutkan kening bingung. Bagaimana tidak? Menurut Zein, sang ayah berpikir terlalu jauh. "Bukan, Pa. Mereka Sa sekali tidak pernah mengancamku. Tapi mereka hanya ingin menjaga putriku. Agar tidak bingung nantinya." Zein terlihat bingung memilih kata untuk menyampaikan duduk permasalahan yang membelitnya kepada pria yang membuatnya masuk ke dalam masalah serumit ini.
"Lalu bagaimana? Kenapa Mereka melarangmu bertemu dengan putrimu? Ini tindakan keji, Zein. Cari pengacara! Biar Papa yang bayar. Enak saja, masak seorang ayah nggak boleh ketemu anaknya. Keji sekali merek!" ucap Laskar emosi.
"Astaga! Bukan begitu masalahnya, Pa. Stella dan Juan tidak seperti itu. Justru mereka tak mengizinkan Zein mengusik Berliana karena tak ingin membuat putriku bingung nantinya. Berliana masih kecil, Pa. Pola pikirnya masih belum seperti kita. Stella dan Juan takut, jiwa putriku menjadi labil dan di penuhi pertanyaan. Mereka hanya ingin menjaga itu. Mengertilah, Pa! Jangan mengusik mereka, Zein mohon!" ucap Zein ... sungguh, pria ini malah semakin bingung bagaimana menjelaskan duduk permasalahannya ini dengan sang ayah. Sebab Laskar terlihat sangat kolot dan membenarkan pemikirannya sendiri. Tanpa mau berpikir dan menilai sudut pandang orang lain.
Bersambung....
Makasih yang masih setia.. Yuk kepoin karya aku yang lagi berjuang dalam Event berbagi Cinta.. Kutunggu jejak kalian di sanaππ
__ADS_1